BANYU POS JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan saldo kas dan setara kas yang jumbo hingga akhir semester I-2026.
Besarnya likuiditas tersebut dinilai dapat menjadi bantalan menghadapi ketidakpastian ekonomi, meski belum tentu mencerminkan fundamental perusahaan yang kuat.
IHSG Berpotensi Konsolidasi pada Jumat (31/7), Cermati Kata Analis
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), misalnya, membukukan kas dan setara kas sebesar Rp 23,46 triliun per 30 Juni 2026.
Nilai tersebut meningkat 34,7% dibandingkan posisi Rp 17,42 triliun pada periode yang sama tahun lalu dan naik dari Rp 21,75 triliun pada awal tahun.
Kenaikan kas GOTO ditopang oleh arus kas bersih dari aktivitas operasi yang berbalik positif menjadi Rp 1,72 triliun pada semester I-2026. Pada periode yang sama tahun lalu, arus kas operasional GOTO masih tercatat negatif Rp 612,05 miliar.
Sementara itu, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) memiliki kas dan setara kas sebesar Rp 14,24 triliun per akhir Juni 2026. Angka tersebut turun dibandingkan Rp 17,16 triliun pada periode yang sama tahun lalu maupun Rp 16,21 triliun pada awal 2026.
Adapun PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tercatat memiliki kas dan setara kas sebesar US$ 2,91 juta per 30 Juni 2026, naik 8,82% dari posisi 30 Juni 2025. Angka itu juga naik dari sebelumnya US$ 2,73 juta di awal tahun 2026.
Kecemasan Geopolitik dan Isu BI Tekan Rupiah, Cek Proyeksi Jumat (31/7)
Kenaikan tersebut disebabkan arus kas operasi yang berbalik positif menjadi US$ 9,61 juta. Selain itu penerimaan kas dari pelanggan naik menjadi US$ 5,185 miliar per kuartal II 2026, dari US$ 3,242 miliar pada periode sama tahun lalu.
Direktur Infovesta Utama, Parto Kawito, mengatakan kebutuhan kas perusahaan cenderung meningkat ketika kondisi ekonomi dipenuhi ketidakpastian.
Menurutnya, persaingan bisnis yang semakin ketat membuat perusahaan membutuhkan dana lebih besar untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, investasi teknologi, hingga riset dan pengembangan.
Namun, Parto mengingatkan bahwa besarnya kas tidak otomatis mencerminkan fundamental perusahaan yang sehat.
“Besarnya arus kas tidak menjamin kondisi fundamental perusahaan yang baik. Realisasi hasil ekspansi yang didanai kas tersebut harus mampu menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi daripada biaya modal,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (30/7/2026).
Simak Prospek Emiten BUMN20 Pasca Evaluasi Indeks
Ia menambahkan, sumber kas perusahaan dapat berasal dari aktivitas operasional (cash flow from operations/CFO), aktivitas pendanaan (cash flow from financing/CFF), maupun aktivitas investasi (cash flow from investing/CFI).
Menurut Parto, arus kas operasional yang positif merupakan sinyal terbaik karena berasal dari kegiatan usaha inti perusahaan.
Sementara itu, arus kas dari pendanaan maupun investasi tetap dapat diterima sepanjang digunakan secara produktif.
Senada, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengatakan investor tidak cukup hanya melihat besarnya saldo kas, tetapi juga perlu mencermati sumber pembentukan kas dan bagaimana perusahaan memanfaatkannya untuk menciptakan nilai tambah.
Ia menilai, peningkatan kas TPIA lebih mencerminkan kebutuhan likuiditas untuk mendukung ekspansi usaha.
Sementara itu, kas GOTO dan BUKA masih banyak ditopang oleh sisa dana penawaran umum perdana saham (IPO), hasil investasi kas, serta efisiensi operasional.
El Nino Bikin Haus Pasar AMDK, Tapi Analis Ingatkan Laba Emiten Belum Ikut Tumbuh
Di sisi lain, arus kas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) lebih banyak berasal dari aktivitas operasional bisnis.
“Yang lebih penting bukan besarnya saldo kas, melainkan kemampuan perusahaan mengubah kas tersebut menjadi pertumbuhan laba, arus kas operasional yang sehat, dan nilai tambah bagi pemegang saham,” ujar Elandry.
Dari sisi prospek, Elandry menilai masing-masing emiten memiliki katalis yang berbeda.
TPIA masih memiliki peluang pertumbuhan dari ekspansi, meski dihadapkan pada tingginya belanja modal.
GOTO berpotensi memperoleh sentimen positif apabila mampu mempertahankan tren profitabilitas dan arus kas operasional yang membaik.
Sementara itu, BUKA masih memiliki likuiditas yang kuat, namun pasar menantikan katalis pertumbuhan yang lebih jelas.
Adapun DSSA dinilai sebagai emiten dengan fundamental paling solid, sedangkan BSDE berpeluang diuntungkan apabila sektor properti pulih seiring potensi penurunan suku bunga.
GOTO Berhasil Mencetak Laba Dua Kuartal Beruntun, Simak Prospek Sahamnya
Menurut Elandry, hingga akhir 2026 sentimen positif bagi emiten-emiten tersebut masih berasal dari peluang penurunan suku bunga dan membaiknya aktivitas ekonomi.
Di sisi lain, risiko perlambatan ekonomi global, volatilitas nilai tukar, dan ketidakpastian geopolitik tetap perlu dicermati.
“DSSA masih menjadi yang paling unggul dari sisi fundamental hingga akhir 2026, sedangkan GOTO menarik dicermati sebagai cerita turnaround apabila tren kinerjanya berlanjut,” pungkasnya.




