BANYU POS – JAKARTA. Prospek kinerja pasar otomotif nasional pada tahun 2025 diproyeksikan akan berakhir di bawah ekspektasi awal, menyusul tren penjualan mobil yang menunjukkan penurunan berkelanjutan sepanjang tahun ini. Kondisi ini menciptakan sentimen negatif yang diperkirakan akan terus membayangi hingga tahun 2026, berimplikasi pada berlanjutnya tantangan bagi para emiten di sektor otomotif dan suku cadang.
Pasar otomotif nasional sepanjang tahun 2025 kemungkinan besar tidak akan mampu mencapai target awal yang ditetapkan. Dengan tren bulanan yang cenderung melambat, pemerintah memperkirakan target penjualan 800 ribu unit semakin sulit untuk direalisasikan. Hal ini mengindikasikan bahwa volume penjualan mobil pada tahun ini akan lebih rendah dibandingkan pencapaian tahun 2024. Gaikindo sebelumnya mencatat penjualan wholesales (dari pabrik ke dealer) mobil mencapai 865.723 unit sepanjang tahun 2024. Sementara itu, hingga November 2025, penjualan mobil baru baru mencapai 710.084 unit, angka ini menunjukkan penurunan sebesar 9,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
January Effect Membuka Peluang IHSG Bergerak Positif
Para analis menilai bahwa tekanan yang terjadi sepanjang tahun 2025 masih akan menjadi sentimen dominan yang akan terus dirasakan oleh sejumlah emiten di sektor otomotif dan suku cadang. Emiten-emiten yang paling merasakan dampaknya termasuk PT Astra International Tbk (ASII), PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dan PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT).
Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menjelaskan bahwa penurunan kinerja ini merupakan cerminan dari beberapa faktor utama, yaitu melemahnya daya beli masyarakat, pengetatan kebijakan pembiayaan, serta sikap konsumen yang cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian kendaraan baru. “Dampaknya, tekanan ini akan tetap terasa pada 2026, terutama bagi emiten yang sangat bergantung pada volume penjualan kendaraan baru,” ujar Ekky kepada Kontan, Jumat (2/1/2026).
Meskipun demikian, Ekky menambahkan bahwa dampak pelemahan ini tidak sepenuhnya merata. Emiten yang memiliki diversifikasi bisnis yang kuat, eksposur ekspor yang signifikan, atau dominasi di segmen aftermarket cenderung menunjukkan resiliensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang murni mengandalkan penjualan domestik. Selain faktor daya beli, Ekky juga menyoroti beberapa katalis penting yang perlu dicermati oleh emiten sektor ini di tahun 2026, antara lain arah kebijakan suku bunga, potensi stimulus otomotif (termasuk insentif untuk kendaraan ramah lingkungan), tren elektrifikasi yang sedang berkembang, serta stabilitas rantai pasok global.
Ekky memperkirakan bahwa pemulihan pasar akan lebih terlihat pada segmen suku cadang dan aftermarket. Hal ini sejalan dengan meningkatnya usia rata-rata kendaraan dan pergeseran perilaku konsumen dari membeli kendaraan baru ke arah perawatan dan perbaikan kendaraan lama. Di sisi lain, penetrasi kendaraan listrik (EV) tetap menjadi tema investasi jangka panjang, meskipun kontribusinya terhadap laba emiten diprediksi masih terbatas dalam jangka pendek. “Di 2026, prospek industri otomotif saya nilai masih penuh tantangan, tetapi cenderung membaik secara bertahap, bukan rebound tajam,” lanjut Ekky.
IHSG Berpotensi Lanjut Menguat pada Senin (5/1/2026), Cermati Sentimen Penggeraknya 
Senada dengan pandangan tersebut, Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menilai bahwa sektor ini berpotensi mengalami perbaikan secara bertahap dalam jangka panjang. Katalis utama yang dapat mendorong perbaikan ini adalah penurunan suku bunga yang diharapkan mampu mendongkrak daya beli masyarakat. “Selain itu, normalisasi siklus penggantian kendaraan, serta dukungan insentif kendaraan ramah lingkungan dan ekspor komponen juga bisa jadi katalis perbaikan ke depannya,” ujar Mifta.
