Kembali capai rekor terlemah baru, rupiah berpotensi tembus ke Rp 17.500

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terus dibayangi tekanan kuat, baik dari faktor eksternal maupun domestik, yang diproyeksikan akan mempertahankan kelemahannya dalam jangka pendek. Pada penutupan perdagangan Senin (4/5/2026), mata uang Garuda mencetak rekor terlemah baru di pasar spot, ditutup pada level Rp 17.394 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,33% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di posisi Rp 17.337 per dolar AS.

Advertisements

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menganalisis bahwa kondisi rupiah saat ini masih rapuh. Meskipun ada peluang penguatan terbatas jika tekanan global mereda, Josua memperkirakan pergerakan rupiah pekan ini akan cenderung bergerak dalam kisaran lemah. “Menurut saya, arah rupiah pekan ini masih rapuh dan cenderung bergerak dalam kisaran lemah, meskipun ada peluang penguatan terbatas jika harga minyak dan dolar Amerika menurun,” ungkap Josua kepada Kontan, Senin (4/5/2026).

Untuk sepekan ke depan, Josua memproyeksikan pergerakan rupiah akan berada dalam rentang terbatas, yaitu sekitar Rp 17.250 hingga Rp 17.500 per dolar AS. Namun, risiko pelemahan lebih lanjut tetap terbuka lebar, terutama jika harga minyak kembali melampaui US$ 110 hingga US$ 115 per barel dan indeks dolar AS kembali menguat. Bahkan, Josua memperkirakan rupiah berpotensi menguji rekor terlemah baru dalam sejarahnya.

Sebaliknya, peluang penguatan terbatas rupiah ke area Rp 17.200-an per dolar AS dapat terjadi jika harga minyak menunjukkan penurunan yang lebih konsisten, dolar AS tertahan di kisaran 98 hingga 99, serta muncul kabar positif dari jalur diplomasi. Untuk akhir Mei 2026, Josua menargetkan rupiah berada di kisaran Rp 17.200 hingga Rp 17.450 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 17.300. Josua menegaskan bahwa level Rp 17.300 per dolar AS bukanlah nilai keseimbangan fundamental yang baru, melainkan lebih sebagai rentang perdagangan jangka pendek selama tekanan energi dan ketidakpastian global masih tinggi.

Advertisements

Lebih lanjut, terdapat dua skenario yang dapat memengaruhi arah pergerakan rupiah. Dalam skenario positif, penguatan rupiah dapat terwujud jika Selat Hormuz mulai dibuka, harga minyak turun ke bawah US$ 100 per barel, dan arus asing kembali masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI. Kondisi ini berpotensi mengembalikan rupiah ke rentang Rp 17.000 hingga Rp 17.150 per dolar AS.

Sebaliknya, dalam skenario negatif, pelemahan rupiah dapat berlanjut hingga Rp 17.500 per dolar AS. Skenario ini akan terjadi jika blokade di Selat Hormuz berlangsung lebih lama, harga minyak kembali melonjak, dan pasar kembali menghindari aset-aset negara berkembang. Sementara itu, dolar Amerika masih berpeluang menguat dalam jangka pendek apabila harga energi naik lagi, sebelum kemudian melemah pada paruh kedua tahun ini seiring dengan meredanya ketegangan dan penurunan harga energi.

Josua menjelaskan bahwa ada empat sentimen utama yang secara signifikan membebani rupiah, menjadikannya lebih rentan dibandingkan mata uang negara-negara yang tidak terlalu bergantung pada impor energi. Pertama adalah kenaikan harga minyak yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian di Selat Hormuz. Kedua, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang cenderung lebih ketat dari ekspektasi pasar. Ketiga, tekanan fiskal domestik yang menguat akibat membengkaknya subsidi dan kompensasi energi sebagai respons terhadap kenaikan harga minyak. Keempat, tingginya kebutuhan dolar domestik untuk pembayaran impor, repatriasi dividen, serta biaya pengiriman yang semakin mahal.

Faktor domestik juga memainkan peran krusial dalam memperkuat tekanan pada rupiah. Kekhawatiran pasar terhadap defisit transaksi berjalan, beban subsidi energi, dan persepsi risiko fiskal semakin memperburuk situasi. Pada Maret dan April, tekanan rupiah juga terjadi bersamaan dengan arus modal asing yang belum benar-benar pulih. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada kuartal I 2026 investor asing masih mencatat arus keluar bersih sekitar US$ 1,78 miliar dari pasar domestik, meskipun instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih mencatat arus masuk. Selain itu, perubahan prospek (outlook) oleh lembaga pemeringkat terhadap Indonesia turut membuat investor lebih sensitif terhadap kabar fiskal dan kebijakan. Josua menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah bukan hanya disebabkan oleh menguatnya dolar AS semata, melainkan juga karena pasar melihat Indonesia sedang menghadapi kombinasi tekanan energi, fiskal, dan arus modal.

Dalam menghadapi gejolak ini, Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang gerak untuk menahan volatilitas rupiah. Namun, ruang ini lebih efektif untuk meredam gejolak daripada membalikkan arah pelemahan rupiah secara instan. BI telah menegaskan komitmennya untuk memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar spot maupun DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), serta melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder dan menjaga daya tarik instrumen moneter. Dengan cadangan devisa yang masih kuat di sekitar US$ 148,2 miliar, intervensi BI akan berfungsi sebagai “rem” untuk mencegah pelemahan rupiah yang terlalu liar. Menurut Josua, rupiah baru akan bisa menguat lebih meyakinkan apabila mendapatkan dukungan dari faktor eksternal, terutama penurunan harga minyak, meredanya konflik global, serta kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik.

Advertisements

Also Read

Tags