BEI rela saham RI keluar dari MSCI-FTSE demi jaga integritas pasar

Hikma Lia

Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan kualitas dan integritas pasar menjadi prioritas meski konsekuensinya sejumlah saham Indonesia berpotensi keluar dari indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell.

Advertisements

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan otoritas pasar modal berkomitmen menjaga transparansi pasar dan integritas bursa. Menurut dia, kedua aspek itu menjadi perhatian utama penyedia indeks global maupun investor internasional.

“Kami tentu akan lebih senang kalau itu (emiten) masuk dengan cara yang baik dan benar, yang selama ini itulah yang menjadi kritik dari global index provider dan juga global investor,” kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (15/7).

Advertisements

Jeffrey berharap semakin banyak perusahaan tercatat di BEI dapat masuk ke indeks global. Namun, ia menegaskan hal itu harus dicapai melalui mekanisme pasar yang sehat dan memenuhi standar yang diharapkan penyedia indeks global.

Ia juga mengakui penguatan kualitas pasar yang dilakukan BEI berpotensi membuat sejumlah saham Indonesia keluar dari indeks global dalam jangka pendek. Meski demikian, Jeffrey optimistis langkah ini akan memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka menengah dan panjang, sehingga semakin banyak emiten domestik dapat masuk ke indeks MSCI, FTSE Russell, maupun S&P.

Sebelumnya, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan FTSE, setelah BEI menyatakan kedua saham ini masuk kategori kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Untuk memperkuat pengawasan, BEI merevisi metodologi penentuan saham HSC dengan menambahkan kriteria baru berupa price impact ratio bagi saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.

Jeffrey menjelaskan BEI akan melakukan penyaringan terhadap saham yang memiliki price impact ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi HSC.

Menurut dia, price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity, yakni rasio antara rata-rata volume transaksi dan jumlah saham yang beredar di publik (free float). Semakin rendah volume transaksi suatu saham, semakin rendah pula velocity-nya.

“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC,” kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7).

 

Evaluasi berdasarkan price impact ratio akan dilakukan secara berkala setiap tiga bulan terhadap seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun mengikuti siklus evaluasi indeks utama BEI.

Sementara itu, trigger factor yang digunakan dalam pengawasan tetap berlaku untuk seluruh saham dan dilakukan secara insidental di luar jadwal evaluasi berkala.

Dengan penerapan kriteria baru itu, BEI akan menambah 37 saham ke dalam kategori high shareholding concentration. Penambahan itu membuat jumlah saham yang masuk daftar HSC meningkat menjadi 51 emiten.

Berikut 34 emiten baru yang masuk daftar HSC per 14 Juli:

No.

Kode Emiten

Perusahaan

Terkonsentrasi (%)

1

AGII

PT Samator Indo Gas Tbk

97,75%

2

ALII

PT Ancara Logistics Indonesia Tbk

97,62%

3

BBHI

PT Allo Bank Indonesia Tbk

92,71%

4

BBSI

PT Krom Bank Indonesia Tbk

99,95%

5

BELI

PT Global Digital Niaga Tbk

93,83%

6

BINA

PT Bank Ina Perdana Tbk

94,79%

7

BNII

PT Bank Maybank Indonesia Tbk

99,14%

8

BNLI

PT Bank Permata Tbk

99,92%

9*

BREN

PT Barito Renewables Energy Tbk

97,31%

10

BTPN

PT Bank SMBC Indonesia Tbk

99,78%

11

BYAN

PT Bayan Resources Tbk

98,50%

12

CMNP

PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk

96,64%

13

CMNT

PT Cemindo Gemilang Tbk

99,41%

14

DCII

PT DCI Indonesia Tbk

99,96%

15*

DGWG

PT Delta Giri Wacana Tbk

97,35%

16

DNET

PT Indoritel Makmur Internasional Tbk

98,06%

17*

DSSA

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk

95,76%

18

ELPI

PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk

98,90%

19

FAPA

PT FAP Agri Tbk

99,77%

20

FILM

PT MD Entertainment Tbk

92,98%

21

FITT

PT Hotel Fitra International Tbk

95,00%

22

GEMS

PT Golden Energy Mines Tbk

99,24%

23*

HATM

PT Habco Trans Maritima Tbk

96,09%

24

IFSH

PT Ifishdeco Tbk

99,77%

25

KING

PT Hoffmen Cleanindo Tbk

98,40%

26

KONI

PT Perdana Bangun Pusaka Tbk

95,08%

27

LIFE

PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk

99,21%

28

MCOL

PT Prima Andalan Mandiri Tbk

98,62%

29

MEGA

PT Bank Mega Tbk

95,68%

30*

MGLV

PT Panca Anugrah Wisesa Tbk

95,94%

31*

MGRO

PT Mahkota Group Tbk

93,76%

32

MKPI

PT Metropolitan Kentjana Tbk

97,02%

33

MLPT

PT Multipolar Technology Tbk

99,42%

34

MORA

PT Ekamas Mora Republik Tbk

95,65%

35

MPRO

PT Maha Properti Indonesia Tbk

99,99%

36

PGUN

PT Pradiksi Gunatama Tbk

99,95%

37

POLU

PT Golden Flower Tbk

99,94%

38

PRAY

PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk

99,84%

39

RISE

PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk

98,03%

40*

RLCO

PT Abadi Lestari Indonesia Tbk

95,35%

41*

ROCK

PT Rockfields Properti Indonesia

99,85%

42

SATU

PT Kota Satu Properti Tbk

94,27%

43

SILO

PT Siloam International Hospitals Tbk

96,70%

44

SMAR

PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk

99,58%

45

SOHO

PT Soho Global Health Tbk

99,93%

46*

SOTS

PT Satria Mega Kencana Tbk

98,35%

47

SRAJ

PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk

97,21%

48

STTP

PT Siantar Top Tbk

94,95%

49*

TCPI

PT Transcoal Pacific Tbk

94,10%

50*

WBSA

PT BSA Logistics Indonesia Tbk

95,82%

51

YUPI

PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk

99,91%

*daftar HSC yang masuk sebelum 14 Juli 2026.

“Sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration akan menjadi 51 saham, sekali lagi ini adalah bagian dari reformasi berkelanjutan yang terus kami lakukan untuk memastikan transaksi yang teratur wajar dan efisien,” ujar Jeffrey.

Advertisements

Also Read

Tags