BANYU POS – JAKARTA. Di tengah tren koreksi yang membayangi pergerakan harga saham perbankan, sejumlah saham bank besar kembali menjadi sorotan utama investor. Daya tarik ini muncul setelah bank-bank tersebut mengumumkan rencana pembagian dividen untuk tahun buku 2025, menjanjikan potensi dividen yield yang signifikan seiring peningkatan rasio dividen yang dibagikan. Sebagian bank bahkan telah melewati masa cum date, yakni batas akhir bagi investor untuk membeli saham guna memperoleh hak dividen.
Bank OCBC NISP Resmi Akuisisi Bisnis HSBC, Cermati Rekomendasi Analis 
Salah satu bank yang akan membagikan dividen dalam waktu dekat adalah PT Bank Syariah Indonesia (BRIS). Bank syariah terbesar di Indonesia ini akan mendistribusikan dividen sebesar 20% dari laba bersih tahun buku 2025, mencapai Rp 1,51 triliun atau setara Rp 32,81 per saham. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dividen tahun buku 2024 yang hanya Rp 1,05 triliun atau Rp 22,78 per saham. Berdasarkan harga penutupan saham pada Jumat, 8 Mei 2026, di level Rp 1.910 per saham, dividen yield BRIS diperkirakan sekitar 1,2%.
Sementara itu, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) turut menarik perhatian dengan keputusan membagikan dividen tunai sebesar Rp 850,18 miliar, ekuivalen dengan Rp 56,62 per saham. Jumlah ini melampaui dividen tahun sebelumnya yang sebesar Rp 54,71 per saham, mencerminkan 55% dari laba bersih tahun buku 2025. Dengan harga saham BJTM yang ditutup pada Rp 605 per saham hari ini, naik 1,68% dari hari sebelumnya, dividen yield yang ditawarkan BJTM mencapai 9,4%, menjadikannya salah satu yang paling menggiurkan.
Pada hari yang sama, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) secara resmi mendistribusikan total dividen jumbo senilai Rp 52,1 triliun, atau Rp 346 per saham. Angka ini mencakup dividen interim sebesar Rp 137 per saham atau Rp 20,6 triliun yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2026, menyisakan dividen tunai Rp 209 per saham atau Rp 31,47 triliun yang dicairkan hari ini. Dengan dividen yield mencapai 10,6%, BBRI mencatat angka tertinggi di antara saham bank lainnya. Tingginya yield ini tidak terlepas dari koreksi harga saham BBRI yang cukup dalam, sekitar 10,93% sejak awal tahun, hingga mencapai Rp 3.260 per saham.
Cara investasi emas untuk pemula di 2026
Tak ketinggalan, PT Bank Mandiri (BMRI) juga akan membagikan dividen tunai pada 25 Mei 2026 sebesar Rp 35,15 triliun, yang setara dengan Rp 376,96 per saham. Ini berarti, setiap investor akan menerima sekitar Rp 37.696 per lot saham. Meskipun harga saham BMRI hari ini ditutup melemah tipis 0,22% ke level Rp 4.630 per saham, dividen yield yang ditawarkan masih menarik, yakni sebesar 8,14%.
Sebelumnya, pada awal April 2026, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) telah mendistribusikan dividen sebesar Rp 13,03 triliun. Jumlah tersebut merupakan 65% dari laba bersih konsolidasian tahun buku 2025 yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yakni sebesar Rp 20,04 triliun. Setiap pemegang saham BBNI menerima dividen tunai sebesar Rp 349,41 per saham, dengan dividen yield mencapai 9,05%.
Melengkapi daftar bank yang membagikan dividen, PT Bank Central Asia (BBCA) menetapkan dividen tunai sebesar Rp 336 per saham dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp 57,5 triliun. Secara keseluruhan, total dividen final yang dibagikan BCA untuk tahun buku tersebut mencapai Rp 41,3 triliun. Ini mendorong rasio pembayaran dividen (DPR) BCA menjadi 72%, menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan DPR tahun buku 2024 yang berada di kisaran 67,4%.
