Jakarta, IDN Times – Pasar saham Korea Selatan (Korsel) mengalami guncangan hebat sepanjang bulan lalu usai nilai kapitalisasi pasarnya merosot hingga 2,18 triliun dolar AS (sekitar Rp39,31 kuadriliun). Indeks acuan KOSPI sempat terperosok hingga 12,6 persen sebelum ditutup melemah 6 persen, memangkas hampir 40 persen nilainya dari rekor tertinggi akibat surutnya gairah investor pada saham chip berbasis akal imitasi (AI).
Namun, bursa Korsel secara mengejutkan berbalik melesat tajam pada Jumat (31/7/2026). Indeks KOSPI melonjak 14 persen sekaligus mencetak rekor kenaikan harian terbesar sepanjang sejarah berkat pemulihan drastis saham SK Hynix dan Samsung Electronics.
“Pasar saham Korea telah diperdagangkan seolah-olah memiliki gangguan bipolar, berayun dari panik ke euforia hampir dalam semalam,” kata Jung In Yun dari Fibonacci Asset Management, dikutip CNBC.
Ia menambahkan, lonjakan tersebut tampak seperti pembalikan arah secara mendadak dari aksi jual masif yang sebelumnya sangat padat.
1. Sentimen positif saham teknologi AS jadi pemicu utama
Aksi balik arah ini tersulut oleh penguatan saham teknologi Amerika Serikat (AS) setelah laporan keuangan Microsoft, Amazon, dan Meta memicu optimisme akan keberlanjutan investasi infrastruktur AI. Kepercayaan pasar juga kian terdongkrak oleh langkah Ketua SK Group, Chey Tae-won, yang memborong saham SK Hynix.
Jung menjelaskan, investor asing menjadi penggerak utama aksi beli ini, sementara penutupan posisi short dan rebalansing otomatis dana exchange-traded fund (ETF) berleverasi makin memperkuat reli. Selain itu, implementasi aturan modal deposit tunai baru bagi investor ETF berleverasi per 31 Juli 2026 turut mendorong reposisi portofolio.
Meski begitu, Jung mengingatkan bahwa lonjakan sebesar ini kemungkinan besar tidak akan berulang dalam tempo singkat. Namun, peluang pemulihan lanjutan tetap ada mengingat posisi pasar sudah sangat jenuh jual (bearish) dan fundamental chip memori AI SK Hynix masih kokoh, dengan ujian utama berada pada konsistensi arus modal asing setelah aksi short-covering mereda.
2. Analis waspadai tingginya volatilitas pasar
Analis semikonduktor dari Futurum Group, Rolf Bulk menilai, kenaikan tajam ini mencerminkan tingginya keyakinan investor bahwa siklus investasi AI masih sangat solid. Menurut Bulk, meski volatilitas bursa Korsel mencapai level ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya, pembangunan infrastruktur AI sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda melambat.
Di sisi lain, keterikatan perdagangan AI global dengan penggunaan produk keuangan berleverasi tinggi membuat pergerakan pasar kian rentan. Berdasarkan laporan Al Jazeera, kejatuhan tajam sebelumnya murni dipicu kerugian besar investor pada saham-saham produsen chip yang sempat melonjak terlampau tinggi.
Kepala Strategi Ekuitas Asia Societe Generale di Hong Kong, Frank Benzimra, turut menyoroti besarnya risiko dari produk investasi berleverasi tersebut.
“Sangat sulit untuk mengatakan kapan aksi jual ini akan berakhir, tetapi saat ini, ini jelas bukan perdagangan yang ingin kita masuki,” ujar Benzimra.
3. Pemerintah Korsel siapkan benteng regulasi baru
Tingginya volatilitas akibat produk derivatif ini menuai kritik tajam dari para anggota parlemen Korsel. Menteri Keuangan Korsel, Koo Yun-cheol menyampaikan permohonan maaf atas izin penerbitan ETF berleverasi saham tunggal dan mengakui bahwa produk riskan tersebut kurang dipertimbangkan secara matang.
Otoritas Korsel kini bergerak cepat mengkaji berbagai opsi stabilisasi pasar, termasuk memperketat aturan main produk ETF berleverasi. Koo bersama Gubernur Bank of Korea dan pimpinan regulator keuangan bahkan menggelar rapat darurat guna merumuskan langkah stabilisasi secara intensif.
Kementerian Keuangan Korsel menegaskan pembatasan anyar akan segera diberlakukan demi meredam spekulasi berlebih. Aturan tersebut mencakup pembatasan nilai investasi individu maksimal 20 persen dari total portofolio, kenaikan biaya transaksi, kewajiban simulasi perdagangan, hingga penyiapan payung hukum untuk tindakan darurat saat bursa bergejolak.
5 Rahasia Korsel Sulap Krisis Ekonomi Jadi Ladang Cuan Industri Kreatif Starbucks Korsel Tutup Sementara 2.000 Gerai Usai Blunder Promosi Korsel Bidik Lokasi Pembangkit Nuklir Baru untuk Kebutuhan AI dan Chip




