ORI030 laris diburu investor, tenor tiga tahun hampir ludes terserap

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) resmi menawarkan Surat Berharga Negara (SBN) ritel jenis Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 pada periode 6 Juli hingga 30 Juli 2026.

Advertisements

Instrumen investasi ini menawarkan kupon tetap (fixed rate) sebesar 6,90% untuk tenor tiga tahun (ORI030-T3) dan 7,00% untuk tenor enam tahun (ORI030-T6). Tingkat kupon tersebut menjadi yang tertinggi sejak penerbitan ORI015 pada 2018.

Sebagai instrumen dengan kupon tetap yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder, ORI030 dinilai masih memiliki daya tarik kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Dengan tingkat inflasi Indonesia yang tercatat sebesar 3,34%, ORI030 masih menawarkan real yield positif yang dapat menjaga daya beli investor.

Advertisements

Minat masyarakat terhadap ORI030 pun masih terbilang tinggi, terutama pada seri dengan tenor yang lebih pendek.

IHSG Diproyeksikan Menguat Terbatas pada Perdagangan Jumat (17/7), Simak Sentimennya

Berdasarkan data mitra distribusi Bareksa per Kamis (16/7/2026), penjualan ORI030-T3 telah mencapai 97% dari kuota nasional senilai Rp 12 triliun. Adapun ORI030-T6 telah terserap sebesar 64% dari kuota yang tersedia sebesar Rp 8 triliun.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai respons pasar terhadap ORI030 mencerminkan preferensi investor yang lebih mengutamakan keamanan dan kepastian pendapatan dibandingkan optimisme terhadap prospek ekonomi saat ini.

Menurutnya, ketidakpastian makroekonomi, baik dari dalam maupun luar negeri, yang dipicu oleh volatilitas nilai tukar rupiah dan arah kebijakan suku bunga, membuat investor cenderung memilih instrumen dengan tenor lebih pendek.

“Investor yang memilih seri enam tahun menanggung risiko durasi lebih tinggi: ketika yield pasar naik, harga obligasi berjangka lebih panjang secara umum turun lebih dalam,” kata Syafruddin kepada Kontan, Kamis (16/7/2026).

Tambahan kupon sebesar 10 basis poin yang ditawarkan pada seri ORI030-T6 dinilai belum cukup menarik jika dibandingkan dengan risiko investasi jangka panjang yang harus ditanggung investor.

Di sisi lain, pemerintah membuka peluang untuk meningkatkan penyerapan dana melalui instrumen ini. Kepala Subdirektorat Pengembangan dan Pendalaman Pasar SUN Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, Chandra A.S. Wibowo, mengungkapkan bahwa pemerintah telah menaikkan target kuota awal dari Rp 20 triliun menjadi Rp 25 triliun.

“Terkait peluang penambahan kuota lanjutan (upsize), pemerintah masih akan terus mengevaluasi dinamika pergerakan pasar serta strategi pembiayaan negara,” terang Chandra kepada Kontan, Kamis (16/7/2026).

Daftar Broker Pembeli & Penjual Blue Chip (16 Juli 2026), Mandiri Sekuritas Disorot

Preferensi investor ritel terhadap tenor pendek dinilai menjadi tren yang lazim terjadi di tengah ketidakpastian pasar. Investor cenderung memilih instrumen yang memberikan fleksibilitas lebih besar dan kepastian dalam pengelolaan portofolio.

Untuk membedakan karakteristik kedua seri tersebut, pemerintah menyematkan label SDGs bonds ritel pada ORI030-T6. Langkah ini ditujukan untuk menarik investor yang memiliki perhatian terhadap agenda pembangunan berkelanjutan.

Hingga masa penawaran berakhir, Syafruddin memproyeksikan ORI030 akan tetap menjadi salah satu instrumen investasi favorit masyarakat. Selain menawarkan arus kas bulanan yang kompetitif, investasi pada SBN ritel juga dijamin sepenuhnya oleh negara melalui undang-undang.

Di tengah tingginya minat investor, pemerintah diharapkan mampu mengelola dana hasil penerbitan ORI030 secara produktif sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat melampaui biaya pembayaran kupon yang ditanggung negara.

Advertisements

Also Read

Tags