Dolar AS melemah usai data tenaga kerja picu spekulasi The Fed tahan suku bunga

Hikma Lia

BANYU POS  JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sejumlah mata uang utama pada Jumat (7/8/2026) setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan yang tak terduga.

Advertisements

Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS yaitu The Federal Reserve (The Fed) akan menunda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi AS kehilangan 23.000 lapangan kerja pada Juli. Angka ini berbalik dari ekspektasi ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penambahan sekitar 80.000 pekerjaan.

Advertisements

Di saat yang sama, tingkat pengangguran turun menjadi 4,1%. Namun, penurunan itu terjadi bersamaan dengan anjloknya tingkat partisipasi angkatan kerja ke 61,4%, level terendah dalam hampir lima setengah tahun.

The Fed Tahan Suku Bunga di 3,50%–3,75%, Berikut Pernyataan Lengkapnya

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.

“Dolar turun terutama karena laporan ketenagakerjaan AS jauh lebih lemah dari perkiraan sehingga pasar mulai menggeser ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” ujar Thierry Wizman, Global FX and Rates Strategist Macquarie Group.

Pelemahan dolar paling terasa terhadap yen Jepang. Mata uang AS turun 0,52% ke level 157,62 yen, sekaligus menghapus sebagian penguatan yang sempat terjadi setelah intervensi bersama otoritas Jepang dan AS pada pekan lalu.

Terhadap euro, dolar juga kehilangan tenaga. Mata uang tunggal Eropa menguat 0,31% ke level US$ 1,1559.

Sementara itu, indeks dolar (Dollar Index/DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk euro dan yen, turun 0,46% ke level 99,49.

Lembaga Keuangan di Wall Street Prediksi The Fed Pangkas Suku Bunga Pertengahan 2026

Melemahnya data ketenagakerjaan juga mendorong pasar mengubah proyeksi kebijakan moneter The Fed.

Berdasarkan alat FedWatch CME, peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga pada pertemuan September meningkat menjadi sekitar 56%, naik dari 45% sehari sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut ikut menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor dua tahun, yang paling sensitif terhadap prospek suku bunga The Fed, turun 5,19 basis poin menjadi 4,193%. Adapun yield obligasi tenor 10 tahun turun 2,67 basis poin ke level 4,643%.

Pelemahan dolar turut mengangkat harga emas. Harga emas spot melonjak 2,28% menjadi US$ 4.336,09 per ons troi karena investor beralih ke aset lindung nilai di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi AS.

Advertisements

Also Read

Tags