Jakarta, IDN Times — Gelombang revolusi Artificial Intelligence (AI) global rupanya masih jauh dari puncaknya. Bank of America (BofA) justru memandang bahwa industri semikonduktor, tulang punggung teknologi AI, kini berada di titik tengah dari sebuah transformasi monumental yang diproyeksikan akan berjalan selama satu dekade penuh.
Dalam laporan teranyarnya, BofA memprediksi bahwa penjualan chip global akan memecahkan rekor pada tahun 2026, mencapai angka fantastis 1 triliun dolar AS atau setara dengan sekitar Rp16,77 kuadriliun (dengan kurs Rp16.777 per dolar AS). Ini akan menjadi capaian pertama kalinya, didorong oleh melonjaknya permintaan akan teknologi AI, pembangunan pusat data, dan kebutuhan infrastruktur komputasi berskala besar.
1. Penjualan Semikonduktor Diproyeksi Tembus 1 Triliun Dolar AS

Analis BofA, Vivek Arya, secara tegas menyatakan bahwa lonjakan investasi dan inovasi di bidang AI tidak melambat, melainkan justru semakin membesar dan menggeliat. Dalam laporan bertajuk “2026 Year Ahead: choppy, still cheerful”, Arya memproyeksikan penjualan semikonduktor global akan melonjak signifikan sekitar 30 persen secara tahunan pada tahun 2026, hingga akhirnya menembus ambang 1 triliun dolar AS.
Arya menekankan bahwa industri chip global saat ini baru berada di “midpoint” atau titik tengah dari transformasi jangka panjang yang revolusioner, dengan Nvidia dan Broadcom sebagai pemimpin utamanya. Ia juga menegaskan bahwa valuasi tinggi tidak selamanya menjadi alasan untuk menghindari sektor yang prospektif ini.
“Saya sering mengatakan bahwa berinvestasi di sektor semikonduktor itu sangat sederhana. Anda tidak memerlukan analis sell-side untuk melakukannya. Cukup ambil semua perusahaan, urutkan berdasarkan margin kotor, lalu beli lima teratas, dan hasilnya tidak akan terlalu meleset,” ujar Arya kepada awak media pada Jumat (19/12/2025), seperti dilansir oleh Yahoo Finance.
2. Enam Saham Chip dengan ‘Moat’ Terkuat Versi BofA

Arya menyoroti ketertarikannya pada perusahaan semikonduktor besar yang tidak hanya dominan, tetapi juga memiliki keunggulan kompetitif atau economic moat yang kokoh, tercermin dari struktur margin mereka yang kuat. Selain Nvidia dan Broadcom yang telah disebutkan, ia memilih empat saham lain sebagai unggulan untuk tahun 2026, yakni Lam Research, KLA, Analog Devices, dan Cadence Design Systems.
Di sisi lain, BofA juga memperkirakan bahwa Total Addressable Market (TAM) untuk sistem pusat data AI akan melampaui 1,2 triliun dolar AS pada tahun 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 38 persen. Dari jumlah yang fantastis tersebut, akselerator AI saja dinilai akan menciptakan peluang bisnis senilai 900 miliar dolar AS.
Namun, Arya mengakui bahwa pasar masih menunjukkan kehati-hatian, terutama mengingat tingginya biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan pusat data AI. Menurut estimasi BofA, sebuah fasilitas pusat data berkapasitas 1 gigawatt membutuhkan belanja modal lebih dari 60 miliar dolar AS, di mana sekitar separuhnya dialokasikan langsung untuk pengadaan perangkat keras.
3. Nvidia dan Broadcom Dinilai Berada di Posisi Berbeda

