
Pasar keuangan Indonesia membuka tahun 2026 dengan performa yang sangat impresif, ditandai oleh lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,17 persen. Pada hari perdagangan pertama, Jumat (2/1), IHSG berhasil menyentuh level 8.748,13, sebuah pencapaian yang mengukuhkan keyakinan akan fondasi fundamental ekonomi Indonesia yang solid. Penguatan ini terjadi di tengah membaiknya sentimen global dan meningkatnya minat investor terhadap aset-aset berisiko, menempatkan investasi Indonesia pada posisi yang strategis.
Shan Saeed, Chief Economist IQI Global, menyoroti lonjakan IHSG di awal tahun ini sebagai sinyal kuat dari pasar. Menurutnya, pergerakan positif ini menjadi pertanda awal yang menjanjikan bagi pasar saham Indonesia.
“Pasar saham Indonesia telah memberikan sinyal yang sangat jelas. Pada hari perdagangan pertama 2026, IHSG melonjak 1,17 persen ke level 8.748,13, dan ini menetapkan nada optimistis untuk tahun yang berpotensi menjadi tahun terobosan,” ungkap Shan, seperti dikutip pada Sabtu (3/1). Pernyataan ini menegaskan prospek cerah yang membayangi ekonomi Indonesia.
Lebih lanjut, Shan Saeed menambahkan bahwa prospek pasar saham Indonesia di masa mendatang dinilai semakin menarik bagi para investor. Ekspektasi pertumbuhan pasar didukung oleh fundamental yang kuat.
“Konsensus saat ini memperkirakan potensi kenaikan pasar sebesar 8 hingga 10 persen sepanjang 2026, ditopang oleh permintaan domestik yang tangguh dan meningkatnya kepercayaan investor,” ujarnya. Dari sisi valuasi, ia juga menilai bahwa pasar saham Indonesia masih berada di bawah rata-rata historisnya, menawarkan potensi keuntungan yang lebih besar.
Bagi investor global yang selektif, Shan Saeed melihat Indonesia semakin kokoh sebagai pilar utama pasar berkembang dengan kualitas tinggi. Ini menunjukkan daya tarik Indonesia yang berkelanjutan sebagai destinasi investasi yang menjanjikan di kancah global.

Optimisme ini selaras dengan pandangan Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, yang mengamati penguatan IHSG sebagai bagian dari reli regional di bursa-bursa Asia. Pergerakan IHSG yang positif sejalan dengan tren penguatan di kawasan.
“IHSG meningkat sekitar 1,2 persen ke level 8.748 seiring dengan kenaikan luas bursa saham Asia, didorong oleh aksi beli kembali saham oleh investor setelah aksi profit taking di akhir 2025,” terang Andry, mengindikasikan adanya pemulihan dan peningkatan minat beli.
Andry juga menyoroti kondisi makro domestik Indonesia yang tetap terjaga stabil. Meskipun PMI manufaktur Indonesia sedikit melandai ke 51,2 pada bulan Desember, angka ini masih berada di zona ekspansi, dengan permintaan domestik tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi aliran dana, investor asing mencatatkan arus masuk bersih sekitar Rp 1,1 triliun ke pasar saham Indonesia. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke 6,05 persen. “Ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas makro Indonesia,” jelas Andry, menandakan kondisi ekonomi yang kondusif.
Dengan kombinasi penguatan pasar saham, masuknya dana asing, serta penurunan yield obligasi, Indonesia dinilai memulai tahun 2026 dari posisi yang sangat kuat. Ini menciptakan fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dukungan kebijakan yang kredibel, permintaan domestik yang solid, dan valuasi pasar yang masih atraktif semakin menempatkan Indonesia sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara. Penguatan ini bukan sekadar reli jangka pendek, melainkan merupakan fase penguatan yang lebih berkelanjutan, menjanjikan stabilitas dan potensi pertumbuhan jangka panjang bagi para investor.




