Surya Citra (SCMA) raih kenaikan laba 29,61% sepanjang 2025, cek prospeknya pada 2026

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mencatatkan peningkatan laba bersih yang signifikan pada tahun 2025, sebuah pencapaian yang menonjol di tengah penurunan pendapatan yang dialami perusahaan.

Advertisements

Berdasarkan laporan kinerja keuangannya, SCMA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 771,01 miliar di tahun 2025. Angka ini merefleksikan pertumbuhan impresif sebesar 29,61% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan dengan laba tahun sebelumnya yang sebesar Rp 594,85 miliar. Ironisnya, di periode yang sama, pendapatan emiten konstituen LQ45 ini justru mengalami koreksi 2,4% yoy, turun menjadi Rp 6,88 triliun dari posisi sebelumnya Rp 7,05 triliun.

Secara lebih rinci, kontribusi pendapatan SCMA berasal dari berbagai segmen. Segmen televisi dan platform multimedia lainnya menyumbang Rp 4,72 triliun, disusul oleh segmen digital sebesar Rp 2,09 triliun. Pembuatan konten dan pendukung mencatat pendapatan Rp 1,78 triliun, sementara jasa pemasaran dan pendukung berkontribusi Rp 746,86 miliar. Perlu dicatat, total eliminasi mencapai Rp 2,46 triliun.

Direktur SCMA, Rusmiyati Djajaseputra, menjelaskan bahwa lonjakan laba bersih SCMA, yang kontras dengan dinamika pendapatan, utamanya didorong oleh kesuksesan perusahaan dalam mengimplementasikan strategi peningkatan efisiensi. Ini terutama terlihat dari sisi biaya konten (content cost) serta penyempurnaan menyeluruh pada proses bisnis internal.

Advertisements

Sepanjang tahun 2025, Rusmiyati menguraikan bahwa Emtek Media secara konsisten dan disiplin melakukan pengelolaan biaya produksi konten yang lebih optimal. Strategi ini mencakup pemilihan konten yang lebih selektif berdasarkan performa, optimalisasi pemanfaatan library content yang sudah ada, serta peningkatan efektivitas perencanaan program (programming) guna menghasilkan imbal hasil (return) investasi konten yang lebih baik.

Selain dari aspek konten, perusahaan juga menggenjot efisiensi pada proses bisnis. Langkah-langkah yang diambil meliputi peningkatan produktivitas operasional, penguatan sinergi antarunit bisnis dalam ekosistem media terintegrasi, serta pemanfaatan teknologi secara optimal untuk mengefisiensikan alur kerja (workflow) dan manajemen biaya.

Pendekatan strategis ini memungkinkan SCMA untuk memperbaiki struktur biaya secara signifikan tanpa mengorbankan kualitas konten maupun daya saing program yang ditawarkan kepada pemirsa dan mitra usaha. Hal ini terbukti dengan pencapaian average audience share Free-to-Air (FTA) yang dimiliki Emtek Media sepanjang 2025 (termasuk MOJI) yang mencapai 38,1%, menempatkannya di posisi tertinggi di antara grup media lainnya. Bahkan, dominasi ini semakin kuat dengan mencapai 42,7% hingga akhir Februari 2026.

Perbaikan profitabilitas SCMA juga diperkuat oleh kontribusi bisnis digital yang semakin solid, khususnya dari platform Over-The-Top (OTT) Vidio. Pertumbuhan ini terlihat dari peningkatan jumlah pelanggan berbayar (subscription) dan pengembangan iklan digital yang lebih terukur. Vidio sendiri secara konsisten terus mengukuhkan posisinya sebagai platform OTT nomor satu di Indonesia.

“Secara keseluruhan, kombinasi antara investasi konten yang efisien, optimalisasi proses bisnis, serta pengelolaan biaya yang lebih disiplin menjadi faktor pendorong utama peningkatan laba bersih SCMA,” tegas Rusmiyati kepada Kontan pada Jumat (27/3/2026).

Melihat ke depan, perseroan berkomitmen untuk terus menjalankan strategi yang berfokus pada keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan dan disiplin profitabilitas. Tujuannya adalah untuk memastikan kinerja keuangan yang sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Rusmiyati optimistis terhadap prospek industri media pada tahun 2026, yang dipandang akan tetap didukung oleh pertumbuhan konsumsi konten dan penguatan ekosistem media multiplatform Emtek Media yang terus berkembang. Sejalan dengan transformasi industri ini, SCMA terus memperkuat strategi pengembangan bisnis digital dan OTT, optimalisasi distribusi serta monetisasi konten lintas platform, dan pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk meningkatkan kualitas produksi konten, efektivitas distribusi, dan keterlibatan (engagement) pemirsa.

