Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mulai ada tanda-tanda pulih hingga tercatat naik 1,65% dalam sebulan terakhir. Namun, pulihnya IHSG masih menyisakan pertanyaan: apakah ini merupakan awal dari rebound yang akan terus berlanjut atau justru sekadar bull trap sebelum IHSG kembali terkoreksi?
Senior Technical Analyst Mirae Asset Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai tren jangka panjang IHSG masih berada dalam fase secular uptrend. Berdasarkan grafik bulanan, garis tren naik IHSG sebelumnya telah menyentuh di level 5.318.
Menurutnya, IHSG masih ada peluang besar untuk mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) dengan target jangka panjang di level 10.581. Hal itu lantaran berdasarkan pola historis IHSG terus membentuk higher high.
Di sisi valuasi, Nafan menilai IHSG juga masih tergolong undervalued, dengan rasio price-to-earnings (P/E) sebesar 9,10 kali. Level tersebut relatif rendah dibandingkan sejumlah negara berkembang maupun negara maju.
Baca juga:
- Komisaris Serok 3,14 Juta Saham AMMN, Nilai Tembus Rp 12,26 Miliar
- Di Inggris, Berang-Berang Direkrut Jadi Insinyur untuk Proyek Restorasi Alam
- Prospek Saham TLKM Usai Dikabarkan Jual 70% NeutraDC, Bagaimana KInerjanya?
Dalam skenario bullish dengan target realistis, Nafan memperkirakan IHSG pada 2026 berpotensi menguji level 6.666 pada skenario “wave C”. Sementara itu, dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang mencapai level 7.320 atau target “wave 3”.
“Sementara berdasarkan skenario pesimis, IHSG diperkirakan akan menguji ‘wave C/2’ di 5.486 sebagai target 2026,” tulis Nafan dalam analisisnya, dikutip Senin (20/7).
Lebih lanjut, berdasarkan Bloomberg Heat Map, Nafan menyebut IHSG secara historis selalu berada di zona bullish pada periode Juli hingga Agustus dalam enam tahun terakhir.
Mengapa IHSG Mulai Rebound?
Nafan melihat beberapa katalis mulai membaik. Mulai dari sentimen global menjadi lebih kondusif, terutama setelah inflasi Amerika Serikat (AS) melandai dan ekspektasi suku bunga The Federal Reserve (The Fed) lebih stabil.
Indonesia juga memperoleh angin segar setelah S&P Global Ratings mempertahankan sovereign rating Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil. Hal ini membantu memperbaiki persepsi risiko investor global.
Selain itu, Nafan juga mengatakan sejumlah harga komoditas strategis relatif bertahan sehingga menopang prospek emiten berbasis sumber daya alam. Valuasi IHSG maupun banyak saham blue chip juga telah kembali berada pada level yang lebih menarik, yakni di bawah rata-rata historis lima hingga 10 tahun.
Meski begitu, masih ada tantangan struktural masih membayangi pasar RI. Arus dana asing masih belum sepenuhnya balik, sementara isu MSCI, transparansi pasar, dan likuiditas masih menjadi perhatian investor asing. Rupiah juga masih sensitif terhadap dinamika global, sedangkan ketidakpastian fiskal tetap menjadi faktor yang terus dipantau investor internasional.
Real Rebound atau Bull Trap?
Real Rebound
Bull Trap
Higher High mulai terbentuk
IHSG naik cepat, tetapi volume mengecil
Higher Low tetap terjaga
Penguatan hanya didorong saham tertentu
Volume meningkat saat kenaikan
Foreign flow tetap keluar
Leadership berpindah ke saham berkapitalisasi pasar besar
Resistance utama gagal ditembus
Foreign flow mulai berbalik menjadi net buy
Setelah euforia singkat, indeks kembali mencetak lower low
Jika terjadi secara konsisten, peluang perubahan tren menjadi lebih besar
Investor yang membeli terlalu agresif berpotensi terjebak pada harga tinggi
Sumber: Mirae Asset Indonesia
Faktor Pendorong dan Tantangan IHSG pada Semester II 2026
Di samping itu, Nafan mengatakan arah pergerakan IHSG pada semester kedua 2026 diperkirakan akan dipengaruhi oleh sejumlah katalis kunci.
Pertama, kejelasan status dan reformasi transparansi MSCI. Sentimen terkait interim freeze MSCI atas isu transparansi data kepemilikan akhir (Ultimate Beneficial Owner/UBO) dan batas free float sempat menekan pasar pada paruh pertama tahun ini.
Langkah emiten besar, terutama di sektor perbankan dan telekomunikasi, untuk memperjelas struktur kepemilikan hingga respons cepat regulator dalam meningkatkan standar keterbukaan informasi akan menjadi stimulus utama bagi rebound IHSG.
