
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan berat di pasar keuangan. Mata uang Garuda tercatat melemah ke level Rp17.846 per dolar Amerika Serikat (AS), dipicu oleh tingginya permintaan valuta asing serta sentimen global yang belum menunjukkan tren positif bagi pasar berkembang.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan bahwa rupiah masih akan bergerak dalam rentang terbatas dengan tekanan yang cukup kuat dalam jangka pendek. Ia memperkirakan nilai tukar akan berkisar di antara Rp17.700 hingga Rp18.000 per dolar AS hingga beberapa waktu ke depan.
Kendati demikian, optimisme mulai muncul untuk paruh kedua tahun 2026. Lukman melihat adanya peluang bagi rupiah untuk mencatatkan penguatan seiring dengan potensi penurunan permintaan dolar AS dibandingkan dengan tekanan yang terjadi pada kuartal II.
Harapan dari Kebijakan Domestik
Salah satu katalis utama yang diharapkan mampu menopang rupiah adalah kebijakan pemerintah terkait penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di perbankan dalam negeri yang akan diterapkan mulai Juni. Selain itu, pemerintah juga tengah mendorong mekanisme ekspor komoditas melalui satu pintu.
Menurut Lukman, kebijakan ini dapat memberikan dampak positif terhadap stabilitas mata uang nasional. “Langkah ini berpotensi meningkatkan pasokan valuta asing di dalam negeri, memperdalam likuiditas dolar AS di pasar domestik, serta memperkuat cadangan devisa kita,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).
Dengan semakin banyaknya eksportir yang menempatkan devisanya di sistem perbankan nasional, tekanan permintaan terhadap dolar di pasar lokal diharapkan berkurang secara signifikan. Hal tersebut dipandang sebagai langkah krusial dalam mengendalikan volatilitas rupiah di tengah ketidakpastian pasar.
Faktor Eksternal Tetap Membayangi
Walaupun kebijakan domestik memiliki potensi yang besar, Lukman mengingatkan bahwa pergerakan rupiah tetap sangat bergantung pada dinamika eksternal. Faktor-faktor utama yang perlu diwaspadai meliputi arah kebijakan suku bunga The Fed, fluktuasi harga komoditas global, serta bagaimana sentimen investor terhadap pasar negara berkembang atau emerging markets.
Ia mencontohkan pengalaman Malaysia pada tahun 2016 yang menunjukkan bahwa kebijakan serupa mampu memperbaiki likuiditas valas domestik dan menstabilkan mata uang. Namun, efektivitas langkah ini tetap harus berkolaborasi dengan kondisi ekonomi global yang kondusif.
Di Indonesia, dampak kebijakan ini diprediksi lebih signifikan mengingat besarnya kontribusi ekspor komoditas sumber daya alam seperti batu bara, nikel, dan kelapa sawit terhadap neraca perdagangan. Meski demikian, untuk saat ini, kombinasi kebijakan domestik dan sentimen global masih akan membuat pergerakan rupiah tetap volatil dalam jangka pendek.
Dari SKKL hingga Wi-Fi 7, Ini Strategi Sinergi Inti (INET) Kejar Pertumbuhan di 2026
IHSG Menguat pada Perdagangan Jumat (29/5) Pagi, CUAN, BRPT, DEWA Top Gainers LQ45
Ringkasan
Nilai tukar rupiah saat ini berada dalam tekanan berat dengan melemah ke level Rp17.846 per dolar AS akibat tingginya permintaan valuta asing dan sentimen global yang kurang mendukung. Analis memprediksi rupiah masih akan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.700 hingga Rp18.000 per dolar AS dalam jangka pendek, sebelum berpotensi menguat pada paruh kedua tahun 2026.
Pemerintah berupaya menstabilkan mata uang melalui kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA di perbankan domestik dan mekanisme ekspor satu pintu. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dolar AS di pasar lokal, meskipun pergerakan rupiah ke depan tetap akan sangat bergantung pada dinamika kebijakan suku bunga The Fed dan kondisi ekonomi global.




