Geopolitik Memanas, Harga Minyak Tertekan! Bagaimana dengan Energi Lain?

Hikma Lia

BANYU POS – JAKARTA. Pasar komoditas energi menunjukkan dinamika yang bervariasi, dipengaruhi oleh kombinasi kompleks antara faktor geopolitik dan fluktuasi permintaan musiman yang berbeda untuk setiap komoditas.

Advertisements

Pada hari Jumat, 21 November 2025, pukul 19.25 WIB, data dari Trading Economics mencatat pergerakan harga yang kontras. Minyak mentah WTI mengalami penurunan harian sebesar 0,98% menjadi US$ 58,42 per barel. Sebaliknya, harga gas alam justru menguat 1,37% ke level US$ 4,53 per MMBtu.

Sutopo Widodo, Presiden Komisioner HFX International Berjangka, menjelaskan bahwa pelemahan harga minyak mentah ini didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasokan global, menyusul sinyal positif dalam perundingan damai antara Ukraina dan Rusia.

“Jika sanksi terhadap Rusia dicabut, pasokan minyak berpotensi melonjak drastis, yang dapat menyebabkan kelebihan pasokan di pasar global,” ungkapnya.

Kinerja Saham Lapis Kedua Terus Melaju, Perhatikan Rekomendasi Berikut!
Advertisements

Berbanding terbalik dengan minyak, harga gas alam justru mengalami kenaikan. Faktor utama pendorongnya adalah perkiraan cuaca dingin yang akan melanda Amerika Serikat, yang secara langsung diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap energi untuk pemanas ruangan. “Perkiraan cuaca yang semakin dingin menjelang awal Desember memicu aksi beli, didorong oleh ekspektasi peningkatan permintaan pemanas,” jelas Sutopo kepada Kontan pada hari Jumat.

Wahyu Laksono, Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, berpendapat bahwa pergerakan yang berlawanan antara minyak dan gas alam ini adalah hal yang wajar. Menurutnya, kedua komoditas ini sangat sensitif terhadap faktor-faktor yang berbeda. “Harga minyak cenderung lebih responsif terhadap prospek ekonomi global dan kebijakan yang diambil oleh OPEC+, sementara gas alam lebih dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan tingkat persediaan domestik, terutama menjelang musim dingin,” paparnya.

Menjelang penghujung tahun, sentimen di pasar energi akan terus dibentuk oleh serangkaian faktor krusial. Ini termasuk keputusan produksi yang akan diambil oleh OPEC+, arah kebijakan suku bunga yang diterapkan oleh The Fed, kondisi cuaca musim dingin, serta perkembangan geopolitik yang terus bergulir. Sentimen terhadap harga minyak juga dipengaruhi oleh potensi peningkatan pasokan dari negara-negara non-OPEC dan efektivitas pemangkasan produksi yang dilakukan oleh OPEC+.

Untuk gas alam, tingkat keparahan musim dingin di Amerika Serikat menjadi variabel terpenting yang akan memengaruhi pergerakan harga. Wahyu menambahkan bahwa laporan persediaan dari EIA (Energy Information Administration) dan tren permintaan musiman akan tetap menjadi faktor penentu dalam jangka pendek.

Sutopo memprediksi bahwa harga minyak WTI masih akan berada dalam tren bearish dan berpotensi menguji area US$ 53–US$ 56 per barel. Namun, terdapat peluang kenaikan menuju US$ 63–US$ 65 jika terjadi pemotongan produksi tambahan atau jika perundingan damai tidak menghasilkan perubahan signifikan dalam pasokan.

IHSG Menguat Tipis Sepekan, Ini Sentimen yang Menggerakkan Pasar

Sementara itu, harga gas alam berpeluang menembus level US$ 4,8–US$ 5,2 per MMBtu jika musim dingin berlangsung lebih ekstrem. Sebaliknya, harga bisa kembali melemah menuju US$ 4,0–US$ 4,2 apabila produksi gas alam di AS tetap tinggi atau jika cuaca menjadi lebih hangat.

Wahyu memproyeksikan bahwa harga WTI hingga akhir tahun akan cenderung bergerak di kisaran US$ 55–US$ 65 per barel, dibatasi oleh kekhawatiran terhadap melemahnya permintaan. Untuk gas alam, potensi penguatan musiman tetap terbuka, dengan peluang mencapai US$ 5.000 per MMBtu. Namun, kondisi oversupply struktural akan membatasi ruang kenaikan yang signifikan.

Ringkasan

Harga minyak mentah WTI mengalami penurunan akibat ekspektasi peningkatan pasokan global menyusul sinyal positif perundingan damai Ukraina-Rusia. Sebaliknya, harga gas alam justru menguat karena perkiraan cuaca dingin di Amerika Serikat diperkirakan akan meningkatkan permintaan energi untuk pemanas ruangan. Pergerakan yang berlawanan ini wajar karena sensitivitas komoditas terhadap faktor-faktor yang berbeda.

Sentimen pasar energi menjelang akhir tahun akan dipengaruhi oleh keputusan produksi OPEC+, kebijakan suku bunga The Fed, kondisi cuaca musim dingin, dan perkembangan geopolitik. Harga minyak WTI diprediksi masih bearish, sementara harga gas alam berpeluang naik jika musim dingin ekstrem, namun dibatasi oleh kondisi oversupply struktural.

Advertisements

Also Read

Tags