BANYU POS Tahun 2025 menjadi saksi bagi fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Bitcoin. Aset kripto terbesar di dunia ini menutup tahun dengan kinerja yang merugikan, menandai pertama kalinya harga Bitcoin melemah pada tahun setelah peristiwa halving yang krusial.
Melansir laporan Cointelegraph pada Kamis (1/1/2026), kondisi tak terduga ini seketika memicu gelombang perdebatan panas di kalangan analis kripto. Pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah siklus empat tahunan Bitcoin yang selama ini menjadi pedoman utama di pasar kripto masih relevan?
Sebagai informasi, peristiwa halving Bitcoin merupakan mekanisme penting yang dirancang untuk menjaga kelangkaan. Terjadi setiap empat tahun sekali, proses ini memangkas imbalan penambangan menjadi separuhnya, secara efektif mengurangi pasokan koin baru yang masuk ke pasar. Secara historis, mekanisme ini secara konsisten memicu fase akumulasi yang kemudian berujung pada reli harga besar di tahun-tahun setelahnya.
Pola kenaikan harga yang signifikan ini terlihat jelas pada siklus-siklus sebelumnya. Pasca-halving tahun 2012, Bitcoin melonjak drastis dan mengakhiri tahun berikutnya di level tertinggi sepanjang masa yang baru. Tren serupa terulang kembali setelah halving 2016 dan 2020, di mana setiap kali harga aset kripto ini melesat naik seiring dengan berkurangnya pasokan.
Namun, siklus Bitcoin kali ini menunjukkan perbedaan yang mencolok dan mengejutkan banyak pihak. Meskipun halving terbaru telah berlangsung pada April 2024, harga Bitcoin justru berakhir lebih rendah dibandingkan posisi awalnya pada Januari 2025. Data dari CoinGecko menunjukkan bahwa Bitcoin kini diperdagangkan lebih dari 30% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di level US$126.080 yang sempat dicapai pada 6 Oktober 2025. Kondisi ini secara telak mematahkan asumsi lama bahwa tahun pasca-halving hampir selalu identik dengan reli harga yang menjanjikan.
Analis Nilai Siklus Empat Tahunan Mulai Mati
Jauh sebelum penutupan tahun 2025, sejumlah analis kripto terkemuka telah memperingatkan potensi berakhirnya siklus empat tahunan Bitcoin. Pendiri perusahaan public relations Bitcoin, Bitgrow Lab, Vivek Sen, dengan tegas menyebut berakhirnya tahun 2025 di zona merah sebagai bukti konkret bahwa siklus tersebut kini “resmi mati”.
Pandangan senada juga diungkapkan oleh investor kripto berpengalaman, Armando Pantoja. Menurutnya, perubahan fundamental pada struktur pasar kripto menjadi faktor utama di balik anomali ini. “Pasar kini diisi oleh pemain baru yang berbeda. Kripto bukan lagi seperti kondisi pada tahun 2016 atau 2020,” jelas Pantoja. “Kehadiran ETF Bitcoin, partisipasi institusi keuangan besar, dan neraca keuangan korporasi tidak lagi bergerak berdasarkan euforia ritel semata. Bitcoin kini bereaksi terhadap faktor makroekonomi yang lebih kompleks, seperti likuiditas global, suku bunga, regulasi pemerintah, dan dinamika geopolitik, bukan lagi sekadar kalender halving yang terprogram sempurna.”
Pantoja menambahkan bahwa meskipun halving tetap memegang peranan penting dalam gambaran besar pasokan, dampaknya tidak lagi bersifat otomatis. Dengan semakin banyak pasokan Bitcoin yang terkunci dan penambang memiliki opsi pembiayaan yang lebih beragam, dinamika harga Bitcoin menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.
Pendapat Berbeda di Kalangan Pelaku Industri
Dukungan terhadap pandangan bahwa siklus empat tahunan Bitcoin telah kehilangan relevansinya juga datang dari sejumlah tokoh kripto ternama lainnya. CEO ARK Invest, Cathie Wood, pendiri BitMEX Arthur Hayes, serta pimpinan Bitwise Matt Hougan dan Hunter Horsley, juga sempat menyatakan sepanjang tahun 2025 bahwa pola historis ini mungkin sudah tidak lagi berlaku.
Meski demikian, tidak semua pelaku industri sepakat sepenuhnya. Kepala riset 10x Research, Markus Thielen, memiliki pandangan yang berbeda. Ia berpendapat bahwa siklus Bitcoin masih eksis, namun kini beroperasi dengan pola dan karakteristik yang berbeda. Dalam wawancaranya pada edisi Desember podcast The Wolf of All Streets, Thielen menjelaskan bahwa siklus harga Bitcoin tidak lagi semata-mata ditentukan oleh pemotongan pasokan yang terprogram. Sebaliknya, ia dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi yang lebih luas dan struktur pasar kripto yang semakin matang.
Perbedaan pandangan yang signifikan ini secara jelas menunjukkan bahwa Bitcoin telah memasuki fase baru yang lebih kompleks. Pergerakan harganya tidak lagi dapat sepenuhnya dijelaskan dengan pola historis yang sederhana, termasuk siklus empat tahunan Bitcoin yang selama ini menjadi acuan utama bagi sebagian besar pelaku pasar.




