Laju penguatan rupiah terbatas, terganjal defisit transaksi berjalan dan impor migas

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pembengkakan defisit perdagangan migas serta defisit transaksi berjalan nasional menjadi batu sandungan utama yang menahan laju apresiasi mata uang Garuda di tengah tren kejatuhan dolar Amerika Serikat (AS).

Advertisements

Ekspektasi pasar terhadap merosotnya indeks dolar global belum mampu mendongkrak rupiah secara instan akibat rapuhnya fundamental eksternal dalam negeri.

Mengacu pada data Bloomberg pada perdagangan Jumat (17/7/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot sebenarnya ditutup menguat 0,36% ke level Rp 17.921 per dolar AS.

Advertisements

Pola Grafik Mingguan Buka Peluang Rupiah Menguat Menuju Rp 17.688

Perbaikan teknikal yang berhasil membawa rupiah kembali ke bawah level psikologis Rp18.000 tersebut sejalan dengan pelemahan dolar global, namun lajunya tertahan oleh tingginya permintaan valas domestik.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengungkapkan bahwa kejatuhan indeks dolar AS terbukti tidak otomatis mendongkrak rupiah akibat tingginya tekanan impor migas nasional.

Menurutnya, defisit transaksi berjalan yang mencapai 1,1% PDB pada triwulan I-2026 serta defisit perdagangan Mei sebesar US$ 1,61 miliar akibat pelebaran sektor migas menjadi pembatas utama bagi pemulihan kurs.

Faktor domestik inilah yang membuat pergerakan rupiah saat ini dinilai masih jauh lebih lemah dibandingkan dengan posisi April lalu dan tetap berada di dekat zona ekstrem historisnya.

Langkah Bank Indonesia menaikkan BI-Rate menjadi 5,75% dipandang sebagai upaya terukur untuk memperkuat stabilisasi kurs di tengah gejolak pasar global.

Rupiah Bergerak di Bawah Rp 18.000, Risiko Global & Domestik Hambat Rupiah Perkasa

“Selama defisit perdagangan migas, kebutuhan pembayaran utang luar negeri, dan arus modal keluar tetap besar, rupiah berisiko kembali menembus Rp18.000,” kata Syafruddin.

Oleh karena itu, kejatuhan nilai mata uang Paman Sam dalam jangka pendek ditegaskan belum cukup kuat untuk membawa mata uang Garuda kembali ke bawah level Rp17.500 secara berkelanjutan.

Pemerintah diimbau untuk tidak hanya mengandalkan kebijakan bunga tinggi atau menguras cadangan devisa, melainkan juga memperluas ekspor manufaktur serta mengurangi ketergantungan impor energi.

Menurut Syafruddin, menatap kuartal III-2026, pergerakan nilai tukar diproyeksikan akan berada dalam rentang skenario Rp 17.800 hingga Rp 18.400 per dolar AS dengan kecenderungan risiko yang masih condong melemah di akhir September.

“Pelemahan dolar merupakan syarat pendukung, sedangkan perbaikan fundamental eksternal Indonesia menjadi syarat penentu,” tutup Syafruddin.

Advertisements

Also Read

Tags