OJK Catat Pembiayaan Produktif Fintech Lending Tumbuh 23,40% per Maret 2026
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, secara khusus menyoroti PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) sebagai salah satu saham bank yang paling menjanjikan dari sisi dividen yield saat ini. “BJTM menjadi salah satu saham bank yang menarik dari sisi dividen yield, karena dividen Rp 56,62 per saham memberikan estimasi yield sekitar 9,5%–9,6% berdasarkan harga saham di kisaran Rp 590–Rp 595,” jelas Ekky kepada Kontan.co.id pada Jumat, 8 Mei.
Selain BJTM, Ekky menambahkan bahwa saham bank berkapitalisasi besar atau blue chip juga tetap memikat bagi investor yang mengincar dividen. PT Bank Mandiri (BMRI) dengan dividen sekitar Rp 476,95 per saham dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan Rp 346 per saham untuk tahun buku 2025, menawarkan potensi dividen yield yang kompetitif. Dividen yield BBRI bahkan diperkirakan mencapai kisaran dua digit, sementara BMRI berkisar antara 8%–9%, tentu dengan mempertimbangkan fluktuasi harga saham di pasar.
Di Tengah Tekanan Industri Asuransi Jiwa, BRI Life Menjaga Rasio Klaim
Menurut Ekky, fenomena pembagian dividen umumnya menciptakan sentimen positif pada pergerakan saham dalam jangka pendek. Minat investor akan melonjak menjelang cum date seiring keinginan untuk mengamankan hak dividen. Namun, ia mengingatkan, setelah melewati ex-date, harga saham cenderung berpotensi mengalami koreksi, menyesuaikan dengan nilai dividen yang telah dibagikan.
Untuk prospek saham perbankan sepanjang tahun ini, Ekky memprediksi pergerakan yang cenderung stagnan hingga bersifat selektif. Meskipun pertumbuhan kredit perbankan masih menunjukkan tren positif, investor tetap perlu mencermati berbagai faktor penekan seperti margin bunga yang menyempit, peningkatan biaya dana (cost of fund), kualitas kredit, dan arah kebijakan suku bunga acuan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2026 memang menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 9,49% secara tahunan. Namun, Ekky mengingatkan agar tetap mewaspadai tekanan pada beberapa segmen, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang berpotensi memengaruhi kualitas aset bank secara keseluruhan.
Saham Big Banks Menguat dalam Sepekan, Simak Rekomendasi Analis
Mengacu pada analisisnya, Ekky merekomendasikan investor untuk mencermati saham BJTM, khususnya pada level harga di bawah Rp 600 per saham. “Area tersebut masih memberikan yield yang atraktif dan margin of safety lebih baik,” ujarnya. Ia memperkirakan target harga saham BJTM dalam jangka pendek bisa mencapai kisaran Rp 650–Rp 670 per saham. Meski demikian, investor tetap disarankan untuk mengantisipasi potensi koreksi setelah periode ex-dividend.
Senada dengan pandangan yang cermat, Senior Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai bahwa dividen perbankan masih akan tetap menarik, meskipun fase pertumbuhan agresif mungkin sudah berlalu. Ia menjelaskan bahwa tekanan dari penyempitan margin bunga bersih (NIM), perlambatan pertumbuhan kredit, serta potensi peningkatan biaya kredit (cost of credit) cenderung membatasi ruang kenaikan rasio pembayaran dividen (DPR). Namun, Sukarno optimistis bahwa permodalan yang kuat pada bank-bank akan tetap menjaga keberlanjutan pembayaran dividen. Ke depan, bank diperkirakan akan lebih menitikberatkan pada stabilitas dan kesinambungan dividen, bukan semata-mata mengejar imbal hasil yang sangat tinggi.




