
BANYU POS JAKARTA. Harga saham emiten sektor minyak dan gas (migas), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), terpantau mengalami tekanan sejak awal tahun 2026 hingga Mei ini. Kendati demikian, di tengah tren pelemahan tersebut, manajemen RAJA justru mengumumkan rencana ambisius untuk melakukan pemecahan saham atau stock split. Pertanyaan besar pun muncul di kalangan investor: apakah ini saat yang tepat untuk membeli atau menjual saham RAJA?
Rencana stock split saham RAJA akan direalisasikan dengan rasio 1:5. Aksi korporasi ini diyakini akan memberikan daya tarik lebih bagi saham yang terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro ini di mata para investor.
Pada perdagangan Kamis, 13 Mei 2026, saham RAJA sempat ditutup menguat signifikan di level Rp 4.400, melonjak 230 poin atau 5,52% dalam sehari. Namun, performa positif harian tersebut belum mampu mendongkrak posisi saham RAJA secara keseluruhan, di mana sejak awal tahun 2026, harganya masih melemah Rp 1.900 atau 30,16%.
FTSE Russell Bakal Depak Saham dengan Kepemilikan Terkonsentrasi, Efektif Juni 2026
Mengutip informasi resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai nominal saham RAJA sebelum dilakukannya stock split adalah Rp 25 per saham, yang kemudian akan dipecah menjadi Rp 5 per saham. Perubahan ini juga akan berdampak pada jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh RAJA, yang akan meningkat drastis dari 4.227.082.500 saham menjadi 21.135.412.500 saham.
“Perusahaan berencana melaksanakan stock split dengan mempertimbangkan praktik yang lazim di pasar modal serta dalam rangka meningkatkan kualitas perdagangan saham perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI),” jelas Manajemen RAJA dalam keterbukaan informasi yang diterbitkan pada Rabu (13/5/2026).
Dengan adanya stock split ini, RAJA berharap dapat meningkatkan frekuensi dan volume transaksi saham, yang pada gilirannya akan memperbaiki likuiditas perdagangan saham perusahaan di BEI. Lebih lanjut, pemecahan saham ini akan menurunkan harga nominal per saham, sehingga harga saham RAJA menjadi lebih terjangkau, terutama bagi investor ritel, tanpa mengurangi nilai kapitalisasi pasar perusahaan.
RAJA juga optimis bahwa harga saham yang lebih terjangkau akan mendorong peningkatan partisipasi investor, yang pada akhirnya akan memperluas dan mendiversifikasi jumlah pemegang saham.
RAJA Chart by TradingView
Tonton: Purbaya Buka Suara soal Rupiah Rp 17.500, Ini Langkah Darurat yang Disiapkan Menkeu
Jadwal Penting Stock Split RAJA
Untuk melancarkan rencana stock split ini, RAJA akan terlebih dahulu meminta restu dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026. Apabila semua berjalan sesuai rencana, maka tanggal 13 Juli 2026 akan menjadi akhir perdagangan saham RAJA dengan nilai nominal lama di pasar reguler dan negosiasi. Sementara itu, batas akhir transaksi dengan nilai nominal lama di pasar tunai akan jatuh pada 15 Juli 2026. Selanjutnya, perdagangan saham dengan nilai nominal baru di pasar reguler, negosiasi, dan tunai akan resmi dimulai pada 16 Juli 2026.
Rekomendasi Saham RAJA dari Analis
Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa rencana stock split ini menjadi sentimen positif yang kuat bagi RAJA. Nafan menjelaskan bahwa secara historis, aksi korporasi semacam ini seringkali menjadi pendorong penguatan harga saham emiten menjelang periode pelaksanaannya. Hal ini didorong oleh tingginya minat dan partisipasi, terutama dari kalangan investor ritel.
“Kalau sudah stock split biasanya harga saham jadi lebih murah dan valuasinya bisa menjadi lebih menarik, sehingga lebih likuid,” terang Nafan pada Rabu (13/5/2026).
Kendati demikian, Nafan mengingatkan investor untuk tetap mencermati perkembangan fundamental RAJA. Saat ini, RAJA menunjukkan aktivitas ekspansi bisnis yang cukup agresif, baik secara langsung maupun melalui entitas anak usahanya. Salah satu langkah terbaru adalah rencana pengambilalihan 5% saham pada PT Layar Nusantara Gas (LNG) senilai US$ 38.575.000. Akuisisi ini bertujuan untuk mendukung kegiatan usaha RAJA di masa mendatang.
Selain itu, RAJA melalui PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) juga tengah dalam proses akuisisi saham SMS Development Limited (SMSD). Total nilai transaksi ini mencapai US$ 141,21 juta, yang terdiri dari akuisisi saham SMSD senilai US$ 62,51 juta, perjanjian pinjaman pemegang saham (shareholder loan agreement) sebagai bagian dari Perjanjian Novasi senilai US$ 59,20 juta, serta klausul pembayaran kontingen maksimum US$ 19,50 juta. Ekspansi ini menegaskan bahwa Grup RAJA tidak hanya fokus pada sektor hulu migas, melainkan juga merambah sektor turunan dari industri tersebut.
“RAJA ekspansinya juga menyasar sektor infrastruktur gas,” tambah Nafan.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Nafan merekomendasikan “add” (akumulasi beli) untuk saham RAJA dengan target harga di level Rp 5.175 per saham.