Meskipun muncul pertanyaan mengenai apakah investasi besar tersebut akan menghasilkan imbal hasil yang sepadan, Arya tetap optimistis. Ia menyebut bahwa belanja besar dari perusahaan-perusahaan Big Tech bersifat ofensif dan defensif sekaligus, karena raksasa teknologi harus terus berinvestasi demi mempertahankan dominasi dan relevansi mereka di pasar yang kompetitif.
Nvidia, yang kini menempati posisi sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, dinilai Arya berada di “galaksi yang berbeda”. Dengan saham Nvidia yang telah meroket lebih dari 40 persen sepanjang tahun berjalan, Arya mengingatkan agar perusahaan ini tidak dibandingkan secara langsung dengan produsen chip konvensional.
Ia menyoroti perbedaan harga produk yang mencolok; di mana chip rata-rata dijual sekitar 2,40 dolar AS, satu unit GPU Nvidia bisa mencapai sekitar 30.000 dolar AS. “Valuasi bergantung pada sudut pandang masing-masing pihak,” ujar Arya, menggambarkan betapa perspektif sangat mempengaruhi penilaian.
BofA juga mencatat bahwa arus kas bebas Nvidia diproyeksikan akan mencapai sekitar 500 miliar dolar AS dalam tiga tahun ke depan. Dengan rasio PEG (Price/Earnings to Growth) sekitar 0,6 kali, Nvidia dinilai relatif lebih murah dibandingkan indeks S&P 500 yang diperdagangkan mendekati 2 kali PEG.
Sementara itu, Broadcom disebut Arya sebagai “sistem saraf” AI, melengkapi Nvidia yang diibaratkan sebagai “otak”. Dengan kenaikan saham lebih dari 50 persen sepanjang tahun dan kapitalisasi pasar sekitar 1,6 triliun dolar AS, Broadcom kini memegang peran krusial dalam infrastruktur AI melalui chip custom ASIC yang dikembangkan untuk penyedia hyperscaler seperti Google dan Meta.
4. Dukungan Analis Lain dan Risiko Tetap Ada

Pandangan positif terhadap Broadcom juga datang dari Goldman Sachs. Dalam catatan risetnya, analis James Schneider menyebut Broadcom sebagai pemain kunci dalam euforia AI, dengan target harga saham 450 dolar AS per saham. Schneider menyoroti kemampuan Broadcom dalam mendominasi pasar custom silicon dan menyebut adanya potensi kenaikan tambahan dari perluasan kerja sama dengan perusahaan AI terkemuka seperti Anthropic dan OpenAI.
Meskipun optimisme membumbung, Arya menegaskan bahwa jalan menuju penjualan semikonduktor 1 triliun dolar AS tidak akan selalu mulus, dan tidak ada saham yang sepenuhnya bebas risiko. Ia menjelaskan bahwa keenam saham pilihannya memiliki pangsa pasar yang dominan, umumnya berada di kisaran 70 hingga 75 persen.
“Lihat para pemimpin di setiap bagian teknologi, dan biasanya Anda akan melihat bahwa pemimpin tersebut memiliki pangsa pasar seperti itu. Hal tersebut sebenarnya adalah hal yang lazim,” pungkas Arya, menekankan pentingnya kepemimpinan pasar dalam investasi sektor teknologi.
FAQ Seputar Saham Chip
Mengapa penjualan chip diperkirakan tembus 1 triliun dolar AS pada 2026?
Lonjakan permintaan AI, pusat data, serta infrastruktur komputasi global yang terus meningkat menjadi pendorong utamanya.
Saham chip apa saja yang jadi unggulan versi Bank of America?
Enam saham pilihan BofA meliputi Nvidia, Broadcom, Lam Research, KLA, Analog Devices, dan Cadence Design Systems.
Apa risiko utama dari perkembangan pesat AI menurut analis?
Risiko utamanya adalah biaya pembangunan pusat data AI yang sangat besar, serta ketidakpastian mengenai imbal hasil investasi jangka panjang.
Alasan Keamanan Nasional, Trump Gagalkan Kesepakatan Chip dengan China AS Setujui Lisensi Impor Manufaktur Chip Samsung dan SK Hynix ke China AS Tunda Pengenaan Tarif Impor Chip China, Berlaku Mulai 2027