Berbeda dengan pelemahan yang terjadi pada pasar domestik, Analis Sinarmas Sekuritas, Christine Nathania, mencatat bahwa produksi yang berorientasi ekspor justru masih menunjukkan kinerja yang solid. Sebagai contoh, emiten DRMA melalui pabrik ekspor DKI Plant 2, yang secara khusus memproduksi wiring harness untuk operasional Hyundai di Amerika Serikat, berhasil mempertahankan tingkat output di sekitar 450.000 set per bulan. Bahkan, DRMA menargetkan volume ekspor akan meningkat 50% pada tahun 2026 mendatang. “Kenaikan produksi ini didukung oleh kontrak pasokan baru untuk salah satu model kendaraan listrik (EV) milik klien OEM DRMA di AS yang akan datang,” jelas Christine dalam risetnya, 10 Desember 2025.
Melihat dari sisi kinerja emiten, Ekky mencatat bahwa ASII relatif paling defensif karena memiliki diversifikasi bisnis yang sangat luas, tidak hanya terbatas pada sektor otomotif tetapi juga merambah ke agribisnis, alat berat, dan jasa keuangan. Tekanan pada kinerja otomotif mungkin masih terasa, namun kontribusi dari segmen bisnis lain membantu menjaga stabilitas laba perusahaan. Sementara itu, AUTO juga diuntungkan oleh bisnis suku cadang dan aftermarket-nya yang cenderung lebih tahan terhadap siklus penjualan kendaraan baru. DRMA memiliki keunggulan kompetitif di sisi teknologi dan keterlibatannya dalam ekosistem EV, meskipun kinerjanya masih sensitif terhadap fluktuasi permintaan dan belanja modal prinsipal. Adapun BOLT cenderung lebih volatil karena skala usaha yang lebih kecil dan sensitivitasnya yang tinggi terhadap perubahan volume produksi otomotif.
Memasuki tahun 2026, Ekky menilai emiten yang berpotensi mencatatkan peningkatan kinerja relatif adalah ASII dan AUTO, mengingat profil bisnis keduanya yang lebih defensif serta kemampuan mereka dalam menjaga margin di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih. DRMA tetap menarik dari sisi prospek jangka menengah, terutama jika realisasi proyek terkait EV dan efisiensi operasional berjalan sesuai rencana, meskipun volatilitas laba masih perlu diantisipasi. Sedangkan BOLT lebih cocok bagi investor dengan profil risiko yang lebih agresif.
IHSG Diprediksi Menuju 10.000 di Akhir 2026, Analis: Realistis dalam Skenario Bullish
Secara keseluruhan, sektor otomotif dan suku cadang di tahun 2026 belum akan memasuki fase strong recovery, namun selektivitas emiten menjadi kunci. “Sehingga investor sebaiknya fokus pada perusahaan dengan neraca keuangan yang sehat, diversifikasi pendapatan, dan kemampuan untuk bertahan di tengah siklus industri yang masih menantang,” jelas Ekky.
Tak lupa, Ekky memberikan rekomendasi Buy untuk saham ASII dengan target harga Rp 6.950 per saham. Ia menyatakan bahwa ASII layak dicermati oleh investor jangka menengah-panjang karena valuasinya relatif murah secara historis dan didukung oleh diversifikasi bisnisnya yang solid. Selain itu, Ekky juga merekomendasikan saham AUTO untuk Buy dengan target harga Rp 3.000 per saham. Di sisi lain, Mifta merekomendasikan saham ASII untuk Hold dengan target harga Rp 7.000 per saham. Adapun Christine menjagokan saham DRMA untuk Buy dengan target harga Rp 1.410 per saham.




