Pemegang saham Matahari Department (LPPF) sepakati perubahan nama perusahaan

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) secara resmi akan berganti nama menjadi PT MDS Retailing Tbk. Keputusan signifikan ini disepakati oleh para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada Rabu, 15 April 2026, menandai era baru bagi emiten ritel fesyen terkemuka di Indonesia ini.

Advertisements

Rapat krusial tersebut dinyatakan sah dan memenuhi kuorum, dengan kehadiran pemegang saham yang mewakili 1.704.467.856 saham, setara dengan 76,527% dari total saham dengan hak suara yang sah. Kehadiran yang dominan ini menggarisbawahi dukungan kuat investor terhadap arah strategis baru perusahaan, sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan dan regulasi yang berlaku.

Selain perubahan nama, dalam RUPSLB tersebut, pemegang saham juga menyetujui keputusan penting lainnya terkait pengelolaan modal perusahaan. Disepakati adanya pengalihan saham hasil pembelian kembali atau treasury stock melalui mekanisme penarikan kembali sebanyak 31 juta saham. Angka ini mencakup seluruh saham yang telah dibeli kembali oleh perseroan hingga 9 April 2026, yang akan dilaksanakan melalui pengurangan modal ditempatkan dan disetor. Bersamaan dengan RUPSLB, perusahaan juga menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang membahas agenda rutin dan performa keuangan.

Dari serangkaian keputusan yang diambil dalam RUPST, salah satu yang paling dinanti adalah persetujuan pembagian dividen final dari laba bersih tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. Para pemegang saham menyepakati dividen sebesar Rp 250 per saham. Dividen final ini akan dibagikan kepada investor yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) per tanggal 27 April 2026 pukul 16.00 WIB.

Advertisements

Meskipun ada optimisme dari restrukturisasi dan kebijakan dividen, kinerja keuangan LPPF sepanjang tahun buku 2025 menunjukkan tantangan. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada Selasa, 24 Maret 2026, pendapatan bersih emiten ritel fesyen ini tercatat mengalami penurunan sebesar 9,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari Rp 6,4 triliun menjadi Rp 5,78 triliun.

Penurunan kinerja juga terlihat pada bottom line perusahaan. Laba bersih perseroan anjlok 12,4% yoy, dari Rp 827,7 miliar di tahun sebelumnya menjadi Rp 725,4 miliar pada 2025. Sejalan dengan itu, margin laba bersih (net profit margin) juga terkoreksi tipis 2,4% yoy, dari Rp 6,7 miliar menjadi Rp 6,6 miliar, mencerminkan tekanan profitabilitas yang dihadapi perseroan di tengah dinamika pasar.

Advertisements

Also Read

Tags