Pendekatan inovatif ini juga merupakan bagian dari upaya Perseroan dalam memperkuat monetisasi konten dan menjaga daya saing di tengah lanskap industri media yang semakin dinamis. Namun demikian, perusahaan juga menyoroti sejumlah tantangan signifikan, terutama praktik pembajakan konten digital yang masih menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan industri media dan kreatif.

Target dan Strategi Bisnis

Meskipun enggan mengungkapkan target pendapatan dan laba secara spesifik untuk tahun 2026, SCMA menegaskan bahwa mereka menargetkan pertumbuhan kinerja yang positif. Fokus utama adalah penguatan fundamental bisnis serta peningkatan kualitas pendapatan melalui ekspansi monetisasi multiplatform.

“Perseroan memandang bahwa strategi pertumbuhan ke depan tidak hanya bertumpu pada peningkatan top line, tetapi juga pada penguatan profitabilitas melalui optimalisasi aset konten, peningkatan efektivitas penjualan, serta pengembangan ekosistem media terintegrasi yang dimiliki Perseroan,” tambah Rusmiyati.

Dalam rangka mencapai target tersebut, SCMA akan terus memperkuat posisi program-program unggulan guna mempertahankan kepemimpinan pangsa pemirsa di televisi Free-to-Air (FTA). Selain itu, perusahaan juga akan mendorong pertumbuhan bisnis digital melalui peningkatan monetisasi platform Vidio, baik dari sisi langganan (subscription) maupun periklanan (advertising).

Pengembangan konten premium, termasuk siaran olahraga dan konten orisinal, yang memiliki daya tarik komersial tinggi dan mampu mendorong pertumbuhan pengguna serta engagement secara berkelanjutan, juga menjadi fokus utama SCMA. Selanjutnya, perseroan akan mengoptimalkan strategi monetisasi lintas platform melalui pendekatan penjualan terintegrasi antara televisi dan digital, sehingga setiap konten dan inventori dapat dimaksimalkan nilai komersialnya.

SCMA juga secara berkelanjutan memperkuat kapabilitas analisis data (data analytics) dan solusi periklanan berbasis data (data driven advertising solutions) untuk meningkatkan efektivitas kampanye pengiklan dan memberikan nilai tambah bagi mitra bisnis. Ke depan, SCMA akan terus mengembangkan pendekatan strategi ekosistem konten, di mana setiap hak kekayaan intelektual (intellectual property) tidak hanya berfungsi sebagai tayangan, melainkan sebagai aset strategis yang dapat dimonetisasi melalui berbagai kanal distribusi.

“Dengan pendekatan ini, perseroan optimistis dapat menciptakan pertumbuhan bisnis yang lebih tangguh (resilien), adaptif terhadap perubahan industri, serta berkelanjutan dalam jangka panjang,” tutup Rusmiyati.

Menanggapi kinerja SCMA, Abdul Azis Setyo Wibowo, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengungkapkan bahwa prospek SCMA untuk tahun 2026 cenderung moderat dengan kecenderungan membaik. Ini ditopang oleh potensi pemulihan belanja iklan seiring stabilisasi ekonomi dan momentum acara-acara nasional.

“Peluang utama datang dari ekspansi digital dan OTT, monetisasi konten, serta sinergi ekosistem media yang lebih luas,” ungkap Azis. Namun, ia juga menyoroti tantangan besar, terutama dari pergeseran konsumsi ke platform digital, fragmentasi audiens, serta tekanan terhadap tarif iklan TV konvensional. Selain itu, keberlanjutan efisiensi biaya akan menjadi kunci penting untuk menjaga profitabilitas jika pertumbuhan pendapatan masih terbatas.

Dari sisi teknikal, Azis menambahkan bahwa pergerakan saham SCMA saat ini masih berada pada fase sideways dalam jangka pendek. Ia merekomendasikan akumulasi beli jika harga menembus Rp 286, dengan potensi target antara Rp 300-Rp 320, seraya tetap memperhatikan area support di Rp 266-Rp 260 per saham.

Di sisi lain, Reyhan Pratama, Senior Teknikal Analis Sucor Sekuritas, memiliki pandangan yang berbeda. Secara teknikal, Reyhan melihat tren SCMA saat ini masih bearish, di mana harga sudah melakukan rebound namun tertahan pada level resisten Rp 284. “Sehingga masih ada potensi penurunan lanjutan dengan support di level Rp 242 dan Rp 216,” tutur Reyhan.

Berdasarkan analisisnya, Reyhan merekomendasikan jual saham SCMA karena arah tren masih cenderung menurun dan upaya rebound telah tertahan di level resisten.

Advertisements

Also Read

Tags