IHSG Naik 0,25% ke 8.415 di Sesi I Senin (10/11), Top Gainers: Saham GOTO, TOWR, BUMI

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa positif di sesi pertama perdagangan Senin (10/11), mengikuti jejak penguatan bursa regional. Sentimen positif ini mendorong IHSG bergerak stabil di zona hijau.

Advertisements

Berdasarkan data dari RTI, IHSG berhasil menguat 0,25% atau setara dengan 21,008 poin, mencapai level 8.415,598. Aktivitas perdagangan menunjukkan dominasi saham yang menguat, dengan 372 saham naik, 265 saham turun, dan 171 saham lainnya stagnan. Total volume perdagangan pada sesi tersebut mencapai 23,7 miliar saham, dengan nilai transaksi yang impresif sebesar Rp 11,7 triliun.

Kinerja IHSG ditopang oleh penguatan di sembilan indeks sektoral. Tiga sektor yang mencatatkan kenaikan tertinggi adalah IDX-Techno yang melesat 3,05%, disusul oleh IDX-Property dengan kenaikan 1,58%, dan IDX-Infra yang tumbuh 1,43%. Kenaikan sektor-sektor ini menjadi pendorong utama laju IHSG di awal pekan.

Bitcoin Berpeluang Naik, Senat AS Dekati Kesepakatan Akhiri Shutdown

Advertisements

Berikut adalah daftar saham-saham LQ45 yang menjadi top gainers pada sesi ini:

  • PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melonjak 8,20% ke level Rp 66.
  • PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) naik 5,56% menjadi Rp 570.
  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 4,26% ke posisi Rp 147.

Sementara itu, saham-saham LQ45 yang berada di jajaran top losers meliputi:

  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terkoreksi 9,48% menjadi Rp 9.475.
  • PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) turun 3,47% ke level Rp 2.780.
  • PT Indosat Tbk (ISAT) melemah 2,79% ke posisi Rp 2.090.

IHSG Dibuka Naik ke Level 8.447 Senin (10/11), Sentimen dari Akhir Shutdown AS

GOTO Chart by TradingView

Bursa Regional Menghijau

Perdagangan pada Senin (10/11) juga diwarnai penguatan di pasar saham Asia-Pasifik. Rebound ini terjadi setelah kawasan tersebut sempat dilanda kekhawatiran terkait valuasi perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) pada pekan sebelumnya, yang memicu penurunan harga saham.

Para investor juga turut mencermati data inflasi Oktober dari China yang dirilis akhir pekan lalu. Data tersebut menunjukkan bahwa inflasi berada di atas ekspektasi pasar. Inflasi konsumen tercatat 0,2% secara tahunan (YoY), melampaui perkiraan nol persen dari jajak pendapat ekonom Reuters. Di sisi lain, inflasi harga grosir (wholesale) mengalami penurunan 2,1% YoY, lebih tinggi dari proyeksi penurunan 2,2%.

Di Korea Selatan, indeks Kospi memimpin penguatan dengan kenaikan hampir 3%, didorong oleh kinerja solid saham-saham perbankan dan asuransi. Sementara itu, indeks Kosdaq yang mencakup saham-saham berkapitalisasi kecil juga menguat 0,86%. Pergerakan serupa terlihat di Jepang, di mana Nikkei 225 melonjak 0,98% dan indeks Topix yang lebih luas naik 0,33%. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun bahkan melonjak hingga 1,695%, mencapai level tertinggi sejak bulan Oktober.

Rupiah Lanjutkan Penguatan Tiga Hari Beruntun di Rp 16.674 Senin (10/11) Pagi

Sementara itu, notulen rapat Bank of Japan (BOJ) bulan Oktober mengindikasikan bahwa bank sentral Jepang semakin condong untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga jangka pendek. BOJ menyatakan bahwa “kemungkinan kondisi untuk mengambil langkah lebih lanjut menuju normalisasi suku bunga hampir terpenuhi.” Meskipun demikian, BOJ tetap menekankan pentingnya untuk memperhatikan faktor-faktor lain, termasuk sejauh mana “tingkat inflasi inti telah melekat” sebelum mengambil keputusan.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng melanjutkan tren pemulihan dengan kenaikan 0,54%. Namun, tidak semua bursa regional mencatatkan penguatan; indeks CSI 300 di China daratan justru terkoreksi 0,26%. Pasar Australia juga tidak ketinggalan dalam tren positif, dengan indeks S&P/ASX 200 menguat 0,68%.

Advertisements

Also Read

Tags