BANYU POS – JAKARTA. Indeks saham IDX SMC Liquid, yang merepresentasikan emiten dengan likuiditas tinggi serta kapitalisasi pasar kecil dan menengah, diproyeksikan akan mempertahankan kinerja positifnya hingga tahun 2026. Optimisme ini sejalan dengan tren penguatan indeks yang diperkirakan berlanjut hingga akhir 2025, didorong oleh rotasi dana investor yang masif menuju saham-saham lapis dua.
Sukarno Alatas, Senior Analyst Kiwoom Sekuritas, menilai bahwa IDX SMC Liquid berpeluang besar untuk mencatatkan kinerja outperform pada tahun 2026. Potensi ini semakin menguat apabila siklus penurunan suku bunga mulai terealisasi dan momentum rotasi dana investor terus berlanjut ke saham-saham small dan mid cap. “Valuasi relatif lebih murah dan ruang pertumbuhan laba yang lebih besar menjadi daya tarik utama,” ungkap Sukarno kepada Kontan, Selasa (23/12/2025).
Meski prospeknya cerah, Sukarno mengingatkan investor akan karakter agresif IDX SMC Liquid yang membuatnya cenderung lebih volatil. Indeks ini sangat sensitif terhadap sentimen global, risiko makroekonomi, serta potensi perpindahan dana kembali ke saham-saham berkapitalisasi besar ketika pasar memasuki fase defensif. Kehati-hatian dalam memilih saham tetap menjadi kunci di tengah dinamika pasar.
Dari jajaran konstituennya, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) dinilai masih memiliki potensi besar sebagai penggerak utama indeks, didukung oleh tren harga yang positif dan bobotnya yang paling signifikan di IDX SMC Liquid. Selain PTRO, beberapa saham berbobot besar lainnya seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga menarik perhatian. Emiten-emiten ini diperkirakan mampu menopang kinerja IDX SMC Liquid berkat valuasi mereka yang relatif masih murah sehingga berpotensi mengalami penguatan.
Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa penguatan IDX SMC Liquid sekitar 16% year-to-date sepanjang tahun 2025 mencerminkan pergeseran minat investor ke saham lapis dua. Hal ini terjadi seiring masih lebarnya diskon valuasi dibandingkan saham-saham berkapitalisasi besar. “Secara karakter, saham lapis dua memiliki beta yang lebih tinggi sehingga lebih sensitif terhadap perubahan sentimen makro, khususnya ekspektasi penurunan suku bunga,” papar Imam kepada Kontan, Selasa (23/12/2025).
Dalam skenario suku bunga yang cenderung menurun, sektor-sektor seperti properti, konstruksi, consumer discretionary, serta emiten dengan tingkat leverage menengah diproyeksikan akan menjadi penerima manfaat utama. Penurunan biaya pendanaan dan potensi akselerasi pertumbuhan laba menjadi faktor pendorong utama minat investor terhadap saham-saham IDX SMC Liquid sepanjang 2025.
Memasuki tahun 2026, prospek saham lapis dua diperkirakan tetap atraktif, khususnya bagi sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap pelonggaran moneter. Namun demikian, investor diimbau untuk tetap selektif dalam menghadapi risiko sektoral yang mungkin muncul. Dari sisi komoditas, rencana pemangkasan produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 berpotensi mengubah dinamika sektor nikel secara signifikan. Pengetatan suplai ini dapat menopang harga nikel dan memberikan dampak positif bagi emiten dengan cadangan berkualitas serta struktur biaya produksi yang rendah. Sebaliknya, perusahaan smelter berisiko menghadapi tekanan margin akibat kenaikan harga bahan baku.
“Dengan karakter beta yang tinggi, saham lapis dua berpotensi memberikan kinerja relatif lebih baik dalam fase penurunan suku bunga, namun tetap rentan terhadap volatilitas sehingga pendekatan stock selection berbasis fundamental menjadi kunci pada 2026,” tutup Imam, menegaskan pentingnya analisis mendalam bagi investor.




