Bursa Asia jatuh Senin (23/3) pagi, Nikkei dan Kospi turun 4%

Hikma Lia

BANYU POS – Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik mengalami kejatuhan tajam pada perdagangan Senin (23/3/2026) pagi. Sentimen negatif ini dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang semakin memanas, membuat investor global menahan napas dan cemas.

Advertisements

Situasi memanas ini tak terlepas dari meningkatnya ancaman militer antara Amerika Serikat dan Iran, yang telah mengguncang stabilitas global. Konflik di kawasan tersebut kini telah memasuki pekan keempat, memperparah kekhawatiran akan risiko geopolitik yang membayangi ekonomi dunia.

Puncak ketegangan terjadi pada Sabtu lalu, ketika Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum tegas. Ia menyatakan akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak segera membuka Selat Hormuz sepenuhnya dalam waktu 48 jam. Selat ini merupakan jalur vital bagi aliran energi global, sehingga ancaman tersebut memiliki implikasi serius terhadap pasokan minyak dunia.

Tidak tinggal diam, Mohammad Bagher Ghalibaf dari Iran segera memberikan balasan. Ia mengancam akan menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi di wilayah Teluk jika ultimatum Amerika Serikat benar-benar dilaksanakan, mengisyaratkan potensi kerusakan besar di kawasan tersebut.

Advertisements

Melalui platform X, Ghalibaf memperjelas ancamannya, menyatakan, “Infrastruktur kritis dan fasilitas energi serta minyak di seluruh kawasan akan dianggap target sah dan dihancurkan secara permanen, serta harga minyak akan tetap tinggi untuk waktu yang lama.” Pernyataan ini secara langsung menyoroti potensi dampak ekonomi global dari konflik yang memanas.

Sehari kemudian, pada Minggu (22/3/2026), Ghalibaf kembali memperluas cakupan ancamannya. Kali ini, ia menyasar pemegang Treasury AS, memperingatkan bahwa entitas keuangan yang membeli obligasi pemerintah AS dan “mendanai anggaran militer AS” akan dianggap sebagai target sah. Selain itu, pangkalan militer juga masuk dalam daftar ancaman tersebut, menambah daftar aset yang berpotensi diserang.

Meskipun retorika memanas, pasar minyak menunjukkan stabilitas relatif di awal perdagangan Senin. Minyak mentah Brent crude sempat turun tipis 0,25% menjadi US$111,97 per barel pada pukul 19:16 EST. Sementara itu, U.S. West Texas Intermediate (WTI) juga terkoreksi 0,6% menjadi US$97,64 per barel. Fluktuasi ini menunjukkan kewaspadaan pasar namun belum ada kepanikan yang signifikan di sektor komoditas energi.

Namun, gambaran berbeda terlihat di bursa saham Asia. Melansir data CNBC, indeks S&P/ASX 200 Australia terpantau anjlok lebih dari 1,8% pada awal sesi perdagangan. Di Jepang, indeks acuan Nikkei 225 membuka perdagangan dengan penurunan tajam 4%, diikuti oleh indeks Topix yang juga tergelincir 2,8%, mencerminkan kekhawatiran investor.

Kondisi serupa juga melanda Korea Selatan, di mana indeks Kospi blue-chip merosot drastis 4,6% dan Kosdaq anjlok 3,7%. Untuk Bursa Hong Kong, indeks Hang Seng diproyeksikan dibuka lebih rendah di level 24.725, jauh di bawah penutupan terakhirnya pada 25.277,32, mengindikasikan tekanan jual yang kuat di seluruh pasar regional.

Melihat gejolak ini, para analis pasar secara seragam mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik yang berkepanjangan berpotensi memperdalam tekanan pada pasar regional, bahkan berimbas ke pasar global secara lebih luas. Ketidakpastian ini menciptakan lingkungan investasi yang volatil dan penuh risiko.

Shane Oliver, Kepala Strategi Investasi di AMP Capital, menegaskan, “Investor kini menghadapi risiko eskalasi yang dapat secara signifikan mengganggu pasokan energi dan stabilitas finansial global.” Pernyataan ini menjadi pengingat serius bagi para pelaku pasar akan bahaya yang mengintai di tengah ketegangan geopolitik yang meruncing.

Advertisements

Also Read

Tags