KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) tengah menyiapkan aksi korporasi berskala jumbo melalui penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Aksi ini menjadi bagian dari rencana transformasi bisnis perusahaan dengan masuk ke sektor pertambangan batu bara kokas (coking coal).
Dalam keterbukaan informasi, FORU berencana menerbitkan maksimal 215,09 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp 126 per saham.
Dus, apabila seluruh saham hasil right issue terserap, maka FORU berpotensi memperoleh dana sekitar Rp 27,1 triliun dari aksi rights issue tersebut. Jumlah saham baru itu setara dengan sekitar 99,78% dari modal ditempatkan dan disetor penuh FORU setelah pelaksanaan PMHMETD I.
Sekretaris Perusahaan FORU, Hadi Pranggono mengatakan, setiap pemegang 100 saham lama akan memperoleh hak atas 46.235 HMETD. Setiap satu HMETD dapat digunakan untuk membeli satu saham baru dengan harga Rp 126 per saham.
COCO Kantongi Restu Right Issue, Siapkan Terbitkan 10,67 Miliar Saham Baru
Pemegang saham pengendali FORU, IMR Asia Holding Pte Ltd (IMR AH), akan mengambil sebagian besar hak yang menjadi porsinya. Dari sekitar 165,22 miliar HMETD yang diperoleh, IMR AH akan mengeksekusi sekitar 165,22 miliar HMETD dengan nilai sekitar Rp 20,82 triliun.
Setoran modal IMR AH tidak dilakukan menggunakan dana tunai. Pemegang saham pengendali tersebut akan menyetorkan saham miliknya di PT Borneo Prima (BP) melalui mekanisme penyertaan modal dalam bentuk selain uang atau inbreng.
Aset yang disetorkan berupa 10.780 saham seri A Borneo Prima yang mewakili 49% kepemilikan saham perusahaan tambang tersebut. Dengan begitu, aksi korporasi FORU sekaligus menjadi pintu masuk bagi bisnis Borneo Prima ke dalam struktur usaha FORU.
Adapun dana tersebut nantinya akan diberikan FORU kepada Borneo Prima dalam bentuk pinjaman.
Hadi menyebut langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perubahan kegiatan usaha menjadi perusahaan holding yang berfokus pada pengembangan bisnis pertambangan batu bara.
“Rencana inbreng merupakan langkah strategis yang akan perserioan ambil seiring dengan perubahan kegiatan usaha perusahaan menjadi perusahaan induk untuk pengembangan usaha pertambangan batu bara,” kata Hadi dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).
Perkuat Modal, Pemegang Saham Multi Makmur (PIPA) Sepakati Rencana Right Issue
Masuknya Borneo Prima bakal mengubah skala bisnis FORU secara material. Berdasarkan perhitungan proforma, pendapatan usaha perseroan meningkat dari sekitar Rp 5,41 miliar menjadi Rp 195,66 miliar setelah konsolidasi dengan Borneo Prima. Ekuitas FORU juga diproyeksikan melonjak dari sekitar Rp 19,23 miliar menjadi Rp 7,15 triliun.
Sementara itu, laba bersih periode berjalan sebelum dampak penyesuaian proforma yang sebelumnya mencatatkan rugi sekitar Rp 4,15 miliar berubah menjadi laba sekitar Rp 11,94 miliar setelah rencana transaksi dan konsolidasi Borneo Prima.
Di luar setoran modal melalui inbreng, bagian rights issue yang berasal dari pemegang saham publik akan disetorkan dalam bentuk tunai. Nilainya diperkirakan mencapai maksimal Rp 6,28 triliun.
Di samping itu, FORU juga bakal meminta restu kepada para pemegang saham terkait aksi korporasi tersebut dalam agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar Rabu (22/7/2026).
Logisticplus (LOPI) akan Right Issue dan Private Placement untuk Tambah Modal Usaha




