
BANYU POS – JAKARTA. Pasar minyak mentah global mengalami koreksi signifikan setelah laporan mengenai penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh Amerika Serikat (AS) mencuat. Mengacu pada data Trading Economics pada pukul 15.00 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat terkoreksi menjadi US$ 56,81 per barel, menunjukkan penurunan harian sebesar 0,88%.
Girta Putra Yoga, seorang pakar dari Research and Development ICDX, menyoroti bahwa tren bearish pada harga minyak masih berlanjut. Sentimen negatif ini sebagian besar dipicu oleh rilis data ekonomi terbaru dari China yang menunjukkan performa lesu. Meskipun demikian, komitmen kuat dari aliansi produsen minyak OPEC+ untuk menjaga stabilitas produksi, ditambah dengan potensi memanasnya konflik geopolitik di Iran, berhasil menahan laju penurunan harga minyak agar tidak semakin dalam.
Surplus Pasokan, Harga Minyak Mentah Terkoreksi Sepanjang Tahun 2025
Perlambatan aktivitas ekonomi China menjadi salah satu faktor penekan utama. Hasil survei sektor swasta yang dirilis pada hari Senin mengungkap bahwa aktivitas sektor jasa di Tiongkok pada bulan Desember mencatat laju pertumbuhan terlambat dalam enam bulan terakhir. Indeks PMI Jasa Layanan Umum, menurut S&P Global, turun menjadi 52,0 pada Desember dari 52,1 di bulan sebelumnya, menandai level terlemah sejak Juni. “Sinyal melesunya aktivitas ekonomi di China ini memicu kekhawatiran serius akan potensi penurunan permintaan di negara importir minyak terbesar dunia tersebut,” jelas Yoga kepada Kontan, Senin (5/1/2026).
Yoga menambahkan, sentimen lain yang turut membayangi pasar minyak adalah prospek peningkatan produksi minyak Venezuela dalam jangka panjang. Hal ini menyusul pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengindikasikan rencana AS untuk merekonstruksi infrastruktur energi Venezuela pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Venezuela, sebagai negara pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, pernah mencapai puncak produksi sekitar 3 juta barel per hari (bph) pada pertengahan tahun 2000-an.
Harga Minyak Mentah Terkoreksi, OPEC+ dan Geopolitik Masih Menopang Pasar
Di tengah tekanan pasar, OPEC dan sekutunya pada hari Minggu (4/1/2026) mencapai kesepakatan untuk mempertahankan tingkat produksi minyak yang stabil. Keputusan ini diambil setelah harga minyak global sepanjang tahun 2025 mencatatkan penurunan tajam lebih dari 18%. Dalam pertemuan penting tersebut, OPEC+ juga mendiskusikan berbagai isu krusial, termasuk ketegangan politik antara anggota kunci Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang sempat memuncak bulan lalu, serta insiden penangkapan Presiden Venezuela oleh AS di akhir pekan.
Dari kawasan Timur Tengah, ketegangan di Iran menjadi sorotan. Aksi protes yang berujung pada bentrokan kekerasan dan menewaskan sedikitnya 16 orang selama seminggu kerusuhan, berpotensi meningkat lebih lanjut. Terutama setelah Presiden AS mengancam akan memberikan dukungan kepada para demonstran jika mereka menghadapi kekerasan. Menanggapi ancaman tersebut, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah tunduk kepada Amerika Serikat.
Cek Rekomendasi Saham Pilihan di Sektor Petrokimia Saat Harga Minyak Mentah Melemah
Dari perspektif analisis teknikal, Yoga memproyeksikan bahwa harga minyak mentah WTI berpotensi menguji posisi resistance terdekat di level US$ 60 per barel. Namun, jika muncul katalis negatif yang signifikan, harga berisiko mengalami koreksi lebih lanjut hingga mencapai level support terdekat di US$ 55 per barel.




