
JAKARTA – Kinerja emiten di bawah naungan Danantara diproyeksikan tetap memiliki ketahanan di tengah kondisi pasar saham Indonesia yang sedang lesu. Sejak awal tahun atau year to date (YTD), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencatatkan penurunan sebesar 29,11%.
Penurunan serupa juga dialami oleh sejumlah indeks sektoral, termasuk IDXBUMN20 yang beranggotakan emiten pelat merah. Kendati demikian, performa IDXBUMN20 dinilai relatif lebih baik dibandingkan IHSG dengan mencatatkan koreksi sebesar 11,73% YTD.
Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan, mengungkapkan bahwa anjloknya IHSG yang lebih dalam dipicu oleh koreksi signifikan pada saham-saham konglomerasi. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh sentimen pasar serta penyesuaian bobot MSCI.
“Koreksi harga saham yang terjadi bersifat menyeluruh di pasar, sehingga penurunan pada saham BUMN merupakan imbas dari tren penurunan harga saham secara umum,” ujar Alfred kepada Kontan, Rabu (27/5/2026).
Baca Juga: Mitra Pinasthika (MPMX) Tebar Dividen Rp 451,89 Miliar, Beri Yield 16%
Di sisi lain, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menjelaskan bahwa tekanan pada IDXBUMN20 sepanjang tahun ini dipicu oleh beberapa faktor makro. Mulai dari aliran keluar modal asing (foreign outflow), pelemahan nilai tukar rupiah, hingga kekhawatiran investor mengenai arah kebijakan BUMN ke depan, termasuk peran strategis Danantara dan potensi penyesuaian alokasi dividen.
Meski kinerja indeks BUMN masih lebih unggul dibandingkan IHSG, para investor diminta tidak serta-merta menganggap seluruh saham BUMN menarik untuk dikoleksi.
“Koreksi pasar saat ini justru lebih membuka peluang selective buying. Investor sebaiknya fokus pada emiten BUMN yang memiliki fundamental kuat, visibilitas dividen yang jelas, serta katalis pertumbuhan yang konkret,” jelas Harry, Selasa (26/5/2026).
Memasuki sisa tahun 2026, fundamental emiten BUMN20 diprediksi masih akan menghadapi tantangan dari kondisi ekonomi global dan domestik, seperti fluktuasi kurs rupiah, kenaikan harga minyak dunia, serta kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Menurut Alfred, di luar sektor perbankan dan komoditas, sektor telekomunikasi masih menjadi opsi yang layak dilirik. Sementara itu, ia menilai sektor lain masih akan menghadapi tekanan berat. “Sebagai contoh, emiten di sektor farmasi dan semen terdampak pelemahan rupiah serta kenaikan harga minyak, sementara BUMN Karya masih menghadapi tantangan fundamental,” tambahnya.
Baca Juga: Sariguna Primatirta (CLEO) Akuisisi Aset Tanah dan Bangunan Senilai Rp 60,34 Miliar
Di tengah kondisi pasar yang sedang tertekan, pembagian dividen menjadi daya tarik utama bagi investor. Namun, Harry mengingatkan bahwa saat pasar mulai memasuki fase pemulihan, potensi keuntungan dari capital gain diprediksi akan jauh lebih besar dibandingkan sekadar dividen.
Saham BUMN sektor perbankan dan komoditas sejauh ini memiliki rekam jejak dividend payout ratio (DPR) yang tinggi. Dengan potensi pemulihan pasar yang mulai terlihat, kenaikan harga saham nantinya akan memberikan kontribusi signifikan terhadap total imbal hasil investor.
Secara keseluruhan, Harry memandang prospek emiten BUMN di sisa tahun 2026 masih akan bervariasi. Sentimen positif datang dari valuasi harga yang lebih terjangkau, potensi pembagian dividen, serta dorongan dari belanja pemerintah. Sebaliknya, risiko ketidakpastian kebijakan, tekanan pada mata uang rupiah, suku bunga tinggi, dan intervensi pemerintah tetap menjadi catatan penting.
Selain sektor perbankan dan komoditas, saham yang dinilai masih memiliki prospek menarik meliputi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Elnusa Tbk (ELSA). Menurut Harry, ketiga emiten tersebut memiliki keunggulan berupa recurring income, katalis pemulihan operasional yang jelas, serta prospek pertumbuhan yang relatif terjaga.
Sebagai rekomendasi, Harry memberikan pandangan beli untuk TLKM dengan target harga Rp 3.700 per saham, JSMR di angka Rp 4.476 per saham, dan ELSA dengan target Rp 1.081 per saham.
Ringkasan
Kinerja emiten di bawah naungan Danantara terbukti lebih tangguh dibandingkan IHSG, dengan indeks IDXBUMN20 mencatatkan koreksi yang lebih rendah di tengah tekanan pasar global dan domestik. Meskipun pasar mengalami penurunan akibat sentimen negatif dan aliran keluar modal asing, sektor perbankan, komoditas, dan telekomunikasi tetap dipandang memiliki fundamental yang cukup solid bagi investor.
Para investor disarankan untuk melakukan strategi selective buying dengan fokus pada emiten yang memiliki visibilitas dividen jelas serta katalis pertumbuhan yang konkret. Beberapa saham yang dinilai prospektif di tengah kondisi pasar saat ini meliputi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Elnusa Tbk (ELSA) karena keunggulan operasional dan pendapatan berulang yang dimiliki.




