
JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menghadapi tantangan penurunan kinerja di tahun 2025. Namun, perusahaan berupaya keras untuk membalikkan tren ini melalui peningkatan efisiensi operasional dan strategi penguatan Average Revenue Per User (ARPU), yang diproyeksikan menjadi kunci utama kinerja TLKM di masa mendatang.
Pada kuartal IV-2025, TLKM mencatat pendapatan sebesar Rp 37,1 triliun, mengakhiri tahun fiskal 2025 dengan total pendapatan Rp 146,7 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan 2,2% secara year on year (YoY). Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya kinerja di beberapa segmen utama, termasuk layanan suara, interkoneksi, dan jaringan. Meskipun demikian, pelemahan di segmen-segmen tersebut sebagian tertolong oleh pemulihan di segmen data dan internet.
Dari sisi operasional, pengeluaran perusahaan justru mengalami peningkatan. Pengeluaran operasional tercatat naik 10,1% YoY, dan melonjak 15,8% pada kuartal IV-2025 menjadi Rp 31,7 triliun. Lonjakan ini sebagian besar didorong oleh kenaikan biaya depresiasi dan amortisasi akibat percepatan depresiasi aset, serta biaya personel yang lebih tinggi seiring dengan program Pensiun Dini.
Dampaknya, laba bersih tahunan 2025 tercatat sebesar Rp 17,8 triliun, mengalami penurunan 20,5% YoY. Margin laba bersih (NPM) turut terpengaruh, turun menjadi 12,1% dari 14,9% pada tahun 2024.
Adaro Andalan Indonesia (AADI) Bersiap Bagi Dividen Tunai US$ 200 Juta
Menatap ke depan, manajemen TLKM memproyeksikan pertumbuhan pendapatan yang dinormalisasi sebesar 1% hingga 3% pada tahun 2026. Proyeksi ini menandakan pemulihan bertahap setelah penurunan pendapatan sebesar 2,2% di tahun 2025.
“Kami memperkirakan tahun 2026 akan menandai awal normalisasi pendapatan, didorong oleh peningkatan efisiensi operasional dan struktur biaya yang lebih sehat,” ujar Leonardo Lijuwardi, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, dalam risetnya tertanggal 20 Mei 2026.
Sementara itu, John Te, Analis UBS Sekuritas Indonesia, mencatat bahwa tahap kedua dari pemisahan aset serat optik TLKM mengalami penundaan selama satu kuartal akibat kendala perizinan. Penyelesaian tahap ini diperkirakan baru akan terlaksana pada kuartal III-2026.
Selain itu, Telkom juga tengah menjajaki potensi konsolidasi aset serat optik milik BUMN lain ke dalam penawaran Infranexia-nya. Meskipun laba mengalami penurunan, Telkom berencana untuk mempertahankan atau bahkan melampaui jumlah dividen absolut yang dibagikan untuk laba tahun 2025.
Terkait lelang spektrum frekuensi 700MHz dan 2.6GHz, Bob Setiadi, Analis CGS International Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa TLKM sedang meninjau persyaratan penawaran dengan tujuan untuk mengamankan spektrum sebanyak mungkin.
Manajemen TLKM mencatat bahwa hanya dua operator telekomunikasi lain yang turut mengajukan penawaran untuk kedua pita frekuensi tersebut. Bob juga menambahkan bahwa persyaratan pembayaran menjadi lebih menguntungkan, di mana pemerintah kini hanya mensyaratkan pembayaran dua kali lipat biaya spektrum tahunan pada tahun pertama, berbeda dari sebelumnya yang mensyaratkan tiga kali lipat.
“Terakhir, mereka mengatakan bahwa peluncuran 5G akan dilakukan secara hati-hati, berdasarkan kesiapan pasar dan penetrasi headset 5G,” ujar Bob dalam risetnya pada 12 Mei 2026.
Gajah Tunggal (GJTL) Bakal Bagi Dividen Tunai Rp 80 per Saham, Cek Jadwalnya
Gani, Analis OCBC Sekuritas, memperkirakan seluruh segmen bisnis TLKM akan mencatatkan pertumbuhan di tahun 2026. Namun, tantangan yang perlu diwaspadai adalah kondisi makroekonomi yang kurang mendukung, daya beli masyarakat, persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat, serta perkembangan eksekusi strategi unlocking asset.
“Pendapatan dan laba bersih tahun 2026 kemungkinan akan meningkat, didorong oleh perbaikan ARPU di bisnis selular dan pertumbuhan di lini bisnis lainnya,” ucap Gani kepada Kontan, Selasa (26/5/2026).
Sementara itu, John Te mengidentifikasi sejumlah risiko penurunan bagi TLKM, antara lain persaingan harga yang intensif yang dapat memicu penurunan harga atau peningkatan belanja modal. Kondisi makroekonomi yang lemah dan pelemahan nilai tukar rupiah, tantangan dalam implementasi bisnis fixed line, perubahan regulasi yang merugikan, serta perkembangan teknologi yang mendorong solusi alternatif juga menjadi faktor risiko yang perlu dicermati.
Di sisi lain, Leonardo Lijuwardi menilai valuasi TLKM saat ini cukup menarik. Hal ini didukung oleh minimnya tekanan jual dari investor asing yang tercermin pada pergerakan harga sahamnya baru-baru ini. Selain itu, karakteristik defensif TLKM memposisikan saham ini sebagai aset lindung nilai portofolio di tengah tingginya volatilitas pasar ekuitas Indonesia.
Lebih lanjut, Leonardo menambahkan bahwa di luar profil bisnisnya yang tangguh dan stabil, inisiatif strategis TLKM seperti perampingan operasional, pelepasan nilai aset fiber melalui Infranexia, dan ekspansi bisnis pusat data dapat menjadi katalis positif jangka menengah seiring transisi perusahaan menuju fase bisnis yang lebih matang.
Bumi Resources (BUMI) Terbitkan Obligasi Senilai Rp 1,84 Triliun
Dalam jangka pendek, Leonardo memprediksi katalis positif untuk TLKM meliputi keberhasilan implementasi inisiatif efisiensi operasional, potensi peningkatan ARPU, dan hasil yang sejalan dengan tren pemulihan industri.
“Risiko penurunan utama mencakup melemahnya daya beli konsumen yang dapat menurunkan permintaan layanan data, persaingan yang semakin ketat antar operator telekomunikasi, terutama dalam strategi penetapan harga, serta potensi penundaan dalam proses transformasi bisnis TLKM,” jelas Leonardo.
Leonardo memproyeksikan pendapatan TLKM di tahun 2026 akan mencapai Rp 151,04 triliun dan laba bersih sebesar Rp 23,78 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pendapatan Rp 146,7 triliun dan laba bersih Rp 17,8 triliun yang diraih pada tahun 2025.
Ketiga analis tersebut, Leonardo, John, dan Gani, kompak memberikan rekomendasi buy untuk saham TLKM. Masing-masing memberikan target harga yang optimistis, yaitu Rp 3.700 per saham untuk Leonardo, Rp 3.600 per saham untuk John, dan Rp 4.200 per saham untuk Gani.




