Menilik Potensi January Effect pada Awal Tahun 2026

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Pasar saham Indonesia diproyeksikan akan merasakan dorongan kuat dari fenomena January Effect pada awal tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan berpotensi menembus level krusial 9.000 di bulan Januari, asalkan serangkaian katalis positif mampu terwujud.

Advertisements

Membuka perdagangan tahun 2026, IHSG menunjukkan performa awal yang menjanjikan. Pada Jumat (2/1) pagi, indeks dibuka menguat 0,39% menuju level 8.685. Optimisme investor terus berlanjut hingga akhir perdagangan, di mana IHSG melesat 1,17% dan ditutup kokoh di level 8.788.

Potensi pergerakan positif IHSG di tengah kehadiran January Effect ini mendapat sorotan dari para analis. Muhammad Wafi, Head of Research Kisi Sekuritas, menilai bahwa peluang terjadinya January Effect cukup besar. Hal ini didukung oleh pola rotasi investasi dari saham lapis kedua menuju saham-saham blue chip. Sentimen utama yang diperkirakan akan menjadi pendorong adalah masuknya aliran dana asing. “Level 9.000 sangat mungkin ditembus di Januari karena euforia awal tahun yang biasanya meningkatkan likuiditas pasar,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (2/1).

Senada, Chory Agung Ramdhani, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), melihat potensi January Effect tahun ini sangat terbuka lebar. Meskipun IHSG telah mencatat kenaikan signifikan sepanjang 2025, momentum awal tahun biasanya ditopang oleh realokasi aset oleh institusi serta optimisme terhadap laporan keuangan perusahaan.

Advertisements

Berbagai sentimen positif siap menopang pergerakan pasar saham. Utamanya, ekspektasi berlanjutnya pemangkasan suku bunga oleh The Fed hingga di bawah 4% serta proyeksi penurunan BI Rate hingga 50 basis poin (bps) sepanjang tahun 2026. Selain itu, optimisme tumbuh seiring sinkronisasi kebijakan fiskal-moneter di bawah kepemimpinan ekonomi yang baru, termasuk efek stimulus dari program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Kembalinya dana asing ke pasar negara berkembang juga menjadi faktor penting, seiring dengan melandainya indeks dolar Amerika Serikat (AS).

Namun, tidak semua pandangan sepakat mengenai besaran dampak January Effect. Sentimen negatif yang perlu dicermati datang dari risiko resesi di AS, meskipun probabilitasnya kian mengecil, serta ketegangan geopolitik global yang masih berlanjut. Transisi teknis suku bunga dari JIBOR ke IndONIA per 1 Januari juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, memiliki pandangan yang lebih konservatif. Menurutnya, January Effect umumnya lebih terasa dampaknya pada saham-saham dengan kapitalisasi kecil (small cap). Oleh karena itu, jika fenomena ini benar terjadi, dampaknya terhadap pergerakan IHSG secara keseluruhan mungkin relatif terbatas. Budi memperkirakan IHSG hanya akan bergerak di kisaran 8.800-8.900 sepanjang Januari 2026, dengan penggerak utama berasal dari “saham-saham konglomerasi dan perbankan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (2/1).

Mengulas potensi tersebut, Wafi merekomendasikan sektor perbankan (buku 4) dan telekomunikasi sebagai penggerak IHSG sepanjang Januari, mengingat valuasi keduanya yang relatif murah. Saham-saham big caps dari sektor-sektor ini sering menjadi target investor asing yang membutuhkan likuiditas besar. “Sektor ritel juga menjanjikan, didorong oleh sisa momentum belanja akhir tahun dan stimulus pemerintah,” tambahnya. Wafi menyarankan investor untuk mencermati saham BBRI, ASII, TLKM, dan MDKA, dengan target harga masing-masing Rp 5.200, Rp 7.400, Rp 4.300, dan Rp 2.850 per saham.

Di sisi lain, Chory Agung Ramdhani meyakini tahun 2026 akan menjadi panggung bagi saham-saham blue chip (lapis satu) untuk mengejar ketertinggalan setelah di tahun sebelumnya didominasi oleh saham-saham lapis kedua. Tiga sektor utama diyakini akan menjadi penopang di awal 2026.

Pertama, sektor perbankan (bank-bank besar) yang akan menjadi penopang utama berkat ekspektasi pengumuman dividen tunai pada kuartal I (Februari-Maret). Kedua, sektor konsumsi dan ritel, didorong oleh pemulihan daya beli masyarakat dan stimulus domestik yang berkelanjutan. Ketiga, sektor komoditas (terutama emas dan mineral), mengingat harga emas dunia yang tetap perkasa dan berpotensi menuju level psikologis baru.

Chory memberikan rekomendasi beli untuk saham BBCA, ISAT, JPFA, ASII, KLBF, AADI, NCKL, dan ICBP. Target harga yang ditetapkan untuk masing-masing saham tersebut adalah Rp 10.800, Rp 3.000, Rp 3.100, Rp 7.450, Rp 1.710, Rp 9.850, Rp 1.300, dan Rp 11.500 per saham.

Bursa Asia Bervariasi di Awal Tahun 2026, Cek Reviewnya

OJK Bakal Sesuaikan Batas Free Float Saham Secara Bertahap Mulai Tahun 2026

Advertisements

Also Read

Tags