Alamtri ADRO tebar dividen Rp7,57 triliun! Nyaris 100% dari laba bersih

Hikma Lia

BANYU POS, JAKARTA — PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) akan mendistribusikan dividen tunai sebesar US$447,5 juta, yang merepresentasikan 99,96% dari laba bersihnya. Angka ini setara dengan Rp7,57 triliun.

Advertisements

Persetujuan pembagian dividen ini datang dari para pemegang saham ADRO yang telah menyepakati alokasi total dividen tahun buku 2025 sejumlah US$447,5 juta. Jumlah tersebut setara dengan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) sebesar 100%, seperti yang dilaporkan oleh Stockbit Sekuritas. Lebih lanjut, Stockbit Sekuritas pada Jumat (17/4/2026) mencatat bahwa angka ini mengindikasikan dividen final senilai Rp117 per saham, dengan estimasi yield dividen final mencapai 4,6% berdasarkan harga saham ADRO di level Rp2.530 per lembar pada perdagangan intraday Jumat.

Sebelumnya, emiten pertambangan batu bara ini telah mendistribusikan dividen interim senilai Rp145,14 per saham pada Januari 2026, dengan total mencapai US$250 juta. Dengan demikian, sisa dividen yang akan dibagikan sebagai dividen final kepada para pemegang saham ADRO adalah sebesar US$197,5 juta.

Kinerja keuangan perseroan per 31 Desember 2025 menunjukkan bahwa ADRO membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$447,69 juta sepanjang tahun 2025. Angka ini setara dengan Rp7,57 triliun, berdasarkan asumsi kurs Jisdor Rp16.919 per dolar AS pada Jumat (6/3/2026). Perolehan laba bersih ini mengalami penurunan tajam dibandingkan dengan tahun buku 2024, di mana ADRO berhasil mencetak laba sebesar US$1,38 miliar.

Advertisements

Penurunan laba bersih tersebut tak lepas dari kontraksi pendapatan usaha perseroan yang menyusut 9,87% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$1,87 miliar. Mayoritas kontribusi pendapatan ADRO pada periode tersebut berasal dari segmen pertambangan, yang menghasilkan US$966,34 juta, diikuti oleh segmen jasa pertambangan yang menyumbang US$865,28 juta.

Menanggapi kondisi pasar, Analis Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, sebelumnya menjelaskan pada Senin (13/4/2026) bahwa sektor batu bara saat ini masih berada dalam posisi overweight. Pandangan positif ini didukung oleh sejumlah faktor eksternal, termasuk potensi kenaikan harga LNG yang dapat memicu mekanisme gas-to-coal switching, sehingga meningkatkan permintaan batu bara. Selain itu, rencana pemangkasan produksi batu bara di Indonesia juga dipandang sebagai katalis positif yang dapat menopang harga, terutama untuk jenis batu bara kalori menengah ke bawah. Meski demikian, Imam mengingatkan bahwa dukungan terhadap harga batu bara ini bersifat sementara, dan peluang untuk kembali mencapai level puncaknya seperti pada tahun 2022 dinilai kecil.

Dalam konteks musim dividen saat ini, Imam menambahkan bahwa dividen dari emiten batu bara memang masih menawarkan daya tarik investasi. Namun, ia menekankan pentingnya bagi investor untuk mempertimbangkan prospek harga batu bara yang cenderung lebih terbatas di masa mendatang, serta posisi strategis masing-masing emiten dalam siklus sektor ini sebelum membuat keputusan investasi.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements

Also Read