
BANYU POS JAKARTA. Nilai tukar rupiah semakin terperosok dalam tekanan di pasar spot, mencapai level yang mengkhawatirkan. Pada Kamis (23/4/2026) pukul 10.15 WIB, mata uang Garuda ini tercatat melemah signifikan sebesar 0,71% dibandingkan hari sebelumnya, menembus angka Rp 17.303 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan rupiah ini diprediksi akan terus berlanjut. Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, bahkan memperkirakan bahwa rupiah dapat menyentuh Rp 17.400 per dolar AS pada akhir April 2026. Proyeksi ini jauh lebih cepat dari ekspektasi awal yang sebelumnya menargetkan angka tersebut baru tercapai pada akhir tahun 2026.
Ibrahim Assuaibi menggarisbawahi bahwa tekanan signifikan terhadap rupiah saat ini bersumber dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang sama-sama kuat dan saling memperparah kondisi ekonomi nasional.
Harga BBM Nonsubsidi Naik, Rupiah Menguat ke Rp 17.168 per Dolar AS Hari Ini (20/4)
Dari arena global, gejolak geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah menjadi pemicu utama kerentanan rupiah. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memuncak, terutama setelah kegagalan perundingan yang sempat difasilitasi oleh Pakistan untuk meredakan konflik.
Iran dilaporkan tidak menghadiri pertemuan penting tersebut, menyusul insiden penyitaan kapal tanker Iran oleh AS di perairan strategis Selat Hormuz. Aksi ini secara langsung memperburuk hubungan kedua negara dan menambah ketidakpastian pasar global.
Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan bahwa tuntutan AS terkait pembebasan tarif di Selat Hormuz serta penghentian program pengayaan uranium Iran dinilai sangat sulit untuk diterima oleh Teheran. Kondisi ini secara drastis memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat, dan berimbas langsung pada lonjakan harga minyak dunia.
Saat ini, harga minyak mentah jenis Brent telah melonjak mencapai sekitar US$ 103 per barel, sementara jenis WTI berada di kisaran US$ 98 per barel. Kenaikan tajam harga energi global ini tentu saja memberikan tekanan fiskal dan ekonomi yang sangat besar bagi negara-negara importir minyak seperti Indonesia, yang harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk kebutuhan energi.
Beralih ke faktor domestik, lonjakan harga minyak global berpotensi besar memperlebar defisit anggaran negara. Indonesia, dengan kebutuhan minyak sekitar 2,1 juta barel per hari, masih sangat bergantung pada impor karena produksi domestik yang belum mencukupi. Sekitar 1,5 juta barel minyak harus diimpor setiap hari untuk memenuhi kebutuhan tersebut, menyebabkan anggaran impor membengkak.
Rupiah Sentuh Rp 17.192 Per Dolar AS, Rekor Terburuk Sepanjang Masa
“Ini berarti pemerintah harus menyiapkan anggaran yang jauh lebih besar untuk membiayai impor energi, ditambah lagi adanya kendala distribusi yang muncul akibat ketegangan di Selat Hormuz,” terang Ibrahim pada Kamis (23/4/2026), menekankan urgensi situasi fiskal.
Selain itu, beban fiskal negara juga semakin membengkak akibat kebijakan pemerintah yang masih menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di tengah meroketnya harga minyak global. Di sisi lain, penyesuaian harga hanya diterapkan pada BBM non-subsidi, menciptakan ketidakseimbangan dan menambah tekanan pada kas negara.
Kondisi ini secara langsung memperbesar kebutuhan subsidi energi, yang pada gilirannya berisiko serius memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Padahal, dalam asumsi APBN 2026, harga minyak ditetapkan di kisaran US$ 70 per barel dengan batas atas US$ 92 per barel, jauh di bawah realitas harga pasar saat ini.
Tidak hanya itu, faktor lain yang turut membebani sentimen terhadap rupiah adalah jadwal jatuh tempo utang pemerintah dalam jumlah yang sangat besar, menambah tekanan finansial yang harus dihadapi negara dalam waktu dekat.
Rupiah Tembus Rekor Terburuk! Proyeksi ke Rp 17.200 Per Dolar AS Segera Terbukti?
Dalam proyeksi APBN 2026, nilai tukar rupiah diasumsikan berada pada level Rp 16.500 per dolar AS. Namun, dengan posisi rupiah saat ini yang sudah jauh melemah, pemerintah dihadapkan pada tantangan besar untuk mencari dan menyiapkan dana tambahan. Dana ini krusial untuk menanggulangi berbagai tekanan, khususnya dari lonjakan biaya impor energi yang signifikan dan kebutuhan pendanaan lainnya.




