PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mengumumkan perubahan pengendalinya. Emiten perbankan swasta raksasa itu kini memiliki pengendali tunggal.
Sebelumnya, pengendali BBCA dipegang oleh perusahaan holding investasi PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) yang dipimpin dua anggota keluarga Hartono yakni Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Namun, Sekretaris Perusahaan BCA, Rudy Budiartjo mengatakan, kini Budi Hartono menjadi pengendali BCA satu-satunya.
“Sehubungan dengan telah meninggal dunianya Alm Bambang Hartono, maka terdapat perubahan pemegang saham pengendali PT DIA menjadi Robert Budi Hartono,” tulis Rudy dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip pada Senin (3/8).
Adapun persentase kepemilikan saham Robert Budi Hartono di PT DIA tidak berubah yaitu 51% dari modal ditempatkan dan disetor PT DIA.
Baca juga:
- ETF Emas dan Era Baru Berburu Logam Mulia di Lantai Bursa
- XLSmart Ungguli Telkomsel dan Indosat, Internet Paling Ngebut Versi Opensignal
- Rupiah Menguat usai Trump Batalkan Serangan ke Iran
Michael Bambang Hartono lahir pada 1939. Ia adalah salah satu tokoh pengusaha terbesar dan terkaya di Indonesia. Ia dikenal sebagai pendiri dan pemimpin utama Grup Djarum, salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Bambang Hartono bersama saudaranya, Budi Hartono mulai membangun usaha keluarga yang awalnya bergerak di bidang perdagangan dan industri kecil.
Seiring waktu, mereka memfokuskan usaha mereka di industri rokok dan memperluas portofolio bisnisnya. Selain industri rokok, Bambang dan Djarum juga memperluas usaha ke bidang lain seperti perbankan, properti, dan teknologi. Beberapa gurita bisnis Djarum antara lain BCA, Polytron, mal Grand Indonesia, Blibli, Mola, Bakmi GM, hingga klub sepak bola Italia, Como.
Adapun hingga 31 Juli 2026, berdasarkan data kepemilikan saham hingga 1% yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia (BEI), pengendali utama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) PT Dwimuria Investama Andalan menggenggam 67,73 miliar saham atau setara 54,94% dari total saham perseroan.
Selain itu, PT Tricipta Mandhala Gumilang menggenggam dengan kepemilikan 1,31 miliar saham atau 1,07% dan PT Caturguwiratna Sumapala sebanyak 1,26 miliar saham atau 1,02%. Lalu, Anthoni Salim tercatat memiliki saham BBCA hingga 1,41 miliar saham atau 1,15%.
Kinerja BBCA hingga Semester I 2026
BCA mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 1.036 triliun hingga semester pertama 2026. Angka tersebut tumbuh 8% secara tahunan atau year on year (YoY). Capaian itu juga menjadi yang pertama kalinya portofolio kredit BCA menembus level Rp 1.000 triliun.
Pertumbuhan kredit didukung pendanaan yang solid. Dana giro dan tabungan (CASA) meningkat 10,2% YoY menjadi Rp 1.082 triliun. Sementara total dana pihak ketiga (DPK) naik 7,9% YoY menjadi Rp 1.284 triliun.
Porsi current account saving account (CASA) atau dana murah mencapai 84,3% dari total DPK, sehingga cost of fund tetap terjaga di level yang rendah. Adapun rasio loan at risk (LAR) sebesar 4,9% dan non-performing loan (NPL) sebesar 1,9%.
Di sisi profitabilitas, BCA bersama entitas anak membukukan laba bersih sebesar Rp 29,5 triliun hingga semester pertama 2026. Sementara itu, penyaluran pembiayaan hijau atau green financing tumbuh 19% YoY menjadi Rp 123 triliun.




