
JAKARTA — Fase pelemahan nilai tukar rupiah yang dinilai telah melampaui batas fundamental atau overshooting kini memberikan efek domino yang signifikan terhadap sektor riil di Indonesia. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.789 per dolar AS pada perdagangan Selasa (26/5/2026).
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengungkapkan bahwa dunia usaha saat ini tengah menghadapi tantangan berat. Kondisi ini diperburuk oleh langkah Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dalam rapat dewan gubernur pada Mei 2026 sebagai respons atas pelemahan mata uang Garuda.
Tekanan Ganda bagi Dunia Usaha
Fakhrul menjelaskan bahwa pelaku bisnis terjepit oleh tekanan ganda. Di satu sisi, depresiasi rupiah secara otomatis melambungkan biaya impor bahan baku, energi, mesin, hingga logistik. Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan dan tingginya imbal hasil (yield) obligasi membuat beban pembiayaan perusahaan ikut membengkak.
“Dunia usaha menghadapi tekanan ganda secara bersamaan. Beban operasional meningkat akibat pelemahan rupiah, sementara di waktu yang sama, biaya pendanaan pun melonjak,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).
Meski demikian, dampak pelemahan ini tidak dirasakan secara merata. Sektor komoditas yang berorientasi ekspor justru diuntungkan karena memperoleh pendapatan berbasis dolar AS. Sebaliknya, sektor yang bergantung pada pasar domestik mengalami masa sulit akibat tingginya biaya impor dan mahalnya biaya dana (cost of fund).
Beberapa sektor yang paling terdampak antara lain industri manufaktur yang masih mengandalkan bahan baku impor, sektor properti dan konstruksi yang sangat sensitif terhadap suku bunga, industri ritel, serta perusahaan dengan rasio utang (leverage) yang tinggi.
Risiko Perlambatan Investasi
Fakhrul memperingatkan bahwa jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, perusahaan tidak hanya akan mengalami tekanan margin, tetapi juga terpaksa menahan rencana ekspansi, menunda investasi baru, hingga mengambil langkah defensif dalam perekrutan tenaga kerja.
Ancaman terhadap investasi nasional pun mulai terlihat nyata. Walaupun investor asing masih melirik Indonesia sebagai pasar potensial dalam jangka panjang, lonjakan biaya modal serta volatilitas kurs yang tinggi dapat memicu penundaan realisasi penanaman modal. Menurut Fakhrul, investor mungkin masih bisa menoleransi suku bunga tinggi, namun mereka sangat menghindari ketidakpastian yang berkepanjangan.
Strategi Bertahan di Tengah Badai
Menghadapi ketidakpastian ini, Fakhrul menyarankan pelaku bisnis untuk mengedepankan strategi defensif dibandingkan ekspansi agresif. Ada empat langkah krusial yang perlu diperhatikan manajemen perusahaan, yakni menjaga arus kas tetap positif, memperkuat posisi likuiditas, meminimalisir ketidaksesuaian mata uang (mismatch valas), dan menghindari penambahan utang berbasis valas secara berlebihan.
Di balik situasi yang menantang, Fakhrul tetap melihat celah positif. Menurutnya, fase overshooting ini dapat menjadi peluang emas bagi perusahaan dengan neraca keuangan yang sehat untuk melakukan akumulasi aset dengan harga yang lebih rasional.
“Setiap fase overshooting biasanya juga menciptakan peluang akumulasi aset bagi pelaku usaha yang siap,” pungkasnya.
Ringkasan
Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga acuan BI Rate sebesar 5,25% memberikan tekanan ganda terhadap sektor riil di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan beban operasional perusahaan melonjak akibat mahalnya biaya impor bahan baku serta meningkatnya beban pembiayaan modal. Sektor manufaktur, properti, dan ritel menjadi kelompok yang paling terdampak, sementara industri berorientasi ekspor cenderung lebih stabil.
Menghadapi risiko perlambatan investasi, pelaku usaha disarankan untuk menerapkan strategi defensif dengan fokus pada penguatan arus kas dan manajemen utang yang bijak. Meskipun situasi saat ini penuh ketidakpastian, perusahaan dengan neraca keuangan yang sehat dapat memanfaatkan kondisi pasar untuk melakukan akumulasi aset strategis. Langkah kehati-hatian ini penting agar pelaku bisnis dapat menjaga keberlangsungan operasional di tengah volatilitas ekonomi yang tinggi.




