BANYU POS – JAKARTA. Prospek reksadana saham diprediksi kembali menarik setelah pasar saham Indonesia berada dalam fase normalisasi setelah mengalami tekanan.
Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi Riawan mengatakan, prospek reksadana saham masih cukup menarik meskipun IHSG telah kembali ke area sekitar level 6.300.
Menurutnya, yang perlu diingat, pasar saat ini masih berada dalam fase normalisasi setelah mengalami tekanan yang cukup besar pada semester pertama. Dari sisi fundamental, pertumbuhan ekonomi domestik masih relatif terjaga, inflasi masih terkendali, dan valuasi sebagian saham juga masih lebih menarik dibandingkan posisi awal tahun.
“Namun kami memperkirakan pola pergerakan pasar ke depan akan lebih selektif dibanding reli yang terjadi pada Juli lalu,” ujar Reza kepada Kontan, Jumat (7/8/2026).
IHSG Naik 1,03% Hari Ini (7/8), Simak Reviewnya Sepekan
Hernandi Wisnu Wardhana, Portfolio Manager Samuel Aset Manajemen mengatakan, meredanya tensi di Timur Tengah dan kinerja emiten kuartal II 2026 yang cukup baik menjadi dua faktor awal terciptanya sentimen yang positif.
Di sisi lain, data makro domestik dan pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan angka yang solid. Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 tercatat 5,29%, sementara inflasi Juli melandai ke 2,88% secara tahunan dari 3,34% pada Juni 2026.
“Inflasi yang lebih terkendali memberi ruang bagi kebijakan moneter untuk tidak perlu melakukan pengetatan lebih lanjut,” ucap Hernandi.
Hernandi bilang, dari sisi posisi investor, tekanan jual asing sepanjang tahun ini sudah cukup dalam sehingga eksposur investor global terhadap Indonesia relatif rendah. Basis yang rendah membuat setiap perbaikan sentimen berpotensi memberi dampak yang cukup terasa pada indeks.
Setelah koreksi pasar pada semester pertama tahun ini, valuasi pasar saham telah berada pada level yang secara historis terbilang atraktif.
“Dukungan kebijakan turut membantu. Bank Indonesia menempuh sejumlah kebijakan insentif untuk mendorong aliran masuk investasi portofolio sekaligus menjaga stabilitas rupiah, sementara pemerintah menyiapkan beberapa insentif di sektor riil,” kata Hernandi.
Hernandi menjelaskan terdapat empat hal utama yang perlu dicermati terkait kinerja reksadana saham hingga akhir tahun. Pertama, review MSCI pada November 2026. Pada review Juni lalu Indonesia dipertahankan di kelompok emerging market, namun masa pengawasannya diperpanjang.
Yang Samuel Aset Manajemen cermati adalah eksekusi reformasi yang menjadi dasar penilaian. Antara lain seperti keterbukaan pemegang saham di atas 1%, kerangka High Shareholding Concentration, dan peta jalan free float minimum 15%.
“Perlu dicatat pula bahwa FTSE Russell masih mempertahankan Indonesia sebagai secondary emerging market, sehingga penilaian pasar tidak sepenuhnya bergantung pada satu penyedia indeks,” terang Hernandi.
IHSG Melesat ke 6.409, Waspadai Volatilitas Rebalancing MSCI & FTSE
Kedua, arah kebijakan moneter domestik. BI rate saat ini berada di 5,75% setelah kenaikan bertahap sejak Mei. Samuel Aset Manajemen memperhatikan kesinambungan arah kebijakan dan konsistensi komunikasi bank sentral, terutama ketika inflasi mulai melandai sementara stabilitas rupiah tetap perlu dijaga.
Ketiga, faktor global. Arah suku bunga The Fed dan pergerakan indeks dolar AS tetap menjadi variabel utama bagi aliran dana asing. Di luar itu, kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap produk ekspor Indonesia serta arah permintaan dari Tiongkok akan memengaruhi harga komoditas.
“Keempat, dari sisi emiten. Laporan keuangan kuartalan dan revisi target emiten akan menjadi fokus pasar ke depannya,” tutur Hernandi.