Kedua, realisasi stimulus fiskal dan pertumbuhan domestik. Akselerasi belanja pemerintah dan kelanjutan proyek hilirisasi industri berskala besar diharapkan mulai membuahkan hasil pada kuartal III dan IV. Indikator domestik yang solid, seperti pertumbuhan PDB di kisaran 5% dan perbaikan penjualan ritel, berpotensi memicu titik balik kinerja laba bersih emiten.
Ketiga, valuasi saham unggulan atau big caps yang atraktif. Nafan menyebut setelah mengalami aksi jual cukup masif pada paruh pertama tahun ini. Lalu valuasi saham-saham blue chip, khususnya di sektor perbankan yang memiliki bobot terbesar terhadap indeks serta sektor komoditas, kini sudah relatif murah secara historis.
“Menjadikan sektor tersebut target akumulasi yang menarik bagi investor berorientasi jangka panjang,” ucap Nafan.
Di sisi lain, Nafan menilai pelaku pasar perlu mewaspadai sejumlah risiko yang dapat menahan pemulihan IHSG pada semester kedua 2026. Mulai dari tekanan fiskal, risiko geopolitik dan kenaikan harga minyak, arah suku bunga global, hingga tren IPO yang masih selektif.
“Hal ini membuat pilihan instrumen baru bagi investor menjadi lebih terbatas di paruh kedua,” kata Nafan.
Lebih jauh, Nafan menyebut tren penurunan IHSG telah membuat valuasi sejumlah saham menjadi sangat murah. Meski begitu, investor domestik direkomendasikan untuk menerapkan strategi akumulasi secara bertahap dengan pendekatan defensif dan selektif, bukan langsung masuk agresif.
Menurutnya, pasar masih berada dalam proses mencari titik dasar (bottoming out). Alhasil jika investor membeli secara agresif di tengah volatilitas rupiah dan tekanan jual asing masih berisiko.
Investor dapat menerapkan strategi buy on weakness secara bertahap pada saham-saham berkapitalisasi besar yang telah berada di area oversold. Terutama saat muncul sinyal pembalikan arah jangka pendek.
“Manfaatkan domestic capital untuk menyerap pasokan saham dari asing pada harga diskon, dengan catatan horizon investasi adalah jangka menengah-panjang,” ujar Nafan.
Mirae Asset Sekuritas merangkum sederet saham IDX80 dengan kategori valuasi unik:
Kode Saham
Nama Emiten
PE Ratio (x)
PBV Ratio (x)
Kategori Valuasi
AADI
Adaro Andalan Indonesia
5.8 – 6.8
1.1 – 1.3
Value (New Entry)
ADRO
Adaro Energy Indonesia
7.5 – 10.0
0.8 – 1.0
Undervalued
ASII
Astra International
7.5 – 10.0
0.8 – 1.0
Value Investing
AUTO
Astra Otoparts
5.2 – 6.2
0.7 – 0.8
Deep Value
BBNI
Bank Negara Indonesia
5.0 – 7.0
0.6 – 0.9
Fair Value
BBTN
Bank Tabungan Negara
3.5 – 4.5
0.4 – 0.6
Deep Value
BMRI
Bank Mandiri
5.0 – 8.0
1.0 – 1.4
Blue Chip Standard
BBRI
Bank Rakyat Indonesia
5.0 – 8.0
1.0 – 1.4
Blue Chip Standard
BBCA
Bank Central Asia
10.0 – 13.0
2.1 – 2.9
Blue Chip Standard
CPIN
Charoen Pokphand
5.0 – 7.0
1.2 – 1.6
Growth Premium
ICBP
Indofood CBP
5.0 – 10.0
1.2 – 1.6
Quality Growth
INDF
Indofood Sukses Makmur
5.0 – 7.0
0.8 – 1.0
Undervalued
INKP
Indah Kiat Pulp & Paper
2.5 – 5.0
0.1 – 0.5
Asset Play
ITMG
Indo Tambangraya Megah
5.0 – 10.0
0.5 – 1.0
Cash Cow (Dividen)
JPFA
Japfa Comfeed
2.5 – 5.0
1.1 – 1.3
Fair Value
PGAS
Perusahaan Gas Negara
5.0 – 7.5
0.7 – 0.9
Undervalued
PGEO
Pertamina Geothermal
10.0 – 15.0
0.9 – 1.9
ESG Growth
BSDE
Bumi Serpong Damai
4.0 – 5.0
0.2 – 0.5
Asset Play
CTRA
Ciputra Development
5.0 – 7.5
0.3 – -.6
Fair Value
SMRA
Summarecon Agung
5.0 – 7.5
0.3 – 0.6
Fair Value
Kemudian, Nafan juga mengidentifikasi sejumlah saham yang berpotensi naik, yakni PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), hingga PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Kemudian PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).




