BANYU POS, NEW YORK – Pasar saham Wall Street kembali menghadapi tekanan pada Jumat (27/3/2026), di tengah berlanjutnya perang di Timur Tengah yang telah berlangsung sebulan penuh. Sentimen investor terpukul oleh ketidakpastian geopolitik, meskipun mereka tetap menantikan tanda-tanda de-eskalasi yang dapat meredakan ketegangan.
Pada pembukaan perdagangan, indeks-indeks utama mengalami pelemahan. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 55,9 poin atau 0,12% menuju level 45.904,25. Tak berbeda jauh, indeks S&P 500 turun 23,3 poin atau 0,36% ke posisi 6.453,89, sementara indeks Nasdaq Composite merosot 120,9 poin atau 0,56% menjadi 21.287,187. Dengan penurunan ini, S&P 500 dan Nasdaq diproyeksikan mencatat kerugian untuk minggu kelima berturut-turut, meskipun Dow Jones diperkirakan akan mengakhiri pekan dengan perubahan yang relatif tipis.
Situasi geopolitik yang memanas menjadi pemicu utama. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan akan kembali memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jika menolak, Iran diancam akan menghadapi penghancuran pembangkit energinya. Ultimatum ini muncul setelah Teheran menolak proposal 15 poin dari AS yang bertujuan mengakhiri konflik. Kendati ada penundaan, pasar tidak menunjukkan tanda-tanda ketenangan. Harga minyak justru melonjak, mencerminkan keraguan investor terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan antara kedua belah pihak.
David Morrison, seorang analis pasar senior di Trade Nation, menegaskan bahwa pasar keuangan saat ini sangat dipengaruhi oleh berita utama. “Investor diombang-ambingkan oleh klaim AS yang menyebut kemajuan dalam mengakhiri permusuhan, di saat Iran membantah adanya negosiasi serius,” ujarnya, seperti dikutip oleh Reuters. “Sangat jelas bahwa kedua belah pihak belum mendekati kesepakatan damai, sehingga untuk saat ini, perang masih akan berlanjut,” tambahnya, menggambarkan kegelisahan yang menyelimuti sentimen pasar.
Di tengah ketidakpastian ini, Indeks Volatilitas CBOE, yang sering dijuluki sebagai pengukur ketakutan di Wall Street, melonjak 2,56 poin menjadi 30. Namun, Glen Smith, kepala investasi GDS Wealth Management, menawarkan perspektif lain. Ia berpendapat, “Kecepatan penurunan pasar dalam beberapa minggu terakhir, ditambah fakta bahwa sebagian besar kekhawatiran ini didorong oleh satu narasi tunggal, yakni ketegangan geopolitik, menunjukkan bahwa pasar sedang berada di tengah-tengah koreksi, dan bukan pasar bearish.”
Dampak domino dari konflik Timur Tengah juga terasa di ranah ekonomi makro. Lonjakan harga minyak akibat perang di Iran telah membangkitkan kekhawatiran akan inflasi, yang secara signifikan mempersulit jalur penurunan suku bunga bagi bank sentral, khususnya Federal Reserve AS. Para pelaku pasar uang kini tidak lagi mengharapkan pelonggaran kebijakan moneter dari Federal Reserve AS pada tahun ini, berbanding terbalik dengan antisipasi dua kali penurunan suku bunga sebelum konflik pecah. Bahkan, menurut FedWatch Group dari CME, ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan Desember terakhir berada di angka 49%.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter AS, para investor akan menantikan komentar dari Presiden Fed regional, Thomas Barkin, Mary Daly, dan Anna Paulson, yang dijadwalkan akan berbicara pada hari ini. Perjalanan pasar saham tampaknya akan terus diselimuti volatilitas selama ketegangan geopolitik masih membayangi.




