BANYU POS JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot terus menunjukkan tren pelemahan signifikan, mengakhiri pekan pertama Maret 2026 dengan tekanan yang kian terasa. Mata uang Garuda ini ditutup pada level Rp 16.925 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (6/3/2026), mengalami depresiasi 0,12% dari penutupan sehari sebelumnya di angka Rp 16.902 per dolar AS. Pergerakan ini menempatkan nilai tukar rupiah semakin dekat dengan level psikologis krusial Rp 17.000 per dolar AS, sebuah ambang batas yang sangat dicermati pelaku pasar.
Pelemahan ini bukan hanya terjadi dalam sehari; sepanjang pekan terakhir, rupiah juga mencatatkan pelemahan yang cukup dalam. Dibandingkan posisi penutupan pada Jumat (27/2/2026) di level Rp 16.787 per dolar AS, mata uang domestik ini telah terdepresiasi sekitar 0,82% atau setara 138 poin. Tekanan mingguan yang konsisten ini mengindikasikan bahwa sentimen negatif terhadap rupiah telah berlangsung berkelanjutan, memicu kekhawatiran lebih lanjut di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menyikapi kondisi ini, Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai bahwa pasar keuangan global saat ini sedang menghadapi fase yang penuh tantangan dengan tingkat volatilitas yang tinggi. Menurutnya, pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang pekan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang kuat, yang pada gilirannya memicu sikap hati-hati atau aksi risk-off di kalangan pelaku pasar global. Dinamika ini secara langsung menekan performa mata uang domestik.
Wahyu menjelaskan, salah satu faktor utama yang menjadi sorotan adalah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Konflik ini menciptakan sentimen ketidakpastian yang berdampak pada stabilitas pasar finansial. Selain itu, pelaku pasar juga terus mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), di tengah kekhawatiran akan lonjakan inflasi global serta prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang masih samar.
Tekanan tambahan terhadap rupiah juga datang dari kenaikan harga minyak dunia yang signifikan. Lonjakan harga komoditas energi ini berpotensi membebani fiskal Indonesia, khususnya terkait subsidi energi, dan juga meningkatkan risiko kenaikan harga bahan bakar non-subsidi, yang pada akhirnya dapat mengikis daya beli masyarakat. Di sisi lain, sentimen negatif turut muncul dari revisi prospek kredit oleh lembaga pemeringkat internasional, yang menyoroti besarnya kewajiban pembayaran utang luar negeri Indonesia di tengah tren penguatan dolar AS secara global, menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi rupiah.
Meski dihadapkan pada berbagai tekanan, Wahyu Laksono menilai bahwa rupiah berpeluang untuk sedikit menguat. Skenario ini dapat terwujud apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda atau setidaknya tidak semakin memburuk. Namun, ia memperingatkan, “Jika eskalasi berlanjut, tekanan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven kemungkinan masih akan berlanjut,” yang berarti rupiah akan tetap berada dalam bayang-bayang pelemahan. Untuk itu, pelaku pasar juga sangat menantikan langkah lanjutan dari pemerintah dan Bank Indonesia dalam upaya menjaga kredibilitas pasar keuangan domestik serta meredam kekhawatiran investor asing.
Untuk prospek sepekan ke depan, Wahyu Laksono memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar, yakni antara Rp 16.700 hingga Rp 17.100 per dolar AS. Level support diperkirakan berada di angka Rp 16.800 per dolar AS, yang menunjukkan batas bawah kemungkinan penguatan jangka pendek. Sementara itu, level resistance diperkirakan berada di sekitar Rp 17.000 per dolar AS, sebuah ambang batas psikologis yang menjadi penanda potensi pelemahan rupiah lebih lanjut. Proyeksi ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan bagi para pelaku investasi dan pasar dalam menghadapi volatilitas yang akan datang.




