KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham global tengah diliputi tekanan akibat kombinasi sentimen negatif dari sektor teknologi dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Di tengah tekanan global tersebut, nilai tukar rupiah justru mampu menguat pada akhir pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar Amerika Serikat yang dipicu meningkatnya tensi geopolitik.
Praktisi Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana Hans Kwee mengatakan, ketahanan rupiah ditopang oleh faktor domestik yang solid.
“Penguatan rupiah didukung oleh sentimen domestik yang positif, terutama setelah Bank Indonesia merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang menunjukkan aktivitas usaha meningkat pada kuartal II-2026,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (19/7/2026).
Diversifikasi Bisnis, Darma Henwa (DEWA) Dirikan Tiga Anak Usaha Baru
Selain itu, keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil juga turut meningkatkan kepercayaan investor.
Di sisi lain, pasar saham domestik menunjukkan kinerja yang relatif lebih kuat dibandingkan bursa global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatatkan penguatan signifikan di tengah tekanan global, didukung oleh aksi beli bersih (net buy) investor asing.
“Hari sebelumnya, IHSG ditopang oleh net buy asing sekitar Rp1,2 triliun dengan nilai transaksi mencapai Rp13,2 triliun,” jelas Hans.
Menurutnya, penguatan ini menjadi sinyal awal pembalikan arah setelah pasar sempat mengalami tekanan akibat arus keluar dana asing dalam beberapa waktu terakhir.
Sentimen positif di pasar saham domestik juga didorong oleh reformasi yang dilakukan otoritas pasar modal.
Saham Disuspensi Sejak 2019, Trikomsel (TRIO) Siapkan Strategi Pulihkan Kinerja
Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penyempurnaan metodologi Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi (HSC) dengan menambahkan indikator dampak harga (price impact).
“Langkah ini meningkatkan jumlah saham kategori HSC menjadi 51 emiten dan menjawab kekhawatiran transparansi yang sebelumnya disoroti MSCI,” ungkapnya.
Hans menilai, reformasi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi pasar modal Indonesia, terutama menjelang review indeks MSCI pada November mendatang.




