BANYU POS JAKARTA. PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dinilai menjadi salah satu emiten konsumer yang paling diuntungkan di tengah kembali melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MYOR dengan target harga Rp 2.500 per saham.
Willy dalam riset 31 Juli 2026 menyebut Mayora merupakan “consumer’s safe haven” karena memiliki eksposur bisnis global yang besar. Menurutnya, struktur pendapatan perusahaan ini yang lebih banyak terkait dolar AS dibandingkan biaya operasional membuat MYOR menjadi satu-satunya emiten sektor konsumer Indonesia yang berpotensi memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah.
Pendapatan BIRD Tumbuh 11,3% pada Semester I-2026, Ditopang Bisnis Taksi dan Shuttle
“Di tengah kembali terdepresiasinya rupiah terhadap dolar AS, bisnis global MYOR yang besar, dengan pendapatan yang lebih banyak terkait dolar AS dibandingkan biayanya, menempatkan perusahaan sebagai satu-satunya penerima manfaat di sektor konsumer Indonesia,” tulis Willy dalam riset.
Willy juga mengatakan tetap mempertahankan target harga MYOR di Rp 2.500 per saham, karena didasarkan pada valuasi price-to-earnings ratio (PER) 17,9 kali proyeksi laba 2026, sejalan dengan rata-rata historis tiga tahun terakhir. Proyeksi laba perseroan untuk periode 2026-2028 juga tidak mengalami perubahan karena kinerja semester pertama dinilai masih sesuai ekspektasi.
Hingga akhir 2026, menurut hitungan Willy Mayora berpotensi mengantongi pendapatan sebesar Rp 41,65 triliun dan laba bersih Rp 3,13 triliun. Sedangkan di 2027, pendapatan dan laba bersih MYOR mencapai Rp 45,85 triliun dan Rp 3,72 triliun.
Pada semester I 2026, laba inti Mayora mencapai Rp 1,5 triliun atau tumbuh 38% secara tahunan, setelah mengecualikan keuntungan selisih kurs sebesar Rp 309 miliar. Capaian tersebut setara dengan 49% proyeksi Maybank dan 45% estimasi konsensus untuk laba setahun penuh 2026, sehingga dinilai berada dalam jalur yang tepat.
Meski penjualan semester I 2026 hanya tumbuh 1% secara year on year (yoy) menjadi Rp 17,9 triliun, Maybank Sekuritas menilai perbaikan margin laba kotor menjadi katalis utama. Gross margin meningkat menjadi 25,7%, atau naik 450 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Willy, kemampuan Mayora meningkatkan margin di tengah kondisi inflasi berbagai komoditas bahan baku menjadi sinyal positif terhadap efektivitas strategi operasional perusahaan.
OJK: Kepercayaan Investor terhadap Pasar Modal Indonesia Mulai Pulih
Kinerja kuartal II 2026 juga menunjukkan perbaikan. Laba inti tercatat sebesar Rp603 miliar, naik 24% yoy, didorong oleh pemulihan pertumbuhan penjualan menjadi 7% yoy setelah sempat terkontraksi pada kuartal pertama. Selain itu, margin kotor tetap meningkat 450 basis poin, sementara beban keuangan turun 41% yoy.
Maybank juga menyoroti neraca keuangan Mayora yang kini berbalik menjadi posisi kas bersih (net cash) pada kuartal II 2026, memperkuat fleksibilitas keuangan perusahaan.
Ke depan, Maybank masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) MYOR dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 15,4% untuk periode 2025-2028. Perusahaan ini juga diperkirakan mampu membagikan dividend yield sekitar 3,3%-4,4%.
Adapun perlambatan pertumbuhan penjualan dinilai hanya bersifat sementara. Menurut Willy, Mayora sengaja menahan pengiriman produk (sell-in) kepada distributor luar negeri agar mereka dapat menurunkan tingkat persediaan.
Strategi tersebut diyakini akan mendorong perputaran stok yang lebih sehat sehingga pertumbuhan penjualan pada paruh kedua 2026 diperkirakan akan menguat sesuai ekspektasi Maybank.
Meski demikian, Willy mengingatkan bahwa risiko utama terhadap prospek MYOR adalah apabila pertumbuhan penjualan berjalan lebih lambat dari yang diperkirakan.




