
BANYU POS JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan di hari pertama bulan April 2026 dengan performa yang membanggakan, menutup hari di zona hijau. Pada penutupan perdagangan Rabu (1/4/2026), IHSG melonjak signifikan sebesar 1,92%, atau bertambah 136,21 poin, mencapai level 7.184,43.
Kinerja positif pasar saham Indonesia ini tercermin dari aktivitas perdagangan yang ramai. Total volume transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 21,14 miliar saham dengan nilai transaksi fantastis sebesar Rp 16,27 triliun. Mayoritas saham turut mendukung penguatan IHSG, dengan 475 saham tercatat menguat, sementara 209 saham melemah, dan 135 saham stagnan.
Menurut Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, penguatan IHSG hari ini cukup menarik mengingat pergerakan besar indeks yang masih dalam tren menurun (downtrend). Kenaikan ini sejalan dengan sentimen positif yang melanda bursa global dan Asia. Pasar merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengindikasikan penarikan militer AS dari Iran dalam 2-3 minggu ke depan, meredakan ketegangan geopolitik.
Herditya menambahkan, di tengah optimisme tersebut, harga komoditas emas juga menunjukkan penguatan yang cukup signifikan. Fenomena ini terjadi meskipun nilai tukar Rupiah terpantau melemah terhadap dolar AS, menunjukkan dinamika pasar yang kompleks.
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai penguatan IHSG ini lebih bersifat technical rebound setelah indeks sempat mengalami tekanan dalam beberapa hari sebelumnya. Sentimen global memang menjadi pendorong utama hari ini, terutama penguatan bursa Wall Street yang dipicu oleh optimisme meredanya tensi konflik AS-Iran.
“Harapan de-eskalasi ini meningkatkan risk appetite investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham emerging market seperti Indonesia,” jelas Reza, menyoroti dampak positif dari berita geopolitik terhadap minat investasi di negara berkembang.
Dari sisi domestik, pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi terbaru. Indeks PMI manufaktur Indonesia tercatat turun ke level 50,1, mengindikasikan bahwa ekspansi sektor manufaktur mulai terbatas. Selain itu, surplus neraca perdagangan juga mengalami penurunan secara tahunan. Meskipun demikian, kabar baik datang dari data inflasi Maret yang lebih rendah dari bulan sebelumnya, memberikan ruang bagi stabilitas daya beli masyarakat.
Meski IHSG menguat, Reza mengingatkan pentingnya untuk mencermati pergerakan investor asing yang masih mencatatkan net sell sebesar Rp 162 miliar, terutama pada saham-saham perbankan. Ini mengindikasikan bahwa meskipun ada kenaikan, masih ada kehati-hatian dari investor global.
Menatap perdagangan esok, Kamis (2/4), Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG berpotensi menguat terbatas dengan level support di 7.157 dan resistance di 7.272. Prediksi ini dipengaruhi oleh menjelang akhir pekan panjang serta investor yang masih terus mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Untuk para investor, Herditya menyarankan untuk mencermati saham ARCI dengan target harga Rp 1.625 – Rp 1.720 per saham, BBYB di kisaran Rp 316 – Rp 346 per saham, dan INET pada level Rp 306 – Rp 350 per saham.
Di sisi lain, Reza Diofanda memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dengan kisaran pergerakan di area support 7.122–7.150 dan resistance 7.200–7.300 pada perdagangan Kamis. Sentimen global masih akan menjadi faktor utama, khususnya perkembangan lanjutan terkait konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan potensi berakhirnya konflik dalam beberapa pekan ke depan menjadi katalis positif bagi pasar. Jika narasi de-eskalasi terus berlanjut, maka peluang penguatan lanjutan IHSG masih terbuka,” ungkap Reza optimistis.
Dari dalam negeri, pasar juga akan mencermati kebijakan pemerintah terkait stabilitas harga energi di tengah kenaikan harga global. Keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM, serta kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan, diharapkan dapat menjadi sentimen penopang daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat. “Selain itu, rilis laporan keuangan emiten tahun buku 2025 juga berpotensi menjadi katalis tambahan yang mendorong pergerakan sektoral di pasar,” pungkasnya.
Untuk perdagangan besok, Reza pun merekomendasikan saham-saham pilihan buy bagi investor, yakni VKTR dengan target harga Rp 860 – Rp 920 per saham, DEWA di level Rp 525 – Rp 565 per saham, dan BULL pada target harga Rp 428 – Rp 440 per saham.




