BANYU POS JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) oleh Bank Indonesia sebesar 50 basis poin hingga mencapai 5,25% memicu kekhawatiran di sektor perbankan. Para ekonom dan pelaku industri memperkirakan bahwa minat bank untuk menerbitkan surat utang atau obligasi akan mengalami penurunan signifikan menyusul kebijakan moneter ini.
Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyoroti dampak langsung dari kebijakan ini. Ia berpandangan, kenaikan BI Rate memiliki potensi besar untuk menekan laju pertumbuhan kredit di Tanah Air. Kondisi ini secara otomatis akan memudarkan daya tarik bank untuk mencari sumber pendanaan melalui surat utang. Myrdal menjelaskan, dengan melonjaknya suku bunga acuan, biaya penerbitan obligasi akan menjadi lebih tinggi, memaksa bank untuk mempertimbangkan ulang secara cermat setiap rencana penerbitan. “Ekspansi bisnis saat ini memang sedang menghadapi tantangan berat akibat kenaikan suku bunga. Oleh karena itu, wajar jika kita memprediksi penurunan ekspansi bisnis yang didukung oleh penerbitan surat utang,” ungkap Myrdal saat dihubungi pada Kamis (21/5/2026).
PT SBI Gandeng Peruri Cetak Koin Emas Fisik IDN Gold
Menanggapi situasi ini, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menyatakan bahwa keputusan untuk menerbitkan surat utang di masa depan akan sangat bergantung pada seberapa besar pengaruh kenaikan BI Rate terhadap biaya dana (cost of fund/COF) yang ditanggung bank. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan bahwa strategi pendanaan untuk segmen wholesale masih belum dapat dipastikan secara menyeluruh. Pihaknya akan mencermati lebih dahulu bagaimana dampak sesungguhnya dari kenaikan suku bunga terhadap struktur biaya operasional dan potensi pertumbuhan keuntungan bank. “Fokus utama kami adalah mengamati seberapa cepat COF akan meningkat. Di sisi lain, permintaan kredit juga masih cenderung rendah. Kami memperkirakan tren permintaan kredit akan tetap lemah seiring dengan potensi kenaikan bunga kredit,” jelas Lani.
Senada dengan CIMB Niaga, PT Bank KB Indonesia Tbk juga menyampaikan pandangan serupa. Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menegaskan bahwa optimalisasi likuiditas menjadi faktor yang sangat krusial dalam kondisi pasar saat ini. Ia menambahkan bahwa keputusan mengenai penerbitan surat utang di KB Bank akan didasarkan pada tingkat efisiensi biaya dana (COF) yang dapat dicapai di masa mendatang. Kunardy menjamin bahwa struktur pendanaan KB Bank akan tetap sehat dan terjaga meskipun ada kenaikan suku bunga acuan. “Segmen wholesale merupakan segmen yang paling responsif terhadap pergerakan suku bunga pasar, karena segmen ini secara luas menggunakan suku bunga acuan sebagai patokan dalam menentukan bunga deposito maupun kredit,” terang Kunardy, menyoroti sensitivitas segmen tersebut terhadap perubahan kebijakan moneter.
BI Genjot Intermediasi Perbankan Lewat Pelonggaran RIM dan KLM
Namun, ada pengecualian dari tren kehati-hatian ini. PT Bank Central Asia Tbk (BCA), salah satu bank terbesar di Indonesia, menyatakan bahwa mereka belum berencana untuk menerbitkan surat utang pada tahun ini. Alasannya, BCA memiliki likuiditas yang lebih dari cukup, terutama ditopang oleh aliran dana murah (CASA) yang kuat. EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Heryn, mengungkapkan bahwa hingga kuartal I-2026, total CASA BCA telah mencapai Rp1.089 triliun, menunjukkan pertumbuhan sebesar 11,2% secara tahunan (year-on-year). Dengan posisi likuiditas yang solid ini, Hera optimistis bahwa BCA dapat secara efektif menjaga biaya dana (COF) sekaligus terus mendorong pertumbuhan kredit.




