BANYU POS JAKARTA. Menjelang akhir tahun 2025, pergerakan saham-saham bank besar atau big banks di Bursa Efek Indonesia menunjukkan performa yang beragam. Sebagian besar emiten perbankan raksasa, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), berhasil menutup tahun dengan penguatan. Namun, tidak demikian halnya dengan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang justru mengalami tekanan.
Pada penutupan perdagangan Selasa, 30 Desember 2025, saham BBCA ditutup menguat 0,62% mencapai level Rp 8.075. Kenaikan serupa juga tercatat dalam performa sepekan, yakni 0,62%. Meski demikian, performa jangka panjang saham BBCA masih menunjukkan pelemahan signifikan, tergelincir 16,54% dalam setahun terakhir.
Senada, saham BMRI juga ditutup lebih tinggi 0,49% di level Rp 5.100. Kinerja mingguan BMRI terpantau naik tipis 0,99%. Namun, dalam rentang satu tahun, saham bank BUMN ini masih membukukan koreksi sebesar 10,53%. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) tampil paling perkasa dengan kenaikan 2,58% menjadi Rp 4.370 per saham. Dalam sepekan, saham BBNI juga melaju 2,34%, dan menjadi satu-satunya di antara bank jumbo yang mencatatkan penguatan tahunan, naik tipis 0,46%.
Di sisi lain, saham BBRI mengalami tekanan paling dalam di akhir tahun 2025. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk ini ditutup merosot 3,17% ke level Rp 3.660. Dalam sepekan, performanya juga menyusut 2,92%, dan secara keseluruhan dalam setahun terakhir, BBRI anjlok 10,29%.
Meskipun mayoritas saham perbankan menghadapi tahun yang menantang di 2025, prospek cerah diprediksi membayangi sektor ini pada tahun 2026. Para analis sepakat bahwa ekspektasi penurunan suku bunga akan menjadi katalis utama yang mendorong pemulihan kinerja saham dan fundamental bank di tahun mendatang.
Muhammad Wafi, analis dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), optimistis bahwa tahun 2026 akan menjadi fase turnaround yang signifikan bagi saham perbankan. Menurutnya, tekanan kinerja saham bank sepanjang tahun 2025 sebagian besar diakibatkan oleh tingginya biaya dana (cost of fund/CoF) yang pada gilirannya menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM). “Sentimen utama tahun depan adalah penurunan suku bunga. Ketika suku bunga turun, NIM bank justru bisa naik karena penurunan CoF biasanya lebih cepat dibandingkan penyesuaian bunga kredit,” jelas Wafi kepada Kontan, Rabu (24/12).
Dari perspektif fundamental, Wafi menilai industri perbankan akan bergeser dari fase bertahan menuju ekspansi. Penurunan suku bunga berpotensi besar mendorong permintaan kredit baru, sekaligus memperbaiki kualitas aset. Dengan membaiknya kualitas kredit, beban provisi diperkirakan menurun, sehingga laba bersih bank berpeluang tumbuh lebih signifikan. Sejalan dengan pandangan ini, Wafi menyarankan strategi investasi front-running, yaitu mengakumulasi saham bank lebih awal sebelum sentimen penurunan suku bunga benar-benar terealisasi. “Investor bisa mulai akumulasi sekarang ketika valuasi masih diskon. Jangan menunggu BI rate turun, karena pasar biasanya bergerak lebih dulu sebelum berita resmi keluar,” tambahnya. Untuk saham bank besar, Wafi merekomendasikan target harga tahun 2026 untuk BBRI di level Rp 5.800, BMRI Rp 7.800, BBCA Rp 11.200, dan BBNI Rp 5.200.
Senada dengan pandangan tersebut, Indy Naila, seorang Investment Analyst dari Edvisor Profina Visindo, turut memproyeksikan tahun 2026 sebagai periode pemulihan sektor perbankan. Ia menggarisbawahi beberapa faktor pendorong, termasuk perbaikan penyaluran kredit, likuiditas pasar yang lebih longgar, serta stabilitas suku bunga yang akan mendukung peningkatan profitabilitas bank. “Harapannya juga ada dukungan pemerintah dalam penyaluran kredit, terutama ke sektor-sektor produktif. Dengan kondisi tersebut, NIM bank bisa tetap terjaga di tengah pertumbuhan kredit yang moderat hingga agresif,” ujar Indy.
Indy merekomendasikan investor untuk melakukan akumulasi bertahap dengan horizon jangka panjang, khususnya ketika harga saham masih berada di level rendah. Adapun target harga jangka panjang yang ia tetapkan antara lain BBCA di level Rp 9.800, BBRI Rp 5.025, dan BMRI Rp 5.200. Dengan sinergi dari sentimen penurunan suku bunga, perbaikan fundamental ekonomi dan sektor perbankan, serta valuasi saham yang masih terbilang menarik, tidak mengherankan jika sektor perbankan tetap menjadi magnet utama bagi para investor yang membidik peluang di tahun 2026.




