Zurich Syariah nilai potensi penurunan suku bunga BI berdampak positif bagi SBSN

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. PT Zurich General Takaful Indonesia (Zurich Syariah) memandang potensi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan terjadi pada tahun ini akan membawa dampak signifikan terhadap instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Sebagai informasi, sepanjang tahun 2025, Bank Indonesia telah melakukan pemangkasan suku bunga acuan secara akumulatif sebanyak 125 basis poin (bps), membawa suku bunga kini berada di level 4,75%.

Advertisements

Presiden Direktur PT Zurich General Takaful Indonesia, Hilman Simanjuntak, menjelaskan bahwa proyeksi penurunan suku bunga BI tersebut dapat menciptakan sentimen positif bagi harga SBSN, yang cenderung akan mengalami penguatan. “Meskipun demikian, imbal hasil yang ditawarkan dari penerbitan SBSN baru kemungkinan akan lebih rendah dibandingkan sebelumnya,” ungkap Hilman kepada Kontan pada Minggu (1/2/2026).

Hilman lebih lanjut memaparkan bahwa SBSN tetap memegang peranan krusial sebagai pilihan investasi yang menarik bagi industri asuransi syariah, terutama di tengah volatilitas dan ketidakpastian pasar global. Menurutnya, instrumen SBSN merupakan pilihan strategis untuk menjaga keseimbangan optimal antara potensi imbal hasil yang diharapkan dan tingkat risiko yang terukur. Langkah ini sekaligus mendukung komitmen perusahaan dalam mengelola portofolio investasi secara prudent dan berkesinambungan.

Dalam menentukan strategi penempatan investasi untuk tahun 2026, Hilman menegaskan bahwa Zurich Syariah akan tetap memprioritaskan SBSN sebagai instrumen utama investasi. Pertimbangan ini didasarkan pada stabilitas yang melekat pada SBSN serta karakteristik jangka menengah hingga panjang yang dimilikinya.

Advertisements

Namun, di samping fokus utama tersebut, Hilman juga menyatakan komitmen pihaknya untuk menerapkan strategi diversifikasi portofolio yang komprehensif, berbasis pada prinsip syariah. Portofolio ini akan mencakup deposito syariah, SBSN, serta sukuk korporasi. “Kami senantiasa terbuka terhadap peluang diversifikasi ke instrumen-instrumen lain yang menawarkan potensi imbal hasil yang menarik dengan tingkat risiko yang tetap termonitor, selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan dan dinamika pasar yang berlaku,” tambah Hilman.

Dukungan terhadap strategi ini juga tercermin dari data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hingga November 2025, total investasi yang dihimpun oleh industri asuransi syariah secara keseluruhan mencapai Rp 40,20 triliun, menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 12,42% secara year-on-year (YoY). Lebih spesifik, penempatan investasi pada SBSN per November 2025 telah mencapai angka Rp 17,26 triliun, melonjak 19,86% YoY. Kontribusi SBSN ini sangat menonjol, dengan porsi sebesar 42,93% dari total keseluruhan portofolio investasi industri asuransi syariah.

Advertisements

Also Read

Tags