PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) memancarkan optimisme kuat terkait prospek keuangannya, memproyeksikan akan kembali mencatatkan laba pada tahun buku 2026. Proyeksi positif ini muncul setelah perseroan mencatat lonjakan rugi bersih yang signifikan sebesar 116,62% menjadi Rp459,67 miliar atau setara US$27,49 juta sepanjang tahun buku 2025. Kinerja negatif ini, menurut manajemen, merupakan cerminan dari fase intensif pembangunan proyek tambang utama mereka.
Presiden Direktur EMAS, Boyke Poerbaya Abidin, menjelaskan bahwa transisi menuju profitabilitas di tahun 2026 akan didorong oleh dimulainya pendapatan dari penjualan emas di tambang Emas Pani. “Perseroan memperkirakan kinerja keuangan akan berbalik menuju profitabilitas pada tahun buku 2026. Untuk tahun 2026, Perseroan menargetkan produksi emas sebesar 100-115 ribu ons,” tegas Boyke dalam keterangan resminya. Proyeksi ini menandai perubahan fundamental dari posisi perusahaan yang selama 2025 masih berada dalam tahap konstruksi, sehingga belum membukukan pendapatan dari aktivitas produksi emas.
Langkah konkret menuju pencapaian target tersebut sudah terlihat dengan dilakukannya pengiriman emas perdana oleh EMAS kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada 27 Februari 2026. Menyusul kerja sama strategis ini, perseroan diharapkan mulai mencatat penjualan emas pertamanya pada kuartal pertama 2026. Komitmen ini diperkuat melalui penandatanganan Perjanjian Penjualan dan Pembelian Emas atau Gold Sales & Purchase Agreement (GSPA) dengan ANTM sebagai pembeli utama.
Menurut Boyke, dimulainya produksi emas di proyek Pani merupakan tonggak penting, menandai transisi perusahaan dari fase pembangunan menuju produksi komersial yang berkelanjutan. “Fokus kami saat ini adalah memastikan proses ramp-up berjalan dengan baik sehingga Tambang Emas Pani dapat mencapai tingkat produksi optimal,” tambahnya, menegaskan prioritas manajemen saat ini.
Pengembangan proyek strategis ini didukung oleh pembiayaan signifikan dari induk usahanya, yakni PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Dukungan ini memungkinkan pembangunan proyek dapat terlaksana secara efisien sebelum perseroan melangsungkan penawaran umum perdana saham (IPO). Setelah IPO, EMAS juga melakukan penyesuaian struktur permodalan sebagai bagian dari strategi pengelolaan neraca yang lebih optimal. Tambang Emas Pani diperkirakan menyimpan sumber daya mineral melimpah, dengan potensi lebih dari 7 juta ons emas, dan dirancang sebagai operasi tambang terbuka dengan metode heap leach yang efisien. Ke depan, perusahaan juga berencana untuk meningkatkan kapasitas pengolahan secara bertahap melalui pembangunan fasilitas carbon-in-leach, yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2028.
Rugi Bersih Merdeka Gold (EMAS) Melonjak 116% Jadi Rp 459 Miliar Sepanjang 2025
Di balik optimisme masa depan, laporan keuangan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) sepanjang tahun 2025 menunjukkan kerugian bersih sebesar US$27,49 juta, atau setara dengan Rp459,67 miliar. Angka kerugian ini melonjak drastis sebesar 116,62% dibandingkan dengan kerugian pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$12,69 juta.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan tahun 2025, pendapatan EMAS tercatat sangat minim, hanya sebesar US$131,96 ribu. Pendapatan ini merosot tajam 92,51% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai US$1,74 juta, dan seluruhnya berasal dari bisnis penyewaan alat berat. Sejalan dengan penurunan pendapatan yang signifikan, beban pokok pendapatan EMAS juga menyusut menjadi US$277,95 ribu dari sebelumnya US$1,18 juta secara tahunan (year on year/yoy).
Namun, lonjakan kerugian yang dialami EMAS terutama disebabkan oleh peningkatan substansial pada beban umum dan administrasi perseroan. Beban ini naik signifikan dari US$1,01 juta pada tahun 2024 menjadi US$9,48 juta pada tahun 2025. Peningkatan drastis beban operasional tersebut kemudian mendorong rugi usaha perseroan melonjak menjadi US$9,63 juta, dari sebelumnya hanya US$449,79 ribu secara tahunan.




