
JAKARTA – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan di tengah tingginya permintaan terhadap aset safe haven serta sikap waspada pelaku pasar terkait kebijakan suku bunga global. Tren ini memberikan tekanan berkelanjutan bagi nilai tukar rupiah yang masih tertahan di level yang cukup tinggi.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 12.15 WIB, indeks dolar AS (DXY) tercatat naik 0,30% ke posisi 99,50. Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.877 per dolar AS.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa penguatan dolar saat ini lebih didorong oleh fenomena technical rebound setelah mengalami pelemahan signifikan selama beberapa bulan terakhir.
Rupiah Tertekan Gejolak Global, Berpotensi Tembus Rp 17.900 per Dolar AS
“Secara jangka menengah, DXY memang memiliki kecenderungan untuk melemah. Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan adanya rebound sesekali. Pergerakannya tetap akan fluktuatif dan masih bertahan di level yang relatif tinggi secara historis,” ujar Yusuf, Selasa (26/5).
Yusuf memaparkan, fase pelemahan dolar sebelumnya dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik serta meningkatnya ekspektasi pasar mengenai potensi pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral AS (The Fed). Selain itu, penurunan harga minyak dunia turut meringankan tekanan inflasi di AS, yang pada akhirnya memberikan ruang bagi The Fed untuk menerapkan kebijakan yang lebih longgar.
Namun, Yusuf mengingatkan bahwa potensi penguatan dolar dalam jangka pendek tetap terbuka seiring dengan sikap hati-hati investor terhadap prospek ekonomi global dan arah kebijakan moneter AS ke depan.
Di sisi lain, rupiah dinilai belum mampu memaksimalkan momentum pelemahan dolar global. Yusuf berpandangan bahwa tekanan yang menimpa mata uang Garuda saat ini lebih dominan dipengaruhi oleh faktor-faktor internal domestik.
“Jika dibandingkan dengan mata uang di negara emerging markets lainnya, kinerja rupiah relatif tertinggal. Ini mengindikasikan bahwa pasar masih melihat adanya premi risiko domestik yang cukup besar,” jelas Yusuf.
Makin Loyo, Rupiah Spot Melemah 0,42% ke Rp 17.876 per Dolar AS, Kamis (28/5) Siang
Salah satu pemicu utama kekhawatiran pasar adalah kondisi fiskal nasional. Investor mulai menyoroti kemampuan pemerintah dalam menjaga disiplin anggaran di tengah meningkatnya beban belanja negara dan rasio pajak (tax ratio) yang masih tergolong rendah.
Selain faktor fiskal, menyusutnya surplus neraca perdagangan dan aliran modal asing yang cenderung keluar (capital outflow) telah membatasi ketersediaan pasokan valuta asing di pasar domestik. Yusuf juga menyoroti persepsi investor terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi domestik. Menurutnya, perubahan outlook dari lembaga pemeringkat internasional membuat pelaku pasar menjadi jauh lebih sensitif terhadap profil risiko Indonesia.
Terkait kebijakan moneter, kenaikan BI Rate ke level 5,25% dipandang lebih bertujuan sebagai langkah defensif untuk menjaga stabilitas rupiah, alih-alih untuk mendorong penguatan yang signifikan.
“Bank Indonesia saat ini berada dalam posisi defensif. Tanpa adanya intervensi valas dan penyesuaian suku bunga, tekanan terhadap rupiah kemungkinan akan jauh lebih berat,” tegasnya.
Memasuki kuartal III-2026, Yusuf memproyeksikan DXY masih berpotensi bergerak dalam tren pelemahan moderat, dengan catatan tensi geopolitik terus menurun dan keyakinan pasar terhadap pelonggaran suku bunga The Fed semakin kuat. Untuk rupiah, pergerakan diperkirakan cenderung stabil di kisaran Rp 17.000 hingga Rp 17.700 per dolar AS, meski dengan ruang penguatan yang terbatas.
Yusuf menyimpulkan bahwa meskipun pelemahan dolar global dapat membantu stabilisasi mata uang, manfaat tersebut tidak akan optimal selama pasar masih meragukan fundamental domestik, terutama menyangkut aspek fiskal, neraca eksternal, dan konsistensi kebijakan ekonomi jangka panjang.
Ringkasan
Indeks dolar AS mengalami penguatan ke posisi 99,50 akibat fenomena technical rebound dan tingginya permintaan terhadap aset safe haven. Kondisi ini memberikan tekanan berkelanjutan bagi nilai tukar rupiah di pasar spot yang sempat menyentuh level Rp 17.877 per dolar AS. Meskipun dolar AS diprediksi melemah dalam jangka menengah, pergerakannya tetap fluktuatif karena sikap hati-hati investor terhadap prospek ekonomi global.
Kelemahan nilai tukar rupiah dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal, seperti kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal nasional dan rendahnya rasio pajak. Selain itu, menyusutnya surplus neraca perdagangan serta aliran modal keluar membatasi pasokan valuta asing di dalam negeri. Bank Indonesia pun terpaksa mengambil langkah defensif melalui kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas mata uang di tengah keraguan pasar terhadap fundamental ekonomi domestik.




