PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), maskapai penerbangan nasional, telah mengumumkan penyesuaian signifikan terhadap rencana penambahan modal. Skema yang dipilih adalah Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau yang dikenal sebagai private placement, dengan nilai total mencapai US$ 1,84 miliar atau setara Rp 23,67 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan rencana awal yang sempat direncanakan sebesar Rp 30,31 triliun.
Melalui aksi private placement ini, Garuda Indonesia akan menerbitkan sebanyak 315,61 miliar saham Seri D dengan nilai nominal Rp 75 per saham. Seluruh saham baru tersebut, yang akan menghasilkan dana segar senilai Rp 23,67 triliun, akan diserap sepenuhnya oleh PT Danantara Asset Management. Langkah strategis ini merupakan bagian integral dari upaya restrukturisasi GIAA yang berkelanjutan, dengan tujuan utama menyehatkan kembali kondisi keuangan perusahaan.
Manajemen Garuda Indonesia menegaskan transparansi dan kepatuhan dalam transaksi ini. “Direksi dan Dewan Komisaris perseroan, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama menyatakan bahwa transaksi afiliasi ini tidak mengandung benturan kepentingan sebagaimana dimaksud dalam POJK No. 42/2020,” demikian tertulis dalam prospektus private placement GIAA. Pernyataan ini memastikan bahwa seluruh proses dilakukan sesuai regulasi yang berlaku.
Implementasi restrukturisasi dan penyehatan GIAA ini telah mendapatkan persetujuan resmi, merujuk pada Surat Menteri BUMN No. S-373/MBU/06/2025 tanggal 23 Juni 2025 tentang Persetujuan Restrukturisasi dalam rangka Penyehatan Garuda, yang selanjutnya didasarkan pada Persetujuan Presiden No. B-299/M/D-1/HK.02.02/06/2025. Dukungan dari pemerintah ini menggarisbawahi urgensi dan pentingnya langkah restrukturisasi bagi keberlangsungan maskapai pelat merah.
Manajemen GIAA menjelaskan bahwa rencana besar ini merupakan kelanjutan dari program restrukturisasi komprehensif yang telah dijalankan perseroan pada tahun 2022. Upaya sebelumnya membuahkan hasil positif, di antaranya penurunan nilai utang dari US$ 10 miliar pada Desember 2021 menjadi US$ 5 miliar pada Desember 2022. Selain itu, GIAA juga berhasil menurunkan jumlah utang dari US$ 13,3 miliar pada Desember 2021 menjadi US$ 7,7 miliar pada Desember 2022.
Dari sisi ekuitas, terjadi perbaikan signifikan dari kondisi negatif US$ 5,3 miliar pada Desember 2021 menjadi negatif US$ 653 juta pada Desember 2022. “Setelah restrukturisasi penyelamatan perseroan yang telah dilakukan di tahun 2022, perseroan berhasil menurunkan nilai utang, dan memperbaiki nilai ekuitas,” ungkap manajemen, menyoroti dampak positif dari langkah-langkah yang telah diambil.
Selain perbaikan finansial, manajemen perseroan juga melaporkan keberhasilan dalam optimalisasi jaringan rute, rasionalisasi jumlah dan tipe pesawat, renegosiasi kontrak pesawat, serta peningkatan pendapatan dari kargo dan layanan ancillary. Pencapaian operasional ini menjadi bukti efektivitas langkah restrukturisasi awal yang berfokus pada efisiensi dan peningkatan kinerja.
Namun demikian, aksi restrukturisasi tahap pertama tersebut belum sepenuhnya menuntaskan tantangan yang ada. Perseroan masih mencatatkan ekuitas negatif, yang menjadi penghambat utama akses pendanaan dan menimbulkan potensi delisting dari bursa saham. Lebih lanjut, kebutuhan biaya maintenance dan restorasi pesawat, baik untuk Garuda Indonesia maupun Citilink, masih tinggi, menyebabkan berkurangnya jumlah armada yang dapat dioperasikan secara optimal.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, transaksi restrukturisasi melalui private placement ini bertujuan krusial untuk memperbaiki posisi keuangan perseroan. Berdasarkan neraca laporan keuangan konsolidasi auditan per 30 Juni 2025, Garuda Indonesia mencatatkan modal kerja bersih negatif sebesar US$ 1,49 miliar. Total liabilitas perusahaan mencapai US$ 8,01 miliar, sementara total aset sebesar US$ 6,51 miliar, menghasilkan rasio total liabilitas terhadap total aset per 30 Juni 2025 yang mencapai 123%.
Proyeksi hingga pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 12 November 2025 menunjukkan bahwa perseroan diperkirakan masih akan mencatatkan modal kerja bersih negatif, dengan total liabilitas melebihi 80% dari total aset. Kondisi ini menggarisbawahi urgensi penambahan modal untuk mencapai stabilitas finansial.
Adapun tujuan utama pelaksanaan PMTHMETD ini adalah untuk memperbaiki nilai ekuitas perseroan secara konsolidasi, meningkatkan likuiditas guna memperkuat struktur permodalan, serta mengurangi liabilitas. Pada akhirnya, semua upaya ini diarahkan untuk memperbaiki kondisi keuangan agar keberlangsungan usaha Garuda Indonesia dapat terjaga dengan fondasi keuangan yang jauh lebih sehat di masa mendatang.
Rencana Penggunaan Dana
Manajemen menyebutkan bahwa dana hasil pelaksanaan private placement sebesar Rp 23,67 triliun tersebut akan dialokasikan secara strategis untuk mendukung keberlangsungan usaha dan memperbaiki posisi keuangan perseroan. Rincian penggunaan dana tersebut antara lain sebagai berikut:
- Sebesar 37% dari dana tersebut akan digunakan oleh GIAA sebagai modal kerja dan operasional, mencakup pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat yang esensial untuk menjaga kapasitas operasional.
- Sebesar 63% akan dialokasikan untuk peningkatan modal kepada entitas anak, Citilink. Dana ini akan digunakan melalui konversi pinjaman pemegang saham menjadi modal serta setoran modal tunai. Fokus restrukturisasi pada Citilink bertujuan menghindari dampak risiko strategis dan sosial yang lebih luas terhadap masyarakat, mengingat perannya sebagai maskapai berbiaya rendah.
Manajemen berharap, “Penggunaan dana hasil PMHMETD ini dapat memberikan dampak positif terhadap perbaikan posisi keuangan perseroan, meningkatkan ekuitas, memperkuat struktur permodalan, serta mendukung keberlanjutan usaha perseroan dan entitas anak di masa yang akan datang.” Ini menjadi komitmen Garuda Indonesia untuk kembali terbang lebih tinggi dengan fundamental yang lebih solid.
Ringkasan
Garuda Indonesia melakukan penyesuaian rencana penambahan modal melalui private placement dengan nilai total US$ 1,84 miliar. Aksi ini merupakan bagian dari restrukturisasi untuk menyehatkan keuangan perusahaan. Seluruh saham baru akan diserap oleh PT Danantara Asset Management dan telah mendapatkan persetujuan resmi dari pemerintah.
Dana yang diperoleh dari private placement akan digunakan untuk modal kerja Garuda Indonesia dan peningkatan modal kepada Citilink. Langkah ini bertujuan memperbaiki ekuitas, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat struktur permodalan perusahaan dan entitas anak, sehingga keberlangsungan usaha Garuda Indonesia dapat terjaga dengan lebih baik.




