
JAKARTA – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 5,25% dinilai akan memengaruhi peta investasi di Indonesia. PT ICX Bangun Indonesia (ICX), perusahaan urun dana (securities crowdfunding), memprediksi kebijakan ini akan meningkatkan daya tarik produk perbankan tradisional seperti deposito di kalangan investor konservatif.
Direktur Operasional ICX, Gunawan Aldy, mengakui bahwa kenaikan suku bunga tersebut memicu rotasi investasi bagi sebagian investor yang memilih instrumen dengan tingkat keamanan lebih tinggi. Namun, Gunawan tetap optimistis bahwa industri urun dana akan tetap dilirik investor karena mampu menawarkan imbal hasil yang jauh lebih kompetitif dibandingkan deposito perbankan.
Secara historis, imbal hasil yang ditawarkan oleh penerbit di platform urun dana berada di kisaran 10% hingga 20%. Angka ini terpaut cukup jauh dari rata-rata bunga deposito perbankan yang saat ini berada di level 4% hingga 5%. Dengan demikian, yield premium yang didapatkan investor tetap signifikan sebagai kompensasi atas profil risiko yang diambil atau dikenal dengan istilah risk-adjusted return.
ICX Catat Total Dana yang Dihimpun Capai Rp 233 Miliar di 2025
Di tengah tren kenaikan suku bunga saat ini, Gunawan menekankan pentingnya bagi platform urun dana untuk menjaga loyalitas investor. Strateginya adalah dengan memastikan setiap bisnis yang listing tetap menyajikan proyeksi imbal hasil yang jauh di atas rata-rata perbankan. Hal ini menjadi daya tarik utama bagi para investor yang memahami dan bersedia mengambil risiko lebih tinggi demi mendapatkan keuntungan yang lebih optimal.
Lebih lanjut, urun dana juga memiliki keunggulan melalui mekanisme penerbitan efek bersifat surat utang. Instrumen ini dinilai sangat atraktif karena memberikan parameter yang terukur sejak awal, mulai dari kepastian kupon, tenor, hingga plafon pengembalian modal yang jelas bagi investor.
ICX Nilai Prospek Bisnis Urun Dana Masih Cerah pada Tahun 2026 Ini
Gunawan memberikan contoh konkret melalui beberapa efek saham yang listing di platform ICX dengan performa dividen yang solid. PT Fitnessplus Usaha Bersama, misalnya, mencatatkan yield dividen sebesar 14,22% per tahun. Tidak ketinggalan, sektor makanan dan minuman (F&B) juga menunjukkan kinerja yang impresif, di mana PT Santhai Indonesia Gancit mampu memberikan dividen yield sebesar 13,35%, serta PT Bisnis Sama Sama mencapai 15,14%.
Selain mengandalkan pembagian dividen, investor juga memiliki peluang untuk memperoleh keuntungan tambahan melalui capital gain. Hal ini dimungkinkan melalui transaksi di pasar sekunder yang dibuka oleh ICX setiap tiga bulan sekali selama 10 hari kerja. Tercatat, nilai transaksi di pasar sekunder ICX sepanjang tahun 2025 telah menembus angka lebih dari Rp 1,5 miliar, menunjukkan aktivitas perdagangan yang dinamis di antara para investor.
ICX Proyeksikan Industri SCF Masuki Fase Konsolidasi 2026
Ringkasan
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 5,25% memicu pergeseran preferensi investor menuju instrumen yang lebih aman seperti deposito. Meski demikian, PT ICX Bangun Indonesia tetap optimistis bahwa industri urun dana (securities crowdfunding) akan terus diminati karena mampu menawarkan imbal hasil yang jauh lebih kompetitif, yakni di kisaran 10% hingga 20%. Keunggulan ini memberikan kompensasi yang sepadan bagi investor atas profil risiko yang diambil dibandingkan dengan bunga perbankan.
Untuk menjaga loyalitas investor, ICX terus memastikan setiap bisnis yang terdaftar memiliki proyeksi imbal hasil yang optimal dan instrumen yang terukur. Selain dividen yang solid dari berbagai sektor, investor juga dapat memperoleh keuntungan melalui perdagangan di pasar sekunder yang aktif. Hingga tahun 2025, ICX telah menghimpun dana sebesar Rp 233 miliar dan mencatatkan transaksi pasar sekunder lebih dari Rp 1,5 miliar, menandakan prospek industri urun dana yang tetap cerah.




