Pasar saham jelang Lebaran diprediksi volatil, investor diminta lebih hati-hati

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menjelang periode libur panjang Lebaran, dinamika pasar saham domestik kerap diwarnai oleh volatilitas yang cukup tinggi. Kondisi ini menuntut investor untuk lebih cermat dan berhati-hati dalam merancang strategi investasi jangka pendek mereka.

Advertisements

Hari Rachmansyah, seorang Equity Analyst dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), mengamati bahwa pasar saham saat ini tengah berada dalam fase defensif. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya berbagai risiko global yang memengaruhi sentimen pasar.

Lebih lanjut, Hari menjelaskan bahwa eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, serta adanya arus keluar dana asing menjadi faktor-faktor utama yang mendorong kehati-hatian di kalangan pelaku pasar.

“Mendekati libur Lebaran, pasar saham cenderung menunjukkan pergerakan volatil dengan kecenderungan defensif. Selain itu, secara musiman, seringkali terjadi aksi ambil untung atau profit taking oleh investor guna mengamankan likuiditas sebelum periode libur panjang,” ungkapnya kepada Kontan pada Jumat (13/3/2026).

Advertisements

Saham Big Banks Kompak Merah Jumat (13/3/2026), Tapi Fundamentalnya Masih Kuat

Dalam menghadapi kondisi pasar yang tidak menentu ini, Hari Rachmansyah menyarankan para investor untuk mengurangi agresivitas transaksi. Fokus utama sebaiknya dialihkan pada pengelolaan risiko yang lebih ketat.

Investor dianjurkan untuk mempertahankan sebagian portofolio dalam bentuk kas. Selain itu, penting untuk lebih selektif dalam memilih saham dengan fundamental yang kuat serta likuiditas yang tinggi.

Ia juga menambahkan bahwa beberapa sektor menunjukkan daya tarik relatif di tengah situasi saat ini. Sektor-sektor tersebut meliputi energi dan komoditas, serta saham-saham defensif seperti perbankan dan telekomunikasi yang dinilai lebih tangguh menghadapi ketidakpastian global.

Meskipun pasar masih fluktuatif, strategi buy on weakness secara bertahap tetap dianggap relevan bagi investor. Pendekatan ini memungkinkan investor untuk mengakumulasi saham pada harga yang lebih rendah.

“Pendekatan yang lebih aman adalah melakukan buy on weakness secara bertahap, bukan dengan masuk dalam jumlah besar sekaligus,” tegasnya.

Hari menilai, koreksi yang terjadi belakangan ini telah menciptakan peluang. Valuasi sejumlah saham kini menjadi lebih menarik, khususnya bagi saham-saham yang ditopang oleh fundamental kuat dan kinerja yang stabil.

Bagi investor yang memilih untuk menahan posisi, Hari menyarankan agar bersabar menunggu kemunculan beberapa katalis utama sebelum kembali mengambil langkah investasi yang lebih agresif di pasar.

Katalis-katalis tersebut mencakup meredanya tensi geopolitik, stabilisasi harga minyak dunia, serta kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik, yang dapat memberikan dorongan positif bagi pasar.

Hari mengamati bahwa secara historis, pergerakan pasar setelah libur panjang cenderung memberikan arah yang lebih jelas. Hal ini dikarenakan volume transaksi yang kembali meningkat, mencerminkan aktivitas pasar yang lebih hidup.

“Periode setelah libur Lebaran hingga awal kuartal kedua seringkali menjadi momentum ideal untuk mengevaluasi kembali dan merumuskan strategi masuk ke pasar,” imbuhnya.

Dari perspektif pergerakan indeks, Hari memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan bergerak sideways dengan tingkat volatilitas yang cukup tinggi dalam jangka pendek.

Tekanan utama terhadap pasar diproyeksikan berasal dari sentimen global, seperti konflik geopolitik yang belum mereda serta kenaikan harga energi. Faktor-faktor ini berpotensi memicu inflasi global dan menunda pelonggaran kebijakan moneter.

Selain itu, psikologi investor yang cenderung defensif menjelang libur panjang juga turut berkontribusi dalam membatasi pergerakan indeks.

Secara teknikal, Hari memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang support di level 6.952 dan resistance di kisaran 7.325 dalam jangka pendek.

IHSG Anjlok 3,05% ke 7.137 pada Jumat (13/3), DSSA, AMMN, ISAT Jadi Top Losers LQ45

Advertisements

Also Read

Tags