
BANYU POS – , JAKARTA — Pengumuman hasil rebalancing Indeks MSCI Global Standard pada pekan ini membawa dampak signifikan bagi pasar modal Indonesia. Sejumlah emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu terpaksa menghuni jajaran saham dengan koreksi terdalam atau top losers, turut membebani laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berakhir di zona merah sepanjang pekan perdagangan 11 – 13 Mei 2026.
Pergerakan harga saham grup Barito milik Prajogo Pangestu menjadi sorotan utama. Kejatuhan masif pada saham-saham ini tak hanya menciptakan kerugian besar bagi para investornya, tetapi juga menjadi faktor penekan utama bagi kinerja IHSG secara keseluruhan.
Berdasarkan data statistik mingguan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Sillo Maritime Perdana Tbk. (SHIP) memimpin daftar top losers. Saham perusahaan pelayaran ini anjlok hingga 37,54%, menetap di level Rp2.180 dari posisi Rp3.490 pada pekan sebelumnya. Penurunan tajam ini menandai pekan yang sulit bagi investor SHIP.
: Arah Tata Kelola Emiten BUMN di Tengah Perubahan Konstituen MSCI
Tak hanya SHIP, kinerja negatif juga merambah saham-saham lain. PT Prime Agri Resources Tbk. (SGRO) mencatatkan koreksi signifikan, turun 24,15% menuju level Rp3.140 per saham. Sementara itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), yang merupakan salah satu aset krusial taipan Prajogo Pangestu, turut mengalami penurunan mencolok sebesar 24,11% selama sepekan. Harga saham CUAN bergerak dari Rp1.120 menjadi Rp850 per saham. Koreksi tajam ini bertepatan dengan keputusan MSCI yang mendepak CUAN dari MSCI Global Standard Index, sebuah peristiwa yang memicu sentimen jual di kalangan investor.
: : MSCI dan Hak Publik atas Saham Publik
Emiten Prajogo Pangestu lainnya, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), juga tak luput dari tekanan. Keduanya masuk dalam deretan top losers setelah masing-masing saham BREN dan TPIA turun 21,95% dan 21,82%. Penurunan harga saham ini terjadi sejalan dengan keputusan MSCI yang menghapus kedua saham tersebut dari indeks global, menambah daftar panjang saham-saham milik Prajogo yang terdampak negatif.
Selain emiten-emiten besar tersebut, daftar saham dengan kinerja terburuk pekan ini juga diisi oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang terkoreksi 20,99% menjadi Rp1.035. Diikuti oleh PT Multi Spunindo Jaya Tbk. (MSJA) yang merosot 20,38% ke Rp418 per saham, menunjukkan bahwa tekanan jual meluas ke berbagai sektor.
: : Kekayaan Prajogo Pangestu Menguap Rp31 Triliun Imbas Rebalancing MSCI
Kemudian, PT Tunas Alfin Tbk. (TALF) turut ambruk 19,66% ke Rp715 per saham, PT Itama Ranoraya Tbk. (IRRA) terpangkas 19,22% ke Rp412, dan PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK) melemah 19,00% menjadi Rp486 per saham. Koreksi kolektif ini mencerminkan sentimen pasar yang kurang kondusif di tengah perubahan konstituen indeks global.
Dampak lebih lanjut dari tekanan jual tersebut terlihat pada pergerakan IHSG. Sepanjang pekan 11–13 Mei 2026, IHSG harus parkir di zona merah dengan penurunan 3,53% ke level 6.723,32. Tak hanya itu, kapitalisasi pasar Bursa juga merosot tajam 4,68%, dari Rp12.406 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp11.825 triliun.
“Rata-rata nilai transaksi harian pekan ini mengalami perubahan sebesar 18,78% menjadi Rp18,82 triliun dari Rp23,05 triliun pada pekan sebelumnya,” jelas Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyoroti penurunan aktivitas perdagangan yang signifikan.
Menutup pekan yang penuh tantangan, investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp1,53 triliun pada Rabu (13/5/2026). Angka ini menambah akumulasi jual bersih asing sepanjang tahun 2026 yang telah mencapai Rp40,82 triliun, mengindikasikan kekhawatiran investor global terhadap prospek pasar domestik.
Berikut daftar saham top losers pada 11 – 13 Mei 2026:
- SHIP: -37,54% – Rp2.180
- SGRO: -24,15% – Rp3.140
- CUAN: -24,11% – Rp850
- BREN: -21,95% – Rp3.200
- TPIA: -21,82% – Rp4.300
- DSSA: -20,99% – Rp1.035
- MSJA: -20,38% – Rp418
- TALF: -19,66% – Rp715
- IRRA: -19,22% – Rp412
- BANK: -19,00% – Rp486
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




