
BANYU POS – JAKARTA. Indeks High Dividend20 (HDIV20) terus menunjukkan kinerja positif yang stabil, bahkan di tengah fluktuasi pasar saham yang cenderung tidak menentu. Tercatat, Indeks HDIV20 melonjak 2,38% secara year-to-date (YTD) per Jumat (20/2), sebuah pencapaian yang kontras dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru terkoreksi 4,34% pada periode yang sama.
Menurut Fath Aliansyah Budiman, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, kenaikan Indeks HDIV20 didorong oleh performa unggul beberapa saham. Saham-saham ini menunjukkan kinerja keuangan yang kuat, terutama dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas dan tingginya ekspektasi pembagian dividen. Emiten seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi penopang utama.
Tidak hanya itu, saham-saham dari sektor perbankan raksasa, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), juga diperkirakan akan memberikan sentimen positif melalui pembagian dividen yang menarik. Fath menambahkan, “Hal ini berpotensi menjadi katalisator yang menarik dan berdampak positif pada pergerakan Indeks HDIV20 ke depan,” seperti yang disampaikannya kepada Kontan pada Jumat (20/2/2026).
Saham-Saham Ini Berpotensi Jadi Penopang IDX Energy di Tengah Tekanan
Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), menguraikan bahwa penguatan HDIV20 merupakan kombinasi dari siklus musiman dan strategi rotasi ke saham-saham defensif (defensive rotation). Dalam kondisi pasar yang penuh gejolak dan ketidakpastian, saham-saham dengan dividen tinggi menjadi pilihan strategis bagi investor untuk menjaga nilai portofolio mereka atau dikenal dengan capital preservation. “Pasar sudah mulai memperhitungkan (pricing-in) ekspektasi Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dari emiten-emiten berkapitalisasi besar (big caps) yang dijadwalkan akan membagikan dividen untuk tahun buku 2025,” ujarnya pada Jumat.
Senada, Miftahul Khaer, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa kenaikan Indeks High Dividend20 yang meskipun tipis adalah fenomena yang wajar, dipicu oleh dua faktor utama: mendekatnya musim pembagian dividen dan kecenderungan investor untuk beralih ke saham-saham yang lebih defensif di tengah kondisi pasar yang tidak pasti. “Kondisi pasar yang penuh ketidakpastian membuat investor cenderung mencari emiten dengan fundamental kuat, arus kas stabil, dan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten,” tambahnya pada Jumat.
Melihat ke depan, konstituen Indeks High Dividend20 masih dianggap sebagai panduan yang relevan bagi investor dalam mengidentifikasi emiten dengan potensi dividen yang menarik. Wafi menegaskan bahwa Indeks HDIV20 tetap merupakan alat screening awal yang efektif bagi investor. Ini karena pemilihan konstituennya tidak hanya mempertimbangkan besaran imbal hasil (yield) dividen, tetapi juga telah melalui penyaringan ketat berdasarkan aspek likuiditas dan kapitalisasi pasar emiten. Namun, ia mengingatkan, “Jangan hanya mengandalkan indeks ini tanpa melakukan analisis lanjutan yang mendalam.”
IDX Value30 Ungguli IHSG, Saham Valuasi Murah Bakal Jadi Incaran Utama?
Prospek konstituen Indeks HDIV20 di tahun 2026 diprediksi tetap solid, terutama didukung oleh dominasi saham-saham perbankan raksasa dan emiten infrastruktur dari subsektor telekomunikasi yang konsisten menunjukkan kinerja positif sepanjang tahun ini. Sentimen positif yang diharapkan datang dari normalisasi suku bunga domestik dan stimulus fiskal pemerintah. Di sisi lain, potensi sentimen negatif mungkin berasal dari konstituen sektor komoditas yang diperkirakan akan menghadapi normalisasi harga jual.
Para analis berpendapat bahwa investor masih memiliki kesempatan untuk masuk ke saham-saham ini, mengingat puncak musim pembagian dividen mayoritas terjadi antara akhir Maret hingga Mei. Oleh karena itu, “Masih ada ruang bagi investor untuk mengamankan potensi keuntungan modal (capital gain) sekaligus imbal hasil dividen (dividend yield),” jelas Wafi. Dengan prospek tersebut, Wafi merekomendasikan saham beli untuk BMRI dengan target harga Rp 6.300 per saham, TLKM (Rp 4.200 per saham), ASII (Rp 7.800 per saham), dan PTBA (Rp 3.400 per saham).
Realisasi Anggaran Infrastruktur Rp 142,1 Triliun, Ini Efeknya ke Emiten IDX Infra
Miftahul juga sependapat bahwa konstituen Indeks HDIV20 masih merupakan titik awal yang baik untuk menemukan emiten berdividen menarik. Namun, ia menekankan pentingnya seleksi lebih lanjut dengan mempertimbangkan konsistensi laba, kekuatan arus kas (cash flow), serta keberlanjutan rasio pembayaran dividen (payout ratio), dan tidak hanya terpaku pada yield yang tinggi sesaat. Untuk tahun 2026, prospek emiten-emiten dalam Indeks HDIV20 masih menjanjikan di beberapa sektor. Sektor perbankan, misalnya, akan sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan tren suku bunga.
Sementara itu, sektor energi akan bergantung pada fluktuasi harga komoditas global dan kebijakan pemerintah, sedangkan sektor konsumer akan didorong oleh daya beli masyarakat. Miftahul memberikan saran, “Belum terlambat untuk berinvestasi, asalkan valuasi emiten masih masuk akal dan strategi investasi dilakukan secara bertahap dengan fokus pada fundamental yang kuat, bukan sekadar mengikuti momentum pasar.” Miftahul sendiri merekomendasikan akumulasi untuk saham BBRI dengan target harga Rp 4.500 per saham dan BMRI dengan target Rp 5.950 per saham.
IDX Sector Healthcare Melonjak 43,78% Sepanjang 2025, Begini Prospeknya Tahun Ini




