IHSG wait and see jelang RDG BI, berpeluang ke 6.900 hingga akhir tahun

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diperkirakan masih akan diwarnai sikap wait and see pelaku pasar menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Advertisements

Pelaku pasar tidak hanya menanti keputusan suku bunga acuan (BI Rate), tetapi juga mencermati arah kebijakan BI ke depan, terutama terkait stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan prospek arus modal asing.

Praktisi Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, dalam kondisi seperti ini pasar cenderung lebih sensitif terhadap sinyal kebijakan dibandingkan besaran suku bunga itu sendiri.

Advertisements

Diversifikasi Bisnis, Darma Henwa (DEWA) Dirikan Tiga Anak Usaha Baru

“Pasar umumnya lebih sensitif terhadap forward guidance yang disampaikan Bank Indonesia dibandingkan keputusan suku bunga itu sendiri,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (19/7/2026).

Menurutnya, selama BI tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi, reaksi pasar berpotensi positif.

Namun, ia mengingatkan adanya potensi tekanan jangka pendek apabila muncul sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif.

“Apabila muncul sinyal pengetatan yang lebih agresif, tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih mungkin terjadi, terutama pada sektor yang sensitif terhadap suku bunga,” jelasnya.

Meski demikian, langkah tersebut juga dapat dipandang positif karena memperkuat kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Hendra memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 6.000-6.300 pada pekan RDG BI.

Untuk prospek hingga akhir tahun, ia menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka, meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi.

“Arah pergerakan IHSG tidak hanya dipengaruhi kebijakan BI, tetapi juga keputusan The Fed, kondisi geopolitik, nilai tukar rupiah, harga komoditas, serta kinerja laba emiten,” ungkapnya.

Menilik Nasib Pasar Keuangan Jelang RDG BI Bulan Juli 2026

Ia menambahkan, kenaikan suku bunga BI tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi pasar saham, karena dalam kondisi tertentu justru dapat meningkatkan kepercayaan investor.

Masuknya dana asing pada perdagangan akhir pekan lalu juga dinilai sebagai sinyal awal membaiknya kepercayaan terhadap pasar domestik.

“Namun, yang lebih penting adalah konsistensi arus dana asing tersebut dalam beberapa pekan ke depan,” imbuhnya.

Jika stabilitas makro terjaga, rupiah stabil, dan kinerja emiten membaik, IHSG berpeluang bergerak menuju kisaran 6.700-6.900 hingga akhir tahun, bahkan berpotensi menguji level 7.000.

Di tengah kondisi tersebut, investor disarankan tetap selektif dalam memilih sektor dan saham.

Hendra menilai sektor perbankan masih menjadi pilihan utama karena fundamental yang kuat dan likuiditas tinggi. Selain itu, sektor telekomunikasi dan komoditas juga menarik untuk dicermati.

“Sektor infrastruktur juga berpotensi memperoleh sentimen positif jika realisasi belanja pemerintah meningkat pada semester kedua,” katanya.

Dari sisi valuasi, ia menilai pasar saham Indonesia masih tergolong menarik.

“Dengan price to earnings ratio (PER) IHSG di bawah 9 kali, valuasi pasar relatif murah dibandingkan historis maupun regional,” ujarnya.

Meski demikian, investor tetap disarankan melakukan diversifikasi, termasuk ke instrumen obligasi yang menawarkan imbal hasil menarik.

Untuk rekomendasi saham, Hendra menyarankan sejumlah saham unggulan.

Di antaranya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan target harga Rp 4.710, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target Rp 6.850, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan target Rp 3.130, serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan target Rp 3.030 per saham.

Secara keseluruhan, strategi yang disarankan adalah buy on weakness atau akumulasi bertahap saat terjadi koreksi.

“Selama stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga dan arus modal asing membaik, peluang pemulihan IHSG hingga akhir tahun masih terbuka,” tutupnya.

Advertisements

Also Read

Tags