
Universitas Harkat Negeri bersama Rujak Center for Urban Studies mendirikan Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP), untuk menelisik lebih dalam kompleksitas masalah perkotaan pesisir yang berhadapan langsung dengan risiko iklim: banjir rob, abrasi, dan kerentanan infrastruktur.
PKPP memandang kelompok masyarakat pesisir sebagai kelompok yang rentan perubahan iklim. Sebab, setidaknya dalam 20 tahun terakhir, terjadi peningkatan air laut hingga menimbulkan banjir rob, mengganggu ekosistem, serta mengganggu pola produksi masyarakat pesisir.
Karena itu, PKPP akan fokus pada dua sisi, yaitu penanganan masalah ekologis dan meningkatkan gerak ekonomi berbasis budaya pesisir.
Tak hanya mewakili kawasan tepi laut, wilayah pesisir dipandang sebagai pusat kehidupan sekaligus potret penghubung antara hulu-hilir. Situasi di dua wilayah ini saling berkaitan, misalnya hujan deras di Bogor, ‘meramalkan’ potensi banjir di Jakarta.
Baca juga:
- Sudirman Said Buka Suara Soal Pemeriksaan Kasus Petral, Singgung Mafia Migas
- Setnov Bebas, Sudirman Said: Indonesia Belum Merdeka dari Koruptor
- 40 Nama Lolos Tes Tertulis Capim KPK, Ada Nama Sudirman Said dan Johan Budi
“Ini yang menjadikan pesisir wilayah penting diperhatikan oleh semua pihak, karena tidak hanya memengaruhi kehidupan masyarakat pesisir, tetapi kehidupan bagi semua,” kata Direktur PKPP Marco Kusumawijaya, saat peluncuran resmi PKPP di Tegal, Kamis (23/4).
PKPP memilih Tegal sebagai wilayah riset, karena menjadi kota sekunder – mengalami pertumbuhan secara cepat – sekaligus memiliki kerentanan tinggi terhadap risiko perubahan iklim yang kompleks.
Lembaga ini akan menghasilkan studi-studi referensi untuk pencarian solusi dengan pendekatan ko-produksi multipihak. Artinya, mengintegrasikan riset terapan, praktik kebijakan, dan pengalaman hidup masyarakat menjadi satu kerangka ilmiah.
Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said berharap pusat studi ini tak hanya menjadi pembelajaran bagi kota-kota di Indonesia, tapi merambah ke kota pesisir pada lingkup global.
“Tegal sebagai kota sekunder di Indonesia dan juga kota pesisir dijadikan pusat riset yang dapat menjadi pembelajaran bagi kota-kota di Indonesia, dan juga kota-kota pesisir di dunia,” ucapnya.
Saat ini, ada lebih dari 8.000 desa di Indonesia yang langsung berbatasan dengan air laut. Setidaknya ada sekitar 16 juta jiwa yang hidup di dalamnya, meliputi di 219 kabupaten/kota.
Sementara jika dihitung dalam jarak 50 kilometer dari garis pantai, setidaknya ada 132 juta jiwa – 60 persen dari populasi – penduduk pesisir.




