
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar logam mulia menunjukkan pergerakan positif pada pekan lalu, dengan harga emas dan perak melanjutkan tren penguatan yang menarik perhatian investor. Namun, di balik kenaikan ini, para analis menilai bahwa pergerakan tersebut belum cukup untuk menandakan perubahan tren signifikan, mengingat masih tingginya ketidakpastian geopolitik global yang membayangi pasar.
Berdasarkan data dari Trading Economics, pada penutupan perdagangan Jumat, 17 April 2026, harga emas di pasar spot berhasil bertengger di level US$ 4.833 per ons troi. Angka ini merefleksikan kenaikan substansial sebesar 1,72% dibandingkan dengan posisi harga pada pekan sebelumnya, menandakan minat beli yang cukup solid.
Tidak kalah gemilang, harga perak juga mencatat performa yang impresif. Secara mingguan, harga perak menguat lebih tajam, melonjak 6,71% hingga mencapai level US$ 80,75 per ons troi. Kenaikan signifikan ini menegaskan daya tarik perak di tengah fluktuasi pasar komoditas.
Kendati demikian, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan perspektif yang lebih hati-hati. Ia berpendapat bahwa penguatan yang dialami kedua logam mulia ini masih bersifat terbatas dan belum mampu sepenuhnya lepas dari bayang-bayang faktor eksternal yang belum menentu.
Saat DXY Melemah, Cermati Prospek Yen, Yuan, dan Franc Swiss
“Selama belum ada kepastian dari konflik geopolitik, kenaikan harga emas dan perak akan cenderung terbatas,” ungkap Lukman kepada Kontan pada Jumat, 17 April 2026, menekankan urgensi penyelesaian isu-isu geopolitik sebagai katalis utama pergerakan harga yang lebih substansial.
Menariknya, di tengah kondisi ketidakpastian tersebut, dolar Amerika Serikat (AS) justru menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Fenomena ini diinterpretasikan sebagai refleksi dari ekspektasi investor yang mulai berharap akan tercapainya perdamaian global dalam waktu yang lebih cepat dari perkiraan semula, memberikan nuansa optimisme yang kontras di pasar.
Menurut Lukman, baik emas maupun perak tetap menawarkan peluang menarik untuk dikoleksi oleh investor. Namun, ia mengingatkan pentingnya memahami karakteristik unik dari masing-masing logam mulia agar strategi investasi dapat disesuaikan secara tepat dengan profil risiko individu.
“Emas lebih berperan sebagai safe haven, pelindung nilai di kala krisis dan ketidakpastian ekonomi, sedangkan perak memiliki karakter lebih spekulatif karena juga didukung permintaan industri yang kuat, terutama dari sektor energi terbarukan,” jelas Lukman, menyoroti perbedaan fundamental antara keduanya yang perlu dicermati.
Lebih lanjut, Lukman menggarisbawahi bahwa peningkatan harga emas belakangan ini juga turut ditopang oleh permintaan kuat dari bank sentral dan investor global. Mereka secara bertahap mulai mengurangi ketergantungan terhadap mata uang fiat, khususnya dolar AS, sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset dan lindung nilai.
Kinerja Jayamas Medica (OMED) Solid, Cek Rekomendasi Sahamnya
Dalam menyusun strategi investasi, Lukman menyarankan para investor untuk membagi alokasi investasi emas mereka ke dalam beberapa horizon waktu: jangka pendek, menengah, dan panjang. Pendekatan ini memungkinkan pengelolaan risiko yang lebih efektif dan optimalisasi potensi keuntungan dalam berbagai kondisi pasar.
Untuk investasi jangka pendek, ia merekomendasikan investor masuk pasar saat terjadi koreksi harga yang cukup signifikan, misalnya sekitar US$ 100, dengan target keuntungan yang realistis di kisaran US$ 100 hingga US$ 200 per ons troi.
Sementara itu, untuk horizon waktu jangka menengah, strategi serupa dapat diterapkan. Investor disarankan untuk menanti koreksi yang lebih besar, namun dengan potensi target kenaikan yang juga lebih tinggi, sejalan dengan durasi investasi yang lebih panjang dan prospek fundamental yang lebih kuat.
Adapun bagi investasi jangka panjang, Lukman merekomendasikan metode dollar cost averaging. Dengan metode ini, investor melakukan pembelian secara bertahap, baik saat harga naik maupun terkoreksi, untuk merata-ratakan harga beli dan mengurangi risiko volatilitas pasar secara keseluruhan.
Melihat ke depan, Lukman Leong memproyeksikan bahwa pada kuartal II-2026, harga emas akan bergerak dalam rentang US$ 4.500 hingga US$ 5.000 per ons troi. Sementara itu, harga perak diperkirakan berada di kisaran US$ 80 hingga US$ 100 per ons troi, asumsi konflik geopolitik masih berlanjut tanpa resolusi yang berarti.
Reksadana Campuran Berbalik Melemah, Ini Strategi Manajer Investasi
Namun, sebuah skenario yang lebih optimis muncul jika terjadi deeskalasi konflik global yang signifikan. Dalam kondisi ini, harga emas berpotensi melambung ke kisaran US$ 5.100 hingga US$ 5.500 per ons troi, dan harga perak dapat menyentuh level US$ 100 hingga US$ 120 per ons troi, didorong sentimen positif pasar.
Bahkan, hingga akhir tahun, proyeksi Lukman semakin ambisius. Ia memperkirakan harga emas mampu mencapai puncaknya di kisaran US$ 6.000 hingga US$ 6.200 per ons troi. Sedangkan perak berpotensi melonjak drastis hingga mencapai US$ 140 hingga US$ 160 per ons troi, menandakan potensi keuntungan yang sangat menarik bagi investor yang siap mengambil risiko.




