
BANYU POS SINGAPURA. Pasar keuangan global menunjukkan reaksi positif terhadap keputusan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu. Langkah strategis ini sontak memicu penguatan saham di berbagai bursa dan menekan nilai dolar AS, meskipun bayang-bayang ketidakpastian geopolitik tetap membayangi, terutama dengan masih tertutupnya Selat Hormuz.
Di awal perdagangan Asia, kontrak berjangka saham AS langsung melonjak. Futures S&P 500 tercatat naik 0,5%, sementara Nasdaq menguat 0,6%. Sentimen risiko yang tetap terjaga ini mengindikasikan bahwa para pelaku pasar mulai percaya bahwa ketegangan di Timur Tengah tidak akan memburuk dalam waktu dekat, mendorong kembali minat investasi.
Investor Global Kembali Melirik Bursa Saham China
Namun demikian, keputusan Trump tersebut dinilai bersifat sepihak. Hingga kini, belum ada kepastian apakah Iran, maupun sekutu AS seperti Israel, akan menyetujui secara resmi perpanjangan gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan terakhir. Ini menjadi poin krusial yang masih menggantung.
Kendati demikian, pasar global tampaknya mengabaikan potensi risiko tersebut pada mulanya. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang justru mengalami sedikit penurunan 0,14%, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam tujuh pekan. Di Jepang sendiri, indeks Nikkei melemah 0,2%, diwarnai aksi ambil untung dari investor.
Pemulihan pasar global terjadi dengan cukup cepat, mengingat sebelumnya sempat tertekan tajam pada bulan Maret akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Harapan akan tercapainya kesepakatan damai dan meredanya konflik menjadi pilar utama yang menopang kembalinya selera risiko para investor.
Bursa Saham AS Akan Tetap Buka pada 24 dan 26 Desember 2025
Matt Simpson, seorang analis pasar senior dari StoneX, mengamati bahwa pasar mulai yakin fase terburuk dari ketidakpastian telah berlalu. “Pasar tampaknya tepat dalam melihat bahwa puncak ketidakpastian perang sudah terlewati,” ujarnya. Simpson juga menambahkan bahwa penurunan harga yang terjadi justru kini dipandang sebagai peluang beli yang menarik bagi para investor optimistis.
Di sisi lain, risiko geopolitik belum sepenuhnya menghilang. Presiden Trump menegaskan komitmennya untuk melanjutkan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran. Sementara itu, Iran masih mempertahankan penutupan Selat Hormuz, jalur maritim vital yang dilalui sekitar 20% pasokan energi global. Situasi ini terus memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Implikasinya, harga minyak mentah global tetap bertahan tinggi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,44% ke level US$ 90,12 per barel, setelah sebelumnya melonjak 2,8% pada sesi perdagangan sebelumnya, mencerminkan ketegangan pasokan.
Tarif Trump 15% Guncang Pasar! Rupiah Terangkat Pelemahan dolar AS
Di pasar mata uang, dolar AS mengalami pelemahan terhadap sejumlah mata uang utama. Euro diperdagangkan menguat ke US$ 1,1748, yen Jepang menguat ke 159,26 per dolar, dan poundsterling Inggris juga naik ke US$ 1,35195. Kondisi ini menunjukkan sentimen investor yang beralih dari aset “safe haven” seperti dolar AS.
Meskipun risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda, respons pasar secara keseluruhan mengindikasikan bahwa investor mulai mengalihkan fokus pada peluang stabilitas. Asumsi utama yang mendorong sentimen ini adalah keyakinan bahwa konflik di kawasan tersebut tidak akan kembali memanas dalam waktu dekat